Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan atas UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menyatakan batas usia minimal untuk kawin adalah 19 tahun baik untuk laki-laki maupun perempuan.
Akan tetapi, tampaknya dengan ketiga alasan di atas, pernikahan usia dini masih terus saja berlangsung. Alasan-alasan ini sebetulnya sebuah peneguhan sikap patriarkis di dalam sebagian masyarakat Indonesia yang lebih memperlakukan perempuan sebagai properti.
Dalam novel ini, misalnya, para perempuan, masih gadis kecil atau dewasa atau istri, senantiasa mengalami kekerasan seksual dengan berbagai cara. Ada yang dengan menggunakan klenik--dalam novel ini disebutnya "angin kiriman"--ada pula yang memerkosa langsung.
Kekerasan demi kekerasan ini kemudian menjadi semakin sulit didefinisikan ketika anak-anak gadis itu tergambarkan tak keberatan menikah karena pada beberapa babak dan adegan, tokoh Cebbhing digambarkan "terdorong" untuk pergi diam-diam menyambangi Kacong, calon suaminya.
Yang lebih parah, karena memang sudah melekat sedemikian lama,maka begitu banyak perempuan (dewasa) dalam jagat novel ini yang sudah "dipaksa" selaras dengan misoginis lelaki.
Dengan kata lain sudah terjadi proses internalisasi bagaimana gadis kecil maupun remaja yang dikawinkan itu harus merasa berutang budi atau berterima kasih dikawinkan dengan lelaki "yang dituakan". Ini sebuah kekerasan dalam bentuk lain dan Muna mendeskripsikan itu semua dengan cara yang cerdas.
Ada dua hal yang menjadi catatan dalam novel ini yang dibahas dalam podcast bersama Atnike Sigiro: pertama, novel yang menarik ini tentu saja ada persoalan ketika menampilkan multipoint of views yang seharusnya mencoba membedakan suara, karakterisasi, dan diksi setiap tokoh dalam setiap bab.
Problemnya, seperti halnya beberapa novel yang terbit akhir-akhir ini yang menggunakan multipoint of views adalah seluruh suara sama persis dengan diksi yang sama dan bahasa rapi dan cenderung puitik. Selain pembaca agak sulit membedakan, pada dasarnya para tokoh seyogyanya diberikan karakterisasi yang berbeda.
Catatan kedua, akhir dari novel ini menggambarkan betapa tokoh Cebbhing tak mengalami sebuah perkembangan karakter. "Padahal Cebbhing sudah memperlihatkan elemen perlawanan, tetapi sikap ini tidak dikembangkan," kata Atnike.
Tentu saja secara keseluruhan novel ini adalah sebuah karya yang bersinar dan wajib dibaca. Muna Masyari, seperti yang disampaikan sastrawan Budi Darma adalah "sebuah meteor yang datang tanpa diduga, sekonyong-konyong muncul dengan sinar yang memukau."
Pembahasan novel ini bisa ditemukan di Spotify Coming Home with Leila Chudori.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!
Syarat & KetentuanPeriksa kembali dan lengkapi data dirimu.
Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.
Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.