Sutradara Fajar Nugros Beri Saran agar Ibu Kota Pindah ke Purwakarta

Kompas.com - 17/05/2019, 21:26 WIB
Fajar Nugros sutradara film Jakarta Undercover saat berpose di  Gedung Kompas Gramedia, Palmerah Selatan, Jakarta, Selasa (31/1/2017). KOMPAS.com/ANDREAS LUKAS ALTOBELI Fajar Nugros sutradara film Jakarta Undercover saat berpose di Gedung Kompas Gramedia, Palmerah Selatan, Jakarta, Selasa (31/1/2017).

JAKARTA, KOMPAS.com - Wacana pemindahan Ibu Kota ke luar Pulau Jawa oleh pemerintah menyedot banyak perhatian dari berbagai kalangan, termasuk sutradara Fajar Nugros.

Pria berusia 39 tahun ini berpendapat, Indonesia seharusnya sejak awal sudah memisahkan pusat pemerintahan dengan pusat ekonomi, tidak seperti saat ini.

Hal itu ia nyatakan saat ditemui dalam jumpa pers di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, Rabu (15/5/2019).

Berkait kota yang pas untuk dijadikan ibu kota baru, Fajar sempat tertarik dengan Bali.

"Supaya tidak Jakarta sentris. Pindah ke Bali kalau bagus ha-ha-ha. Biar semakin dikenal dunia. Denpasar ibu kota Indonesia," ucap Fajar.

Akan tetapi, jika dilihat dari segi kesiapan infrastruktur, sutradara film Jakarta Undercover (2016) ini memilih kota Purwakarta, Jawa Barat, sebagai pilihan untuk menggantikan Jakarta.

"Enggak sih. Usulan saya sebenarnya Purwakarta. Karena dekat ada jalan tol, ada jalur kereta. Sudah jauh dari Jakarta," ungkapnya.

Baca juga: Viu Rilis Rewrite, Serial Perdana Ramadhan Kolaborasi dengan Fajar Nugros

Berkait proyek pemindahan ibu kota ke luar Pulau Jawa, sutradara asal Yogyakarta ini setuju. Ia merasa asas keadilan dan pemerataan pembangunan ekonomi dan lainnya harus diwujudkan.

"Dari dulu pusat ekonomi di Jakarta, pusat pemerintahan di Jakarta. Apakah itu (pemindahan ibu kota) bisa dilakukan secara bertahap atau langsung bareng-bareng apa enggak. Kalau tidak bertahap pasti budget besar. Jadi pasti bertahap dan harus dipikirkan banget pindahnya ke mana dan efeknya apa secara sosiografis. Kalau pindah lalu enggak berefek buat kemajuan Indonesia percuma," tuturnya.

"Aku pikir apa itu (pemindahan ibu kota) mendesak sekarang atau tidak, kita juga enggak tahu. Kalau menurutku pindah bukan karena Jakarta sudah tidak bisa melayani sebagai ibu kota tapi sebaiknya pindah karena menerapkan azas keadilan, sepertinya dia (ibu kota) harus di tengah," imbuhnya.

Untuk diketahui, pemerintah kembali mendorong wacana pemindahan ibu kota ke luar Pulau Jawa, beberapa waktu terakhir.

Wacana pemindahan ibu kota sendiri pernah dilontarkan oleh Presiden Sukarno, Suharto, SBY hingga Jokowi.

Pemindahan itu telah melalui proses kajian beberapa tahun. Terdapat dua lokasi yang menjadi kandidat dari ibu kota baru, yaitu kawasan Bukit Soeharto, Kabupaten Kutai Kartanegara di Kalimantan Timur dan di wilayah Kabupaten Gunung Mas di Kalimantan Tengah.




Close Ads X