Karya 43 Pelukis Bali Lintas Generasi Dipamerkan dalam Kawitan

Kompas.com - 16/05/2019, 03:00 WIB
Pameran lukisan Kawitan di Bentara Budaya Bali diselenggarakan untuk umum pada 18-28 Mei 2019. Dok Bentara BudayaPameran lukisan Kawitan di Bentara Budaya Bali diselenggarakan untuk umum pada 18-28 Mei 2019.
Penulis Ati Kamil
|
Editor Ati Kamil

JAKARTA, KOMPAS.com -- Jika Anda tertarik untuk mengikuti perjalanan seni lukis ragam tradisional atau klasik Bali, simaklah Kawitan (asal usul) di Bentara Budaya Bali (BBB).

Pameran lukisan karya 43 pelukis Bali lintas generasi tersebut akan dibuka pada Jumat, 17 Mei 2019, pukul 18.30 WITA, dan akan disuguhkan untuk umum pada 18-28 Mei 2019, pukul 10.00-18.00 WITA.

Pelukis yang tertua dalam pameran itu adalah I Wayan Tohjiwa (lahir 1916) dan yang termuda adalah I Gde Ngurah Panjo (lahir 1986).

Baca juga: Bisma SM*SH: Saya Ingin Punya Pameran Lukisan Sendiri

Yang akan dipamerkan dalam Kawitan merupakan lukisan-lukisan dengan tema yang beragam.

Pameran itu juga mencerminkan dinamika seni lukis sebelum, ketika, dan sesudah era Pita Maha.

Pita Maha merupakan perkumpulan pelukis Bali yang didirikan pada 29 Januari 1936 oleh Tjokorda Gde Agung Sukawati (Raja Ubud), Walter Spies (pelukis dari Jerman), dan Rudolf Bonnet (pelukis asal Belanda).

Baca juga: Jajang C Noer: Lukisan pada Pelepah Pisang Jun Sakata Beri Ketenangan

Melalui tema-tema, antara lain, pasar, tari, dan upacara, terbaca gaya, teknik, dan ekspresi pribadi pada karya-karya mereka.

Contohnya, karya-karya I Wayan Tohjiwa berjudul "Pasar Tradisional", Ida Bagus Made Nadera (lahir 1918) "Mebat (Ngelawar)", I Nyoman Manggih (lahir 1941) "Sabung Ayam", I Wayan Rapet (lahir 1941)  "Cremation", Made Batuan (lahir 1941) "Dewa Yadnya", Pande Ketut Dolik (lahir 1955) "Melasti", dan I Wayan Bendi (lahir 1950) "Sebuah Perubahan".

Contoh lainnya, karya-karya Made Rasna (lahir 1964) berjudul "Tari Topeng", I Ketut Sadia (lahir 1966) berjudul "Tari Kecak“, dan I Gusti Ayu Natih Arimini (lahir 1976) berjudul "Upacara di Bali".

Baca juga: Kartun Ber(b)isik Dihadirkan di Bentara Budaya Bali

Ada pula ragam-ragam ikonik khas Bali, antara lain sosok perempuan, petopengan, dan tokoh wiracarita.

Contohnya, karya-karya  Dewa Putu Mokoh (lahir 1936) berjudul "Good Sleep", I Wayan Djujul (lahir 1942) berjudul "Jauk", I Ketut Madri (lahir 1943) "Jatayu Pralaya", I Ketut Ginarsa (lahir 1951) "Dewi Saraswati", dan Ida Bagus Sena (1966) "Lahirnya Boma".

Sementara itu, para pelukis generasi muda Bali diwakili oleh I Made Sunarta (lahir 1980), I Nyoman Winaya (lahir 1983), I Wayan Wijaya (lahir 1984), I Wayan Suardika (lahir 1984), I Made Warjana (lahir 1985), dan I Gde Ngurah Panji (lahir 1986).



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X