"Negeri Tanpa Telinga", Tanpa "Fakta Baru"

Kompas.com - 22/08/2014, 19:26 WIB
EditorAti Kamil

Tikis punya acara. Ia memetakan siapa saja anggota partai politik yang doyan uang dan siapa yang doyan perempuan. Untuk soal perempuan, Tikis sendiri yang melayani mereka. Hal ini berujung konflik dengan Piton yang rupanya cemburu dengan kelakuan Tikis.

Polah elite politik dan pejabat ini diketahui secara detail oleh Naga. Ia dekat dengan lingkar kekuasaan karena keahliannya memijat banyak dibutuhkan petinggi partai dan pejabat negara.

Saat memijat itulah para elite politik ini "curhat" tentang persoalan mereka kepada Naga. Naga yang muak dengan curhatan itu akhirnya meminta dokter kenalan untuk menulikan telinganya.

Bukan komersial
Di awal, film ini seperti menjanjikan sebuah tayangan skandal yang rumit. Namun, hingga akhir cerita, tidak banyak hal baru yang diungkap dalam film kecuali peran Naga yang banyak mendengar "curhatan" pasien dan persoalan skandal yang ditayangkan dalam film tidak jauh berbeda dengan fakta yang sering kali ditayangkan di televisi, yang ditonton jutaan orang.

Soal tertangkapnya Etawa dan skandal impor domba, misalnya, juga skandal pembangunan Bukit Kahyangan yang melibatkan elite partai dan menteri yang minta jatah uang, semuanya sudah pernah ada di media massa. Kalaupun ada tambahan, itu hanyalah sedikit bumbu bagaimana perilaku istri Piton yang hanya menjadikan politikus itu sebagai mesin uang untuk kebutuhan mewahnya.

Saat merilis film tersebut beberapa waktu lalu, Lola mengatakan, Negeri Tanpa Telinga bukan film komersial yang diharapkan bisa laku ditonton orang. Dengan semangat memberikan edukasi kepada masyarakat, Lola yang mencari dana sendiri untuk film ini lebih ingin agar film tersebut bisa ditonton pelajar dan mahasiswa di Indonesia.

"Setiap film tentu memiliki pesan positif yang bisa dipetik penontonnya. Kalau saya pribadi, saya ingin film ini bisa ditonton anak sekolah dan mahasiswa supaya bisa menjadi memori kolektif mereka pada masa depan," kata Lola.

Jika memori kolektif itu sudah melekat, ia berharap, nantinya, generasi muda bisa menolak segala praktik yang tidak baik dalam berpolitik sehingga bisa menjadikan bangsa ini menjadi utuh, jujur, dan bersih.

Lola mengatakan bahwa gagasan film itu berasal dari pemberitaan media massa yang terus-menerus membahas skandal seks dan korupsi para pejabat serta elite politik.

"Risetnya cukup panjang. Saya menemukan skandal seks tidak hanya di politik, tetapi juga di mana-mana ada. Berita tentang skandal itu banyak di televisi dan ternyata realitasnya lebih menyeramkan dibandingkan dengan di film," ujar Lola.

Ray Sahetapi mengatakan, upaya Lola menguak dunia hitam politik Indonesia ini patut diacungi jempol. Sebagai sutradara perempuan, ia berani mengangkat tema yang jarang digarap sineas lainnya. Membuat film semacam ini tidaklah mudah.

"Lola tak hanya mengamati media massa, tetapi perlu juga mewawancarai banyak narasumber agar bisa memperoleh gambaran yang riil," kata Ray. (Lusiana Indriasari)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

 

Konten pilihan untukmu

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.