Film Soekarno Menggelitik Bengkulu...

Kompas.com - 13/12/2013, 06:59 WIB
Pemain film Ario Bayu saat ditemui pada acara media gathering film Soekarno di Hotel Four Season, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (8/5/2013). Ario Bayu memerankan tokoh Soekarno pada film tersebut. Tribun Jakarta/JeprimaPemain film Ario Bayu saat ditemui pada acara media gathering film Soekarno di Hotel Four Season, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (8/5/2013). Ario Bayu memerankan tokoh Soekarno pada film tersebut.
|
EditorPalupi Annisa Auliani

BENGKULU, KOMPAS.com - Pemutaran Film Soekarno besutan sutradara Hanung Bramantyo disambut antusias di beberapa daerah, termasuk Bengkulu. Meski demikian, sejumlah film ini pun menuai sejumput kritik.

Lokasi pengambilan gambar, adalah salah satu yang mendapat banyak kritik dari film ini.
"Sayangnya setting (pengambilan gambar, red) Bengkulu tidak di Bengkulu melainkan di Jogjakarta, mungkin kalau bener-bener di Bengkulu akan lebih terasa 'greget' nya," ujar salah seorang warga Bengkulu Sofian Rafflesia di laman jejaring sosial Facebook, Kamis (12/12/2013).

Sebelum menuliskan kritik itu, Sofian mengatakan, "Porsi Bengkulu di film Soekarno cukup besar, anak Bengkulu wajib nonton deh bagaimana kisah perjuangan Bung Karno ketika diasingkan di Bengkulu."

Sofian pun menyebutkan deretan lokasi di Bengkulu yang masuk dalam film berdurasi 2 jam itu. Di antaranya, rumah Bung Karno selama menjalani pengasingan, rumah Fatmawati, Pasar Bengkulu, dan Pantai Panjang.

Komentar senada dilontarkan pula oleh pengguna lain jejaring sosial Facebook, Rodi Rhay. "Bahasa bengkulu-nya kurang pas. Seharusnya sutradara survei dulu dengan orang bengkulu asli bahasa bengkulu yang benar..."

Rodi pun menyayangkan lokasi pengambilan gambar untuk menggambarkan Bengkulu justru dilakukan di luar kota itu. Lokasi pengambilan gambar dan penggunaan bahasa lokal yang tak pas, menurut dia membuat beberapa adegan dalam film tersebut terasa kurang pas.

Menurut pemilik akun "Ganti Namo Jadi Pengendara Lusuh", logat yang dipakai dalam percakapan film itu adalah logat minang. Sementara akun lain menyayangkan cerita film yang seharusnya kuat malah digarap dengan memunculkan kesan kualitas sinetron. "Penuh konflik," tulis Medy Saragih.

Meski demikian banyak warga Bengkulu menilai film Soekarno cukup membakar rasa kebangsaan dan nasionalisme. Pada awal pemutaran film, para penonton bahkan diajak bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

 

Konten pilihan untukmu

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.