Voice of Baceprot Ingin Dobrak Definisi Band Metal dengan Idealisme

Kompas.com - 20/08/2017, 07:32 WIB
Voice of Baceprot (VoB), band hijab beraliran metal asal Garut saat ditemui di @america, Pacific Place Mall, Jakarta Selatan, Sabtu (19/8/2017). KOMPAS.com/SINTIA ASTARINAVoice of Baceprot (VoB), band hijab beraliran metal asal Garut saat ditemui di @america, Pacific Place Mall, Jakarta Selatan, Sabtu (19/8/2017).
|
EditorKistyarini

JAKARTA, KOMPAS.com – Apa jadinya bila band-band metal yang biasanya identik dengan teriakan, warna hitam, atau musik berisik tergantikan dengan kemunculan tiga perempuan berhijab yang membawa suasana baru dalam dunia metal?

Mereka adalah Voice of Baceprot (VoB), band metal asal Garut yang terdiri dari Firdda Kurnia (vokal dan gitar), Euis Siti Aisyah (drum), dan Widi Rahmawati (bass0.

Ketika dijumpai Kompas.com di @america, Pacific Place Mall, Jakarta Selatan, Sabtu (19/8/2017), VoB mengutarakan bahwa kecintan mereka pada musik- musik metal karena ketidaksengajaan.

Mereka mendengar musik-musik metal untuk kali pertama dari Abah Ersa, yakni guru, mentor, sekaligus manajer VoB. Sampai akhirnya, terbentuklah band ini.

Awalnya, tiga remaja itu tak menyangka akan tercemplung ke dunia musik metal. Apalagi, mereka tak memiliki pengetahuan soal musik sama sekali.

“Enggak (nyangka) sih, secara dari wajah kami enggak ada metal-metalnya. Hahaha. Cuma enggak tahu kenapa pas denger (lagu) metal tuh, wah kita banget. Jadi langsung jatuh cinta deh,” ujar Fridda.

Firdda, Siti, dan Widi mengakui bahwa awalnya orangtua menentang niat mereka bermain musik metal karena khawatir bakal ada pandangan negatif dari lingkungan sekitar.

“Orangtua awalnya kaget pas lihat saya pulang bawa gitar. ‘Apaan tuh bawa-bawa gitar?’ ‘Ma, saya mau fokus di musik, di band’. Awalnya menantang keras,” ungkap Fridda.

Sama halnya dengan Siti dan Widi. Siti menerangkan bahwa kakak dan ayahnya lebih sering bertanya-tanya soal kesukaannya itu.

Sementara itu, Widi mengatakan bahwa orangtuanya sempat ngambek dan menyarankan dirinya untuk mendengarkan lagu-lagu Sunda saja.

Lagu-lagu kegelisahan

Berbekal idealisme dan kecintaan pada genre musik ini, VoB pun tak mau menyerah. Akhirnya, mereka bertiga belajar soal musik dari nol bersama Abah Ersa.

Hingga kini, mereka sudah memiliki empat lagu yang semuanya terinspirasi dari kegelisahan sehari-hari. Salah satu lagu mereka ialah "School Revolution".

"Jadi ini bentuk marah kami terhadap sekolah. Menurut saya di Indonesia tuh udah saatnya menggunakan sistem pendidikan yang lebih menuju ke pembentukan karakter sebagai manusia," ucap Firdda.

Adapula "Age Oriented”, lagu yang terinspirasi dari penolakan yang didapat VoB untuk tampil di sebuah acara, dengan alasan umur mereka masih muda.

"Kami pernah ditolak manggung dengan alasan umur. Kami curhat lewat lagu. Ini tentang pemasungan karya karena usia," jelas Firdda lagi.

Sempat Diremehkan

Dalam perjalanannya, VoB memang tak selamanya memperoleh jalan mulus. Adakalanya mereka harus menghadapi cibiran orang-orang sekitar.

“Sering banget sih (diremehkan), mulai dari media sosial. Ya, kata orang-orang sempat ada yang request kami di Hammersonic kan, orang-orang banyak yang bilang ah masih banyak yang bagus. Masih banyak band-band bagus yang belum terekspos,” kenang Firdda.

Nyatanya, di sekolah juga mereka tak terlalu mendapat dukungan. VoB sangat menyayangkan hal tersebut. Padahal, mereka berharap pihak sekolah bisa bangga dengan karya dan prestasi yang sudah dibuat.

“Di sekolah juga guru-guru bilang gini, ‘Ngapain jadi artis? Nanti juga bakal redup. Apaan itu main musik gitu. Kalau udah enggak musim, nanti redup sendiri.’ Suka pada begitu dan itu orang terdekat, orang-orang sekitar,” ucap Firdda.

“(Kalau teman-teman) ada yang support, ada juga yang enggak. Ada yang nyepelekan,” timpal Widi.

Meski tak sepenuhnya mendapat apresiasi dan pengakuan, band yang dibentuk pada 2014 ini hanya membalas dengan karya.

“Selera musik kan beda sama kami. Mereka lebih ke pop sedangkan kami suka metal. Mereka suka aneh, ngapain sih lagunya berisik, liriknya kasar-kasar. Katanya metal, moral terjaga, tapi dengernya musik-musik kasar. Kadang suka jelasin, mereka juga enggak bakal ngerti. Jadi kami lebih milih diam, senyum, dibalas dengan karya aja,” terang Firdda.

Di sisi lain, band pengemar Slipknot dan Linkin Park ini ingin sekali mendobrak definisi yang melekat pada band-band metal. VoB ingin menjadi diri mereka sendiri dalam mengeksplorasi musik-musik metal.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X