Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Leila S Chudori
Penulis & Wartawan

Penulis, Wartawan, Host Podcast "Coming Home with Leila Chudori"

Mengapa Kita Tetap Butuh Toko Buku?

Kompas.com - 14/04/2021, 07:00 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Kami setuju, bagaimanapun sebuah kota (kecil atau besar) yang baik dan beradab adalah kota yang penduduknya memiliki dan akrab dengan perpustakaan, museum, dan toko buku.

Kami yang begitu mencintai buku sebagaimana halnya mencintai kehidupan lantas bersepakat membuat sebuah edisi khusus kolaborasi antara kedua podcast kami dengan tema "Mengapa Kami (atau mungkin tepatnya: Kita) Masih Membutuhkan Toko Buku."

Kami sama-sama mengenang bahwa toko buku adalah sesuatu yang penting sejak masa kecil kami. Saya sendiri di tahun 1970-an hampir setiap bulan mampir di toko buku Gung Agung, Gunung Mulia dan sebuah toko kecil yang menyediakan komik wayang yakni Green Shop di Kawasan Roxi.

Toko buku kecil di masa itu memang harus ada karena merekalah yang menyediakan buku-buku komik yang jarang tersedia di toko buku besar.

Hertoto Eko mengingat toko buku Al Amin di Kramat Jati karena "yang melayani mempunyai pendekatan personal, dia tahu apa yang dijual dan ingat setiap pembeli," kata Hertoto. Lebih menarik lagi, "Toko buku kecil semacam ini menyediakan sampul."

Maka dengan sendirinya, setelah dewasa, setelah reformasi, toko buku besar impor seperti Kinokuniya, Aksara, QB maupun toko buku lokal seperti Gramedia dan buku independen seperti Post Santa dan Transit di Pasar Santa menjadi bagian dari titik perhentian setiap kunjungan pencarian buku.

Tentu saja toko buku di Jakarta, atau kota-kota lainnya, belum menyediakan atmofir yang ideal seperti katakanlah toko-toko buku di negara Barat yang menyediakan sofa atau kursi-kursi di mana kita bisa tetap duduk, memilih buku, bahkan memesan kopi dari kafe di pojok, sembari merasa aman, nyaman dan terlindungi dari keriuhan dan pragmatisme di luar tokomu.

Suasana di toko buku semacam The Elliot Bay Book Company di Seattle, yang menjadi satu toko buku independen yang memiliki sosok Rick Simonson sebagai kurator yang mengundang begitu banyak penulis terkemuka seperti Kazuo Ishiguro, Arundhati Roy dan Michael Ondaatje; atau rasa harum buku dan sejarah panjang Shakespeare & Co di Paris; atau rasa rumahan Toko Buku Wild Detectives di Dallas karena pemiliknya adalah fans novel "The Savage Detectives" karya Roberto Bolaño masih cita-cita panjang para pecinta buku Indonesia.

Toko Buku Wild Detectives kurang lebih mengingatkan saya pada suasana di toko buku dan kafe Kineruku di Bandung.

Lalu apa penyebab beberapa toko buku tutup, selain ekonomi yang memang melorot di masa pandemi? Menurut Steven Sitongan yang sehari-hari mengelola toko buku Ksatria Buku di Ambon, "Salah satunya tentu saja penyewaan space yang mahal. Ditambah lagi karena pandemi yang menyebabkan pengunjung jadi khawatir untuk datang dan berkerumun."

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+