Sabtu, 25 Oktober 2014
Obituari Dunia Dansa Si Datuk Maringgih
Jumat, 3 Februari 2012 | 07:01 WIB
|
Share:

JAKARTA, KOMPAS.com -- Tak cuma dikenal sebagai aktor, mendiang Him Damsyik juga piawai berdansa. Jauh sebelum menekuni dunia akting, aktor kelahiran Teluk Betung, Lampung, 14 Maret 1929, ini telah dikenal sebagai koreografer. Karena kepiawaiannya, sutradara Wim Umboh bahkan kerap memercayakan urusan koreografi untuk filmnya kepada Him Damsyik.

Di akhir Maret pada tahun 2003, pria bertubuh ramping itu pernah dengan bangga mengklaim bahwa dirinya adalah Datuk Dansa. Ia juga menceritakan kecintaannya di dunia tari.

Untuk mengenang sosoknya, Kompas.com kembali mewartakan hasil wawancaranya yang pernah dimuat HU. Kompas pada 29 Maret 2003. Him Damsyik tutup usia pada Jumat (3/2/2012) dini hari dalam perawatan di Rumah Sakit Puri Cinere.     

***
PIALA Dunia 1998 sudah lama berlalu, namun ada yang masih tersisa: kegemaran masyarakat berdansa.

Lagu La Copa de la Vida yang dipakai sebagai lagu resmi Piala Dunia 1998, dan didendangkan Ricky Martin dengan tarian salsa yang atraktif, membuat masyarakat kota-kota besar turun ke lantai dansa. Mulai dari poco-poco hingga ballroom.

Bicara soal dansa di Indonesia, ada satu nama yang segera muncul, yakni si Datuk Maringgih, HIM Damsyik.

"Ha-ha-ha...aku memang si Datuk Maringgih. Kalau urusan dansa, orang mungkin memanggilku Datuk Dansa," katanya.

Wajar bila Damsyik, bintang sinetron TVRI "Siti Nurbaya", mengatakan demikian. Dalam Jakarta Open Dance Sport 2003 di The Grand Ballroom Hotel Mulia, Jumat (28/3), Damsyik akan unjuk kebolehan bersama pedansa-pedansa dari berbagai penjuru dunia. Tercatat ada 122 pasang pedansa internasional ikut dalam kejuaraan tersebut.

"Saya bersyukur, perkembangan dansa di Indonesia sangat pesat. Pemicunya, ya, saat Piala Dunia 1998 tadi. Dansa yang semula tidur nyenyak, sekarang mulai bangun," ujar Damsyik, yang sejak 12 Juli 2002 dipilih sebagai Ketua Ikatan Olahraga Dansa Indonesia yang bernaung di bawah Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI).

"Dansa sekarang masuk dalam kategori olahraga. Kalau berdansa, seluruh tubuh kita bergerak. Sama dengan olahraga," tukas Damsyik yang lahir di Teluk Betung, 14 Maret 1929.

Di usianya yang 74 tahun, Damsyik masih sangat kuat berdansa. Tubuhnya yang kurus tidak kelelahan, meskipun dia telah berdansa hingga berjam-jam. "Setiap ada kesempatan, saya pasti berdansa. Dansa membuat tubuh saya selalu sehat, tidak mudah sakit, dan tidak membuat perut saya buncit," ujarnya.

***

Masa kecil Damsyik di Teluk Betung, Lampung, banyak dihabiskan dengan menari.

"Setiap kali ada perayaan, pasti anak-anak disuruh menari. Saya sering ikut ambil bagian. Ternyata saya senang menari, dan banyak orang menilai saya berbakat," kenangnya. Damsyik mengaku tidak tahu bakat menarinya datang dari mana. Orangtuanya yang bekerja sebagai kepala pegawai di perusahaan pelayaran Belanda, KPM, tidak pernah menari atau berdansa.

Hijrah ke Jakarta untuk meneruskan pendidikan di perguruan tinggi, Damsyik berkenalan lagi dengan dansa. "Tahun 1950-an itu masih banyak orang Belanda. Jadi, budaya berdansa masih banyak di masyarakat. Setiap malam Minggu, mahasiswa pasti kumpul. Di sanalah bakat dansa saya terasah," kata Damsyik yang aktif dalam Ikatan Mahasiswa (D)Jakarta (Imada) semasa kuliah.

Damsyik mulai percaya bahwa dirinya mempunyai bakat berdansa ketika menyabet juara I lomba dansa ballroom. "Saya terkejut, sekaligus senang. Sejak itu saya memutuskan untuk menekuni dansa dan pindah menjadi profesional," ujarnya.

Menjadi profesional menuntutnya belajar lebih jauh. Ia mendalami dansa selama empat tahun di Rellum Dancing School, Belanda. Tidak banyak instruktur dansa di Indonesia yang mengantongi ijazah dansa internasional, dan Damsyik salah satunya.

Akibatnya, jadwal Damsyik sangat padat. Setiap hari harus mengajar di kelas-kelas dansa yang tersebar di Jakarta. Ada juga yang minta kursus privat, atau menjadi juri lomba dansa yang marak diselenggarakan. Damsyik sendiri memimpin sekolah dansa di bilangan Cinere, Damsyik School of Dance.

Bagi Damsyik, kategori dansa seperti waltz, tango, blouse, quick step, dan slow foxtrot adalah "makanan sehari-hari". Secara umum, dansa dibagi dalam dua jenis, modern ballroom dan Latin American Dancing. Lima kategori tadi merupakan bagian dari modern ballroom. Sedangkan Latin American Dancing terbagi menjadi rumba, falcaca, samba, paso doble, dan jive.

"Waltz sebenarnya ada dua, yakni vienna waltz dan english waltz. Vienna waltz gerakannya lebih cepat dan lincah, tetapi tidak digemari oleh orang Inggris. Mereka lebih senang yang lembut dan tidak begitu melelahkan. Maka, lahirlah english waltz," katanya.

Dansa diplomasi yang dilakukan Presiden Megawati dan Presiden RRC Jiang Zemin satu tahun lalu di Beijing termasuk dansa modern ballroom.

***

TELAH banyak murid dansa yang dilatih oleh Damsyik. Mereka sekarang memenuhi kafe, club house, atau hotel yang menyediakan tempat untuk berdansa. Di tempat-tempat itu, para clubber bersosialisasi dengan berdansa bersama. "Dansa itu perlu untuk pergaulan. Lihat saja Presiden Megawati melakukan dansa sebagai alat diplomasi juga," kata Damsyik.

Menurut Damsyik, kekuatan dansa terletak pada fungsi sosialnya. "Dansa membuat orang berbaur, laki-laki maupun perempuan, dari latar belakang apa pun. Semua bisa bergembira bersama," tegas Damsyik yang mulai terjun ke dunia akting setelah dansa dianggap tarian imperialis oleh Partai Komunis Indonesia (PKI).

"Waktu itu, tahun 1950-an, PKI masih berkuasa. Mereka menganggap dansa adalah kebudayaan Barat, jadi dilarang keras. Saya juga sempat takut, tetapi tetap berlatih sendiri. Kalau ada kesempatan, saya berdansa," kenang Damsyik.

Walau hanya diminati oleh golongan menengah atas, dansa telah kembali ke masyarakat. Banyak kaum eksekutif dan pejabat tinggi mempelajarinya. "Dansa yang saya mainkan ini adalah dansa standar internasional. Jadi, murid-murid saya juga bisa melakukannya di luar negeri. Jadi, sarana pergaulan internasional," kata Damsyik yang menolak menyebutkan nama-nama murid dansanya dengan alasan tidak etis.

Ayah lima anak dan kakek dari 20-an cucu ini mengaku sangat senang dengan populernya kembali dansa di masyarakat. Bukan tidak mungkin pedansa Indonesia nantinya akan diperhitungkan dalam kancah internasional. "Saat ini pedansa Indonesia masih sama kedudukannya dengan pedansa Malaysia dan Singapura. Belum sebagus Cina. Cina itu paling top di Asia," kata Damsyik.

Diharapkan, jika dansa terus dipopulerkan, maka pedansa-pedansa baru akan muncul.

***

MENGENAI gelar "bangsawannya", yakni Datuk Maringgih, Damsyik sangat tidak keberatan. Walau Datuk Maringgih adalah tokoh yang jahat, yang memaksa mengawini Siti Nurbaya, Damsyik tetap bangga disebut Datuk Maringgih.

"Tidak banyak tokoh perfilman kita yang memiliki ciri melekat seperti itu. Jadi, jika saya mendapatkan ciri tersebut, itu ciri termahal yang saya miliki," kata Datuk, eh, Damsyik.

Ia menyebutkan dua contoh, yakni almarhum Dicky Zulkarnaen yang dikenal sebagai Si Pitung, dan almarhum Ratno Timoer sebagai Si Buta dari Goa Hantu. "Biar wajah saya tidak seganteng Thomas Djorgi, tetapi saya punya ciri yang terus melekat," kata laki-laki berwajah tirus dengan tinggi 180 sentimeter dan berat 55 kilogram ini.

Damsyik mengaku, sebenarnya dia sempat menolak memerankan Datuk Maringgih, karena kalau salah memerankannya maka seluruh kru produksi sinetron itu bisa diprotes oleh pemirsa. "Ternyata saya bisa memerankan tokoh itu dengan cukup baik," kata Damsyik.

Dansa membuka jalannya ke dunia akting. Sutradara Wim Umboh sering memintanya menjadi koreografer untuk film-filmnya, dan akhirnya memintanya menjadi pemain.

"Asyik, kan? Dengan dansa, saya bisa meraih kesuksesan, karier, kesehatan, dan kebahagiaan. Jadi, kalau mau bahagia dan sehat, berdansalah," ujar Damsyik. (M CLARA WRESTI)

Editor :
Eko Hendrawan Sofyan