Dunia Dansa Si Datuk Maringgih

Kompas.com - 03/02/2012, 07:01 WIB
EditorEko Hendrawan Sofyan

Di usianya yang 74 tahun, Damsyik masih sangat kuat berdansa. Tubuhnya yang kurus tidak kelelahan, meskipun dia telah berdansa hingga berjam-jam. "Setiap ada kesempatan, saya pasti berdansa. Dansa membuat tubuh saya selalu sehat, tidak mudah sakit, dan tidak membuat perut saya buncit," ujarnya.

***

Masa kecil Damsyik di Teluk Betung, Lampung, banyak dihabiskan dengan menari.

"Setiap kali ada perayaan, pasti anak-anak disuruh menari. Saya sering ikut ambil bagian. Ternyata saya senang menari, dan banyak orang menilai saya berbakat," kenangnya. Damsyik mengaku tidak tahu bakat menarinya datang dari mana. Orangtuanya yang bekerja sebagai kepala pegawai di perusahaan pelayaran Belanda, KPM, tidak pernah menari atau berdansa.

Hijrah ke Jakarta untuk meneruskan pendidikan di perguruan tinggi, Damsyik berkenalan lagi dengan dansa. "Tahun 1950-an itu masih banyak orang Belanda. Jadi, budaya berdansa masih banyak di masyarakat. Setiap malam Minggu, mahasiswa pasti kumpul. Di sanalah bakat dansa saya terasah," kata Damsyik yang aktif dalam Ikatan Mahasiswa (D)Jakarta (Imada) semasa kuliah.

Damsyik mulai percaya bahwa dirinya mempunyai bakat berdansa ketika menyabet juara I lomba dansa ballroom. "Saya terkejut, sekaligus senang. Sejak itu saya memutuskan untuk menekuni dansa dan pindah menjadi profesional," ujarnya.

Menjadi profesional menuntutnya belajar lebih jauh. Ia mendalami dansa selama empat tahun di Rellum Dancing School, Belanda. Tidak banyak instruktur dansa di Indonesia yang mengantongi ijazah dansa internasional, dan Damsyik salah satunya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Akibatnya, jadwal Damsyik sangat padat. Setiap hari harus mengajar di kelas-kelas dansa yang tersebar di Jakarta. Ada juga yang minta kursus privat, atau menjadi juri lomba dansa yang marak diselenggarakan. Damsyik sendiri memimpin sekolah dansa di bilangan Cinere, Damsyik School of Dance.

Bagi Damsyik, kategori dansa seperti waltz, tango, blouse, quick step, dan slow foxtrot adalah "makanan sehari-hari". Secara umum, dansa dibagi dalam dua jenis, modern ballroom dan Latin American Dancing. Lima kategori tadi merupakan bagian dari modern ballroom. Sedangkan Latin American Dancing terbagi menjadi rumba, falcaca, samba, paso doble, dan jive.

"Waltz sebenarnya ada dua, yakni vienna waltz dan english waltz. Vienna waltz gerakannya lebih cepat dan lincah, tetapi tidak digemari oleh orang Inggris. Mereka lebih senang yang lembut dan tidak begitu melelahkan. Maka, lahirlah english waltz," katanya.

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.