Kuasa Hukum DS Desak Jaksa Ajukan Banding atas Vonis Saipul Jamil

Kompas.com - 15/06/2016, 13:17 WIB
Saipul Jamil bersama tim kuasa hukum berdoa bersama dalam ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Selasa (14/6/2016). KOMPAS.com/ANDI MUTTYA KETENGSaipul Jamil bersama tim kuasa hukum berdoa bersama dalam ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Selasa (14/6/2016).
|
EditorKistyarini

JAKARTA, KOMPAS.com - Kuasa hukum korban DS, Osner Johnson Sianipar, meminta Jaksa Penuntut Umum (JPU) Pengadilan Negeri Jakarta Utara untuk mengajukan banding atas vonis pedangdut Saipul Jamil (35).

"Kalau jaksa enggak banding, wibawa jaksa tidak ada. Kami nanti sampaikan ke jaksa untuk lakukan upaya hukum, yaitu banding. Harus ada kepastian nih," katanya dalam wawancara lewat telepon, Rabu (15/6/2016).

Ia mengaku memahami jaksa membutuhkan waktu sepekan untuk mempertimbangkan langkah selanjutnya. Namun, menurut Osner, jaksa seharusnya melakukan banding.

"Jaksa harus hati hati, koordinasi ke pemimpin, memang dikasih waktu tujuh hari untuk pikir-pikir. Tapi ini diminta apa enggak diminta, itu harus banding. Tuntutan dan vonisnya itu udah menyimpang kan," ucapnya.

Di sisi lain, Osner menyoroti keputusan majelis hakim yang lebih memilih Pasal 292 KUHP dibanding Pasal 82 Undang-undang nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

"Kalau udah ada kata-kata di bawah umur, harusnya majelis hakim enggak kenakan Pasal 292, tapi Pasal 82 UU Perlindungan Anak. Yang jelas DS ini masih dibawah umur dan diakui majelis hakim, tapi kok dipake Pasal 292," tuturnya.

"Harusnya majelis hati-hati lakukan putusan ini. Kami sayangkan. Putusan ini juga cepet, biasanya kan putusan satu minggu setelah replik itu. Ini kan kasus perlindungan anak bukan korupsi. Kami sangat kecewa," tambahnya.

Diberitakan sebelumnya, majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Utara menjatuhkan vonis tiga tahun penjara kepada penyanyi dangdut Saipul Jamil (35), terdakwa kasus pencabulan anak.

Ia dinilai bersalah melanggar Pasal 292 KUHP tentang perbuatan pencabulan terhadap sesama jenis. Usai sidang, JPU Dado Ahmad Ekroni, menyatakan meminta waktu berpikir terlebih dulu.

"Secara teknis kami sudah membuktikan tindak pidananya. Makanya, kami punya waktu pikir-pikir sebelum menentukan sikap. Kami akan mempelajari dan mempertimbangkan apa saja yang dijadikan dasar majelis hakim, kami cocokkan dengan tuntutan kami," tutur Dado.

Mengenai keputusan majelis hakim menggunakan pasal 292 KUHP bukan pasal 82 Undang-undang nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, ia menilai tak masalah.

"Pasal 292 itu juga untuk di bawah umur. Yang jelas, lebih spesifik lagi ke sesama jenis. Karena UU Perlindungan Anak tidak khusus mengatur soal sesama jenis, makanya itu kami pakai pasal lapis atau alternatif. Kamu sudah mengantispasi semu," kata Dado.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X