Melancholic Bitch: Dongeng Kelaparan dari Pusat Perbelanjaan

Kompas.com - 21/07/2013, 11:36 WIB
EditorAti Kamil
JAKARTA, KOMPAS.com -- Kisah Joni dan Susi yang mabuk cinta dipentaskan di Pacific Place, Jakarta, Sabtu (13/7/2013). Romansa itu terasa lebih getir karena lirik tentang kemiskinan yang memaksa orang untuk mencuri roti dinyanyikan di pusat belanja, tempat dijajakan Hermes dan Bvlgari.

Lakon pasangan Joni dan Susi adalah rekaan sekelompok musisi asal Yogyakarta, Melancholic Bitch (Melbi). Mereka menulis cerita itu menjadi 12 lagu dalam album Balada Joni dan Susi (BJS) yang diluncurkan pada tahun 2009.

"Ketika Joni 21 dan Susi 19/hidup sedang bergegas/di reruntuh ruang kelas..." adalah sapaan pembuka di album keluaran Dialectic Records itu. Larik itu adalah perkenalan pendengar dengan tokoh sentral. Cerita pun mengalir dalam lagu-lagu berikutnya, dimulai dari saling merayu, mimpi mengelilingi dunia, hingga kemiskinan yang mendorong Joni mencuri roti. Kisah kasih mereka berakhir tragis.

Romantika dua sejoli itu awalnya penuh warna, lalu beranjak gelap. Di lapis lebih bawah lagi, ada sentilan kepada media massa yang disebut "datang lebih cepat daripada ambulans". Bisa dibilang, album itu adalah album konsep yang seluruh lagu di dalamnya merupakan satu kesatuan dengan cerita yang sambung-sinambung.

Melbi membalut semua itu dalam langgam rock yang tak terlalu keras, dibumbui bebunyian sintetis dari komputer, keyboard, dan gitar yang digesek dengan busur biola. Berbekal itu, Melbi menyajikan lakon album itu dalam acara berjudul "Joni dan Susi Go To @america" di @america, pusat kebudayaan yang dikelola Kedutaan AS, di Pacific Place, Jakarta.

Di pusat belanja itu, tersapat gerai pakaian merek wahid, seperti Hermes, Bvlgari, dan Louis Vuitton. Orang bisa juga bersantap enak atau ngupi-ngupi. Melbi tampil sesaat setelah hujan deras dan angin kencang mendera Jakarta. Saat itu, mal besar itu terasa dingin dan lengang saja.

Ugoran Prasad (vokal), Yosef Herman Susilo (gitar), Richardus Ardita (bas), serta musisi pengganti Faiz Wong (drum), dan Pulung Fajar (gitar) naik panggung setelah Jacob Bills, Public Affairs Staff US Embassy, membuka pertunjukan.

Berurutan
Pertunjukan dibuka dengan "Kartu Pos Bergambar Jembatan Golden Gate, San Francisco", yang dipetik dari album pertama mereka, Anamnesis (2004). Ya, lirik lagu itu memang berasal dari puisi karya Sapardi Djoko Damono berjudul sama. Baru pada lagu kedua, "Bulan Madu", dongeng Joni dan Susi bergulir.

Untuk menjaga jalinan cerita, Melbi memainkan lagu di album BJS secara berurutan. Ada prolog yang menjembatani setiap lagu. Naskah BJS diperkaya dengan sisipan lagu lain di luar album itu. Di antara tembang "7 Hari Mencari Semesta" dan "Distopia", Melbi menyisipkan lagu "Tentang Cinta" dan "The Street" dari album pertama, serta "Elderly Woman Behind The Counter in A Small Town" milik Pearl Jam. Walau diimbuhi, jalinan kisah itu tak lantas amburadul.

Ketegangan pada pertunjukan malam itu muncul ketika "Mars Penyembah Berhala" dilantunkan. Di bagian ujung lagu, Ugo berteriak dan bergerak liar ke sana-sini. "Saudara-saudara dalam iman, letakkanlah kedua tangan saudara ke layar kaca televisi. Pejamkanlah kedua mata Saudara, lihatlah satu titik cahaya di kejauhan. Cahaya itu, Saudara, adalah semesta yang pepat dalam empat belas inci."

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X