Menikmati Kopi dengan Filosofi Kopi

Kompas.com - 12/04/2015, 16:24 WIB
Filosofi Kopi arahan sutradara Angga Dwimas Sasongko Arsip Visinema PictiuresFilosofi Kopi arahan sutradara Angga Dwimas Sasongko
EditorAti Kamil
JAKARTA, KOMPAS -- Sebuah kedai kopi membawa dua sahabat, Ben dan Jody, lebih memahami karakter masing-masing. Bahkan, kedai yang diberi nama Filosofi Kopi membawa keduanya memaafkan dan berdamai dengan luka- luka batin di masa lalu.

 Film Filosofi Kopi dikemas ringan dan mengalir. Film yang disutradarai Angga Dwimas Sasongko ini menggambarkan proses panjang di balik hadirnya secangkir kopi. Kehidupan urban dengan gaya hidup ngupi-ngupi di kafe disandingkan dengan ngopi sederhana ala petani desa di Ijen, Banyuwangi.

Ada gambaran-gambaran petani yang menanam, merawat, dan memanen tanaman kopi serta proses lelang, distribusi, dan pengolahan biji kopi oleh tangan-tangan barista, para peracik kopi. Aneka metode memanggang, menggiling biji kopi, hingga mengolah aneka sajian kopi teramu apik dalam balutan kehidupan persahabatan Ben (Chicco Jerikho) dan Jody (Rio Dewanto).

Ben adalah sosok keras kepala dan independen yang tergila-gila dengan kopi. Ia terobsesi untuk membuat kopi-kopi ternikmat bagi pelanggan yang datang ke kedainya. Sementara Jody adalah seseorang yang rasional dan cenderung materialistis.

Hari-hari Ben dan Jody disibukkan dengan pekerjaan mengelola kedai kopi Filosofi Kopi. Kedai ini merupakan perpaduan sekaligus pertarungan antara idealisme Ben terhadap kopi dengan otak dagang Jody yang ingin menghasilkan profit sebesar-besarnya.

Kedatangan seorang pengusaha yang memberi tantangan membuat kopi terenak dengan imbalan Rp 100 juta membawa keduanya pada tahap kehidupan yang tak terduga. Ben menerima tantangan dengan syarat imbalan dinaikkan menjadi Rp 1 miliar dengan kompensasi ia akan ganti membayar Rp 1 miliar jika kalah. Keputusan gila Ben membuat Jody bertambah pening karena itu berarti beban utangnya akan bertambah menjadi Rp 1,8 miliar. Ia mewarisi utang Rp 800 juta dari sang ayah.

Dalam perjalanan mencari formula kopi ternikmat, keduanya bertemu dengan El (Julie Estelle), seorang food blogger dan Q-grader atau pencicip cita rasa kopi yang bersertifikat internasional, serta pasangan suami-istri petani kopi Pak Seno (Slamet Rahardjo) dan Bu Seno (Jajang C Noor). Di sini, keangkuhan Ben yang dilambangkan dengan kopi yang dibuat oleh barista berpengalaman dengan proses dan alat modern berhadapan dengan kebersahajaan kopi tubruk seduhan Pak Seno, petani sederhana. Kelimanya lalu terlempar pada kisah masa lalu masing-masing dengan kenangan, luka batin, dan trauma yang sempat tertoreh dalam relasinya bersama orang-orang terkasih.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Lapis demi lapis pertanyaan yang sekian lama tak terjawab mulai terkuak. Termasuk pertanyaan yang muncul di benak penonton tentang alasan di balik karakter sesosok tokoh dan perilakunya.

"Saya keliling Asia demi kopi. Namun, saya justru menemukan diri dan belajar berdamai dengan diri sendiri," kata El.

Kompleks
Film Filosofi Kopi diadaptasi dari cerita pendek karya Dewi "Dee" Lestari dengan judul yang sama. Bayang-bayang tentang film hasil adaptasi sebuah novel yang tidak jarang membuat kecewa barangkali akan membuat pembaca cerpen Dee skeptis dengan film yang akan dihasilkan. Namun ternyata, pengembangan cerita dari cerpen ke naskah film panjang membuahkan jalan cerita yang lebih kompleks dan menarik.

Ada penambahan tokoh dan perubahan alur cerita yang memberi kejutan. Seperti hadirnya tokoh El yang dalam buku adalah sosok pria misterius yang hadir sesaat. Ada pula penambahan cerita berupa perlawanan petani kopi yang mempertahankan lahan kopinya yang dijadikan latar penting untuk sosok Ben.

Film ini juga dihiasi sejumlah lagu, antara lain "Semesta" oleh Maliq & D'Essentials, "Kisah Secangkir Kopl" (Robi Navicula), "Filosofi dan Logika" (Glenn Fredly, Monita Tahalea, dan Is "Payung Teduh"), dan "Rindu Sesaat" oleh Svarna yang liriknya diciptakan oleh almarhum Renaton Djati.

Film ini, seperti dituturkan Angga Dwimas, dimaksudkan untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap kopi Nusantara, termasuk petani kopi. Ia berencana memutar film ini di perkebunan-perkebunan kopi agar juga bisa ditonton oleh para petani kopi untuk meningkatkan kepercayaan diri mereka dan memahami secara menyeluruh tentang komoditas yang mereka tanam. (SRI REJEKI)Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.