Anang Anggap Penggabungan Ekonomi Kreatif dan Pariwisata sebagai Penyimpangan

Kompas.com - 23/10/2019, 12:56 WIB
Anang Hermansyah di kawasan Pangeran Antasari, Jakarta Selatan, Sabtu (19/10/2019). Kompas.com/Tri Susanto SetiawanAnang Hermansyah di kawasan Pangeran Antasari, Jakarta Selatan, Sabtu (19/10/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Sebelum Presiden Jokowi mengumumkan kabinetnya yang baru, kabar penggabungan Badan Ekonomi Kreatif dengan Kementerian Pariwisata sudah bergaung dan mengundang tanda tanya dari berbagai pihak.

Salah satunya musisi dan politikus Anang Hermansyah.

Mantan anggota Komisi X DPR RI periode 2014-2019 itu mempertanyakan peleburan kembali sektor ekonomi kreatif dan pariwisata dalam satu kementerian.

"Saya terus terang kaget dengan rencana penggabungan dua sektor ini. Ada anomali (penyimpangan) yang terjadi dari rencana ini," ujar Anang dalam keterangan tertulisnya yang diterima Kompas.com, Jakarta, Rabu (23/10/2019).

Baca juga: Anang: Berarti Dulu Ahmad Dhani Merebut Maia dari Aku?

Benar saja, saat pengumuman nama-nama menteri hari ini, Jokowi menyebut nama Wishnutama sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Sementara lewat akun Instagram-nya, Bekraf atau Badan Ekonomi Kreatif yang sebelumnya dipimpin Triawan Munaf, ayah Sherima Munaf, mengucap pamit.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Terkait itu, Anang berpendapat menjadi aneh ketika Undang Undang Ekonomi Kreatif baru lahir, namun kemudian lembaganya disatukan lagi dengan pariwisata.

Baca juga: Anang Hermansyah Bikin Geregetan, Judika Langsung Keluarkan Tiket Titanium

Sementara, lanjutnya, dalam ketentuan pada Pasal 30 Ayat (1) UU Ekraf terdapat atribusi yang diberikan kepada presiden untuk menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) terkait kelembagaan Ekonomi Kreatif, apakah bentuknya kementerian atau lembaga.

"Bagaimana menjalankan amanat UU itu, jika nomenklatur Ekraf digabung dengan pariwisata," kata Anang menyampaikan kritiknya.

Anang menilai penggabungan Ekraf dan pariwisata isa berpotensi membuat dua sektor tersebut menjadi tidak fokus.

Baca juga: Reaksi Tak Terduga Anang Saat Tamara Nyanyi Lagu Krisdayanti

Sebab, menurut dia, kinerja Bekraf dalam lima tahun terakhir mengalami kemajuan pesat dibanding sebelumnya.

"Produk Domestik Bruto (PDB) Ekraf tahun 2014 itu hanya Rp 784,2 triliun saat masih digabung dengan pariwisata. Nah, tahun 2019 ini bisa tembus Rp 1.200 triliun," kata Anang.

"Risikonya, salah satu sektor akan menjadi anak tiri. Itu terjadi di periode 2009-2014," tambahnya.

Baca juga: Gara-gara Lagu Krisdayanti Ini, Anang Bertemu Ashanty



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X