Ada Enam Kameramen untuk Film Banda: The Dark Forgotten Trail? - Kompas.com

Ada Enam Kameramen untuk Film Banda: The Dark Forgotten Trail?

Andi Muttya Keteng Pangerang
Kompas.com - 03/08/2017, 16:35 WIB
Tim produksi film dokumenter Banda The Dark Forgotten Trail menghadiri screening dan jumpa pers di XXI Plaza Indonesia, Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (27/7/2017) malam.KOMPAS.com/TRI SUSANTO SETIAWAN Tim produksi film dokumenter Banda The Dark Forgotten Trail menghadiri screening dan jumpa pers di XXI Plaza Indonesia, Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (27/7/2017) malam.

JAKARTA, KOMPAS.com -- Sutradara dan penata artistik Jay Subiakto memilih menggunakan cara yang unik dalam penggarapan film dokumenter Banda: The Dark Forgotten Trail.

Saat berbincang dengan kompas.com di XXI Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, baru-baru ini, Jay yang juga duduk di belakang kamera mengaku dibantu oleh lima kameramen lain untuk debut layar lebarnya itu.

"Saya cari satu formula baru, akhirnya film ini harus dibuat oleh enam DOP (director of photograpy) atau kameramen.

Ada Davy Linggar, ada Oscar Motuloh, Ipung Rachmat Syaiful, Barli, Dodon Ramadhan, bahkan saya sendiri," ujar Jay.

Alasannya, Jay ingin memberi rasa yang berbeda kepada penonton film Banda. Terutama untuk menarik minat generasi muda menyaksikan film dokumenter yang umumnya kurang populer di Indonesia.

"Caranya saya harus punya enam DOP, enam kameramen, yang punya mata-mata yang hebat. Buat saya ini harus jadi kolase kumpulan gambar yang dinamis," ucap Jay.

"Dalam membuat ini pun saya enggak mau lihat referensi film-film dokumenter yang udah dibikin. Saya mau bikin, kenapa kami enggak mikir sendiri, mikirin yang belum pernah dipikirin orang lain. Karena saya mau film ini untuk generasi muda," tambahnya.

Tak sampai di situ, ayah anak satu ini juga menggandeng tiga editor untuk menjahit gambar-gambar dari enam kameramen tadi.

Mereka adalah Aline Jusria, Cundra Setiabudhi, dan Syaiqi Subhan Tuasikal. Jay mengaku, awalnya tak mudah mengatur pengambilan gambar serta menggabungkannya.

Hingga akhirnya Jay memutuskan untuk membebaskan saja para kameramennya beraksi menangkap momen.

"Tiap hari saya hanya bilang Davy shooting di pulau ini, Oscar shooting di sini. Jadi saya enggak ada breakdown," kata Jay.

"Baru kali ini saya tanya saya ambil gambar apa ya, sutradaranya bilang terserah deh. Berkali-kali tanya sebelum shooting, jawabannya tetap sama hahaha," timpal Davy.

"Ini memang ruwet ya. Jebakan batman di mana-mana. Saya basic-nya bikin photo still, nah sama dia dijeblosin bikin video gerak," ujar Oscar ikut menimpali.

[Baca juga: Jay Subyakto Sempat Takut Bikin Film Dokumenter Banda]

 

Jay menambahkan, dari enam kameramen selama proses shooting tiga minggu, akhirnya terkumpul gambar video hingga mencapai beberapa terrabyte.

Namun sebelum sampai di meja penyuntingan, Jay memilih terlebih dulu gambar-gambar yang menurut dia menarik.

"Enggak bisa nih saya langsung kasih ke editor. Saya malah seneng gambar enggak fokus atau gerak. Takutnya kalau dipilihin orang lain, dibuang. Jadi akhirnya hampir tiga minggu saya pilih gambar itu. Kemudian saya bilang ke editor 'campur aja gambarnya dari enam kamera. Kita pilih gambar yang enak'," ucap Jay.

Setelah melalui proses editing dan ia melihat hasilnya, Jay takjub. Sebab, film itu akhirnya bisa menjadi satu kesatuan tanpa terlihat ada enam kameraman berbeda di baliknya.

[Baca juga: Reza Rahadian Jadi Dalang Film Dokumenter Banda]

 

"Hebatnya itu jadi kesatuan, enggak lompat-lompat. Enggak kelihatan ini dibuat oleh banyak orang, gambarnya begitu kaya. Editing pun saya sebar. Aline ngedit dulu, ini ngedit dulu, baru saya kumpulin. Akhirnya dapat ceritanya," ujarnya.

"Awalnya Lala (produser) panik ini director treatment-nya kayak apa hahaha. Saya sok asik aja, saya bilang nanti ceritanya akan datang. Padahal saya juga tidak tahu. Untung saya punya teman teman yang hebat dan ajaib. Ini sih kerja kolektif. bukan kerja sendiri," tambah Jay.

Film Banda ini mengangkat tentang sejarah pala di Banda Neira yang dinarasikan oleh artis peran Reza Rahadian untuk versi bahasa Indonesia, sedangkan Ario Bayu untuk versi bahasa Inggris. Film ini mulai tayang hari di bioskop Tanah Air hari ini, 3 Agustus 2017.

[Baca juga:Banda The Dark Forgotten Trail Akan Dibawa ke Festival Internasional]

PenulisAndi Muttya Keteng Pangerang
EditorBestari Kumala Dewi
Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM