Rizal Iwan Membahas Novel Awi Chin dan "Queer Literature"

Kompas.com - 07/04/2021, 07:00 WIB
Coming Home with Leila Chudori bersama Rizal Iwan DOK. LEILA S CHUDORIComing Home with Leila Chudori bersama Rizal Iwan

Coming of age (atau dikenal juga dengan istilah Jerman bildungsroman), sebuah genre yang secara sederhana mengisahkan kisah transformasi seorang tokoh remaja menuju pada kedewasaan jarang ditekuni penulis Indonesia.

Adapun kisah LGBTQ atau lebih populer dengan sebutan queer literature selama beberapa tahun terakhir "terdesak-desak" ke pinggir panggung.

Pada titik itulah Rizal Iwan menganggap "Yang Tak Kunjung Usai" adalah novel yang sangat menarik dan harus disambut kehadirannya.

"Di masa lalu, sekitar tahun 2000-an, fiksi yang menampilkan tokoh gay biasanya disambut dengan relaks, tak ada yang tegang. Penyajian penulis santai, dan pembaca juga santai," kata Rizal memberikan contoh, antara lain "Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh" (Dee Lestari, 2001).

Menurut Rizal, dia menganggap "Supernova itu sebuah gebrakan, karena Dee menggambarkan pasangan Dimas dan Ruben yang sebagai pasangan biasa. Penggambaran pasangan ini sangat aspiratif. Mereka defiant, bukan deviant."

Setelah itu, Rizal menganggap kumpulan cerpen "Rahasia Bulan", ed. Is Mujiarso (Gramedia Pustaka Utama, 2006) adalah gebrakan berikut, "karena banyak penulis-penulis di dalam kumpulan ini high profile yang menawarkan perspektif yang berbeda-beda tentang LGBTQ." Yang dimaksud high profile, maksud Rizal, hadirnya karya-karya antara lain Djenar Maesa Ayu, Linda Christanty, Clara Ng.

Rizal menunjuk sekitar tahun 2014-2015 di mana terjadi satu titik balik di dalam wacana LGBTQ di Indonesia hingga timbulnya hysteria anti LGBTQ.

"Ini juga memengaruhi dalam dunia penerbitan (dan juga sinema) yang 'dipaksa' patuh kepada arus konservatisme, sehingga kisah-kisah LGBTQ bergeser ke ranah online, wattpad dan penerbit indie," kata Rizal.

Rizal menunjuk contoh-contoh novel "Bukan Perjaka" dan "Anak Gembala yang tertidur Panjang di Akhir Zaman" yang bagus dan lahir dari penerbit alternatif.

Menurut Rizal, bahwa baru beberapa tahun terakhir Queer Literature mulai masuk lagi ke penerbitan besar seperti "Sergius Mencari Bacchus: 33 Puisi" karya Norman Erikson Pasaribu , yang kemudian disusul dengan karya Awi Chin ini.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X