Blak-blakan Marshanda dan Ariel Tatum Berjuang dengan Gangguan Mental

Kompas.com - 21/10/2019, 10:00 WIB
Artis peran Marshanda (kiri) dan Ariel Tatum (kanan). KOMPAS.com/DIAN REINIS KUMAMPUNG, KOMPAS.com/TRI SUSANTOArtis peran Marshanda (kiri) dan Ariel Tatum (kanan).
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Bukan perkara mudah bagi seseorang untuk terbuka mengakui memiliki gangguan mental.

Pasalnya, orang yang memiliki gangguan mental di Indonesia masih kerap mendapatkan stigma buruk dari masyarakat.

Oleh karenanya, banyak dari mereka memilih diam dan berjuang sendiri untuk sembuh.

Alhasil bukannya sembuh, dalam berbagai kasus, sikap tertutup tersebut justru membuat kondisi mereka menjadi lebih buruk.

Baca juga: Perjuangan Marshanda Melawan Bipolar dan Stigma Buruk Masyarakat

Namun tak demikian dengan artis Marshanda dan Ariel Tatum. Keduanya memilih terbuka dan menceritakan perjuangannya melawan gangguan mental kepada masyarakat.

Tujuannya, agar para pengidap gangguan mental lain mengikuti jejak mereka untuk terbuka  sehingga dapat saling menguatkan.

Berikut cerita lengkapnya.

Marshanda seusai shooting program bincang-bincang Brownis di Studio Trans TV, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Jumat (13/10/2017).KOMPAS.com/TRI SUSANTO SETIAWAN Marshanda seusai shooting program bincang-bincang Brownis di Studio Trans TV, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Jumat (13/10/2017).

Marshanda berjuang dengan bipolar

Pada tahun 2009 Bintang sinetron Andriani Marshanda mengejutkan publik dengan video berdurasi 3 menit 47 detik yang ia unggah di YouTube.

Dalam video tersebut Marshanda tampil meluapkan kemarahannya terhadap teman-teman sekolahnya sambil bernyanyi dan berjoget. Akibatnya banyak yang menyangka Marshanda mengalami gangguan mental.

Tak lama setelah kasus ini bergulir, Marshanda didiagnosis mengidap gangguan mental bipolar.

Adapun bipolar merupakan gangguan yang berhubungan dengan perubahan suasana hati mulai dari posisi terendah depresif hingga tertekan ke posisi tertinggi atau manik.

Baca juga: Marshanda: Usia 17 Tahun Gue Didiagnosis Depresi, Enggak Ada yang Tahu

Marshanda mengaku saat itu tak mau menerima kenyataan bahwa ia punya penyakit mental.

Butuh waktu hingga 4 tahun bagi Marshanda hingga akhirnya mau mengakui ia memiliki bipolar.

Pada masa penolakan itu, Marshanda sering absen pergi ke dokter jiwa. Ia pun mengaku sangat tertutup soal gangguan mental yang dialami.

Hingga akhirnya Marshanda mau menerima keadaannya dan terbuka kepada masyarakat.

Ia bahkan mengemas ceritanya tersebut dalam video-video yang diunggah dalam kanal YouTube pribadinya, MARSHED.

Dalam kanal YouTube tersebut Marshanda menceritakan pengalaman pribadinya melawan stigma masyarakat untuk sembuh dari penyakit mental.

Ia mengatakan, stigma buruk masyarakat terhadap orang dengan gangguan mental seperti dirinya membuat kondisinya lebih buruk.

Menurutnya, sebagian masyarakat Indonesia menilai negatif orang yang datang ke klinik terapis jiwa.

Padahal menurut Marshanda, di negara maju seperti di Eropa dan Amerika Serikat, seseorang pergi mendatangi terapis jiwa adalah hal yang wajar.

Ia berharap melalui pengalamannya masyarakat Indonesia lebih paham pentingnya dukungan moril untuk orang-orang yang mengalami gangguan mental.

Marshanda berharap, dengan demikian para penderita gangguan mental akan lebih cepat pulih dan tak terjerumus ke dalam kondisi yang lebih buruk.

Ariel Tatum usai mempromosikan bisnis kue bolunya di Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Minggu (25/2/2018).KOMPAS.com/ANDI MUTTYA KETENG Ariel Tatum usai mempromosikan bisnis kue bolunya di Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Minggu (25/2/2018).

Ariel Tatum dan borderline personality disorder (BPD)

Sama halnya dengan Marshanda, artis peran Ariel Tatum pun blak-blakan menceritakan tentang perjuanganya melawan penyakit mental.

Di balik pembawaannya yang ceria, Ariel ternyata sudah berulang kali mencoba bunuh diri. Hal ini sempat mengagetkan Ibundanya.

Adapun Ariel mengaku mengidap penyakit Borderline Personality Disorder (BPD) atau kepribadian ambang akut.

Ia menyadari mengidap gangguan mental tersebut sejak berusia 13 tahun.

Baca juga: Gangguan Mental, Ariel Tatum: Cuma Kita yang Bisa Mengubah Diri Sendiri

Awalnya Ariel tak berani menceritakan hal ini kepada orang lain. Ia menutup diri rapat-rapat sehingga membuat kondisinya justru semakin parah.

Lantas, apa yang membuat Ariel mengungkapkan masalahnya tersebut kepada publik?

Dalam sebuah sesi wawancara di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, Sabtu (19/10/2019), Ariel melihat generasi saat ini sudah terbuka mengenai pembahasan mengenai kesehatan mental.

Hal itulah yang kemudian membuatnya berani untuk menceritakan hal ini ke publik.

"Aku tersentuh untuk, kayaknya sudah saatnya cerita what I've been through, pengalaman aku sendiri, and do something about it," ujar Ariel Tatum. 

Baca juga: Idap Gangguan Mental, Mengapa Ariel Tatum Mau Membuka Diri?

Lewat pengalaman dengan berbagi cerita, Ariel ingin membantu masyarakat Indonesia sesama penderita gangguan mental untuk sembuh.

Ariel mengatakan, peran keluarga dan sahabat menjadi salah satu faktor yang membuatnya kuat.

Namun, di balik itu, yang paling berpengaruh besar akan proses terapi penyakit kepribadian ambang akut adalah diri sendiri.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X