Leila S Chudori
Penulis & Wartawan

Penulis, Wartawan, Host Podcast "Coming Home with Leila Chudori"

Ketika Para Saksi Menulis pada Tahun Kelam

Kompas.com - 01/09/2021, 10:01 WIB
Coming Home with Leila Chudori, Season 7: In Contemplation with Robertus Robet DOK. LEILA S CHUDORIComing Home with Leila Chudori, Season 7: In Contemplation with Robertus Robet

Hampir semua cerita pendek ini diakhiri dengan kekelaman: mereka dibunuh, hilang tak ketahuan rimbanya atau digiring ke arena pembantaian.

Mungkin hanya cerita karya Zulidahlan yang, menurut Robertus Robet, bernada lebih hangat karena terasa mengangankan betapa masyarakat Indonesia di masa itu masih ada yang berbudi.

Robertus juga menekankan bahwa di masa itu terjadi apa yang disebut-–meminjam istilah psikoanalisa Jacques Lacan--"histeria kekerasan", sehingga para penulis yang menulis tragedi 1965 di masa itu terlihat di dalam dilema persoalan kemanusiaan, perbenturan ideologi dan juga menggali-gali justifikasi dari seluruh peristiwa berdarah ini (yang sudah pasti tak kunjung ditemukan).

Seperti juga komentar Keith Foulcher, peneliti dari Universiy of Sydney, buku ini memperlihatkan "masih kuatnya hegemoni Orde Baru dalam memengaruhi cara berpikir dan bertindak masyarakat Indonesia, khususnya terkait dengan peristiwa 1965".

Maka, cerpen-cerpen ini tak hanya memancarkan kegamangan para penulisnya, tetapi menunjukkan betapa bahasa propaganda di masa itu sangat kuat.

Itu pula bahasa dan diksi yang digunakan oleh para tokoh dalam rangka "memanipulasi" tokoh utama agar mereka bisa menerima pembantaian yang dialami saudara atau kawan sendiri.

Misalnya, cerpen "Pada Titik Kulminasi" karya Satyagraha Hoerip yang bercerita seorang lelaki yang bertugas "menyerahkan" iparnya untuk dibantai karena "berada di pihak musuh".

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dalam cerita itu, setelah didesak kawannya, tokoh "Aku" mencoba membuat justifikasi dengan analogi Arjuna yang gundah menjelang perang Bharatayudha karena harus melawan sepupu, para tetua Hastina dan gurunya sendiri.

Logika menghadapi kegalauan "intelektual" itu pada akhirnya sama seperti logika diksi yang digunakan di masa itu, di mana "lawan" mereka adalah "kambing binal yang perlu disembelih", atau "gorok, cincang, bakar".

Menurut Robertus Robet, teknik "menghapus nama dan menghilangkan individualitas" itu adalah cara efektif Orde Baru untuk memburu siapa saja yang dianggap musuh.

Karena itu, histeria kekerasan yang kemudian menggunakan istilah sembelih, gorok,cincang atau bakar itu menjadi kosakata yang populer dalam keseharian tahun 1966, dan menjadi bagian dari diksi para penulis di masa itu.

Diskusi yang sekaligus membuka bulan September ini Anda bisa dengarkan di Spotify Leila S Chudori di sini.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.