Penyair Iwan Jaconiah Raih Honor Award di Festival Sastra Dunia Chekhov 2019

Kompas.com - 27/10/2019, 14:05 WIB
Penyair Indonesia Iwan Jaconiah meraih Diploma of Honor Award pada helatan X International Literary Festival Chekhov Autumn-2019 di Yalta, Republik Crimea, Federation Rusia, Kamis (24/10/2019). Dokumentasi PribadiPenyair Indonesia Iwan Jaconiah meraih Diploma of Honor Award pada helatan X International Literary Festival Chekhov Autumn-2019 di Yalta, Republik Crimea, Federation Rusia, Kamis (24/10/2019).


JAKARTA, KOMPAS.com - Penyair Indonesia Iwan Jaconiah meraih Diploma of Honor Award pada helatan X International Literary Festival "Chekhov Autumn-2019" di Yalta, Republik Crimea, Federation Rusia, Kamis (24/10/2019) waktu setempat. Ini menjadi penghargaan pertama bagi wakil Indonesia.

Festival Sastra Dunia Chekhov tahun ini dihadiri lebih dari 100 penyair dari 12 negara. Meliputi Indonesia, Uni Emirat Arab, Vietnam, India, Bangladesh, Yordania, Mesir, Kuba, Serbia, Montenegro, Ukraina, dan Rusia.

The Writers Union of the Republic of Crimea sebagai komite tinggi penyelenggaraan festival menilai Iwan laik mendapatkan penghargaan tersebut karena berhasil menampilkan enam puisinya dalam bahasa Indonesia dan Rusia pada festival tahunan itu.

Baca juga: Mahasiswa Kelahiran NTT Iwan Jaconiah Tampil di Festival Sastra Dunia Chekhov

Selama 10 tahun penyelenggaraan Festival Sastra Chekhov, baru pertama puisi Indonesia dikumandangkan. Sehingga, membuka jalan bagi para penyair oriental untuk bisa merasakan gelora Chekhov di festival tersebut.

Iwan hadir sebagai peserta ke Festival Sastra Dunia Chekhov, pada 21-24 Oktober, itu lewat enam puisi hasil kurasi panitia.

Puisi-puisi tersebut ditulis dalam tiga bahasa, yaitu Bahasa Indonesia, Inggris, dan Rusia. Keenam puisi adalah “Musim Panas Terakhir” (The Last Summer), “Bumi” (Earth), “Silentium” (Silentium), “Doa” (Praying), “Katedral St. Andrew” (St. Andrew Cathedral), dan “Leo” (Leo).

Dari semua puisi yang disajikan itu, “Bumi” menjadi karya Iwan yang dinilai sangat kuat, baik pesan moral maupun makna. Iwan membaca puisi tersebut dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Rusia dengan penuh penghayatan.

Puisi ini pula yang menjadikan Iwan meraih Diploma of Honor Award pada X International Literary Festival "Chekhov Autumn-2019" itu.

Kehadiran Iwan sebagai wakil Indonesia pertama di ajang sastra ini juga penting mengingat penyair sebagai penjaga bahasa nasional. Itu penting dan perlu untuk membumikan puisi Indonesia di panggung sastra dunia.

Lewat Festival Sastra Chekhov itu, berbagai kritikus sastra, novelis, dan penyair bertemu untuk mendiskusikan pelbagai hal. Mulai dari perkembangan sastra di Asia, Afrika, Amerika, sampai Eropa.

Puisi-puisi para peserta yang ditulis dalam bahasa Arab, Vietnam, dan Indonesia mendapat perhatian lebih. Sehingga, dibedah dan dibaca secara khusus di X International Literary Festival "Chekhov Autumn-2019". Hal ini tak lain sebagai kajian dalam perkembangan sastra oriental.

Pemilihan Yalta sebagai tempat penyelenggara X International Literary Festival "Chekhov Autumn-2019" itu dikarenakan Chekhov pernah tinggal selama lima tahun di sana. Itu adalah kota kecil yang terletak di bibir laut Hitam.

Dari tempat paling selatan di Rusia itu, Chekhov menulis tiga karya agung dan diadaptasi ke panggung teater. Yaitu, "Lady with a Dog" (1898), "Three Sisters" (1900), dan "The Cherry Orchard" (1903).

 



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X