Ada Apa Dengan Cinta: Lebih Dari Sebuah Film

Kompas.com - 15/09/2016, 19:30 WIB
Suasana syuting film AADC2 tampak dari kiri ke kanan: Riri Riza, Mira Lesmana, Nicholas Saputra, dan Dian Sastrowardoyo. MILES FILMSSuasana syuting film AADC2 tampak dari kiri ke kanan: Riri Riza, Mira Lesmana, Nicholas Saputra, dan Dian Sastrowardoyo.
EditorTri Wahono

Industri perfilman Indonesia sedang mengalami kebangkitan. Dalam delapan bulan tahun ini, sebanyak delapan film berhasil menjual lebih dari satu juta tiket bioskop. Padahal tahun lalu hanya tiga film yang mampu meraih kesuksesan yang sama. 

Dengan syuting film yang memadati jalanan di kota dan kemeriahan “karpet merah” saat penayangan perdananya hingga menarik perhatian para penggemar film, membuat Jakarta telah berubah menjadi “Jollywood.”

Perintis dari fenomena ini tak lain adalah seri film “Ada Apa Dengan Cinta” yang diberi julukan AADC1 dan 2 – masing-masing ditayangkan pada 2002 dan 2016.

Kedua film komedi-romantis (seperti film Notting Hill yang ditulis oleh Richard Curtis) hasil kolaborasi Mira Lesmana dan Riri Reza sebagai produser dan sutradara ini telah menjadi ikon dan saling terkait dengan identitas Indonesia pasca reformasi.

Penayangan film ini pun menjadi sebuah peristiwa nasional –a zeitgeist moment—ketika warganya jeda sejenak memikirkan bangsa dan negara dan beralih memikirkan sepasang kekasih yang bernasib tidak baik, Cinta yang diperankan Dian Sastrowardoyo—seorang aktris dengan kecantikan seperti Kate Winslet—dan si tampan Rangga yang diperankan Nicholas Saputra.

Mira Lesmana menuturkan, “Industri perfilman lokal mengalami keredupan hampir selama periode 1990-an. Pada saat itu, segala sesuatu yang berhubungan dengan perfilman harus mendapatkan izin dan siap disensor. [Mantan Presiden Abdurrahman Wahid] Gus Dur mengubah semua hal itu dan industri perfilman menjadi bebas.”

Pada 2002, setelah sukses dengan film anak-anak, Petualangan Sherina, Mira dan Riri sangat antusias untuk mencoba “bakat” mereka di pasar remaja. “Banyak orang merasa kami tidak waras, namun saya percaya bahwa jika kami berbicara dengan bahasa yang benar, dan masuk ke ‘dunia’ mereka maka kami akan dapat saling berkomunikasi.”

Berakhirnya era pengawasan ketat yang diterapkan rezim Suharto, mendorong para pembuat film berani menggunakan bahasa gaul (‘street talk’). AADC1 juga menggunakan puisi dari pahlawan seni, Chairil Anwar dan penulis cerita film Sjumandjaja. Dan kombinasi keduanya sangat menggemparkan. Mereka dengan mudah bergantian menunjukkan keahlian (yang satu dengan bahasa tinggi, dan yang lain dengan bahasa yang lebih bersahaja—tidak berbeda dengan tingkat bahasa Jawa yang halus dan kasar). 

Kedua perbedaan itu mencapai puncaknya dalam adegan yang sangat indah di akhir film pertama, di mana kita dapat melihat reaksi Cinta ketika mendengarkan suara Rangga membacakan puisi yang didedikasikan untuknya.

KRA Infografik data pencapaian AADC2 di pasaran sesuai catatab Karim Raslan.
Selain itu, bagi Riri, musik yang mengiringi sepanjang film ini juga memberikan sesuatu yang berbeda, yang menguatkan drama di film ini. Lagu ciptaan Anto Hoed dan Melly Goeslaw itu pun tentunya telah diputar di radio-radio selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Sangat sulit untuk menyangkal ketika Riri mengatakan, “Film ini melukiskan dengan baik rasa keIndonesiaan dari suatu pengalaman masa muda.”

Akan tetapi ketika film AADC1 ditayangkan pada awal 2002, optimisme yang ada di film ini –bahwa cinta dan persahabatan dapat menang melawan prasangka dan kekerasan– sangat bertolak belakang dengan realita politik dan ekonomi pada masa itu. Megawati Soekarnoputri tengah berupaya mengumpulkan kekuatan pasca pemakzulan Gus Dur, sementara kerusuhan antar agama terus memanas di Ambon dan Kalimantan. 

Meskipun menggambarkan ketidakpastian pada era setelah reformasi, AADC melukiskan Jakarta sebagai tempat yang penuh romantisme dengan kafe-kafe lawas–tempat ditemukannya penyair modern–, kedai buku bekas dan jalanan di pinggiran Ibukota dengan penerangan yang buruk. Namun, sebuah akhir yang ambigu –rekonsiliasi yang diikuti dengan kepergian Rangga ke New York dan ungkapan cinta yang dilukiskannya dalam surat– telah meninggalkan kisah percintaan yang tanpa penyelesaian.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X