Ketoprak Himpuni, Berharap Pada Seni Tradisi - Kompas.com

Ketoprak Himpuni, Berharap Pada Seni Tradisi

Kompas.com - 26/02/2018, 07:05 WIB
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi bersama anggota Himpuni saat bermain ketoprak canda, Jumat (23/2/2018).Yusuf Susilo Hartono Kabare Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi bersama anggota Himpuni saat bermain ketoprak canda, Jumat (23/2/2018).

SUDAH menjadi cerita lama, seni tradisi berupaya dimotivasi berbagai khalayak. Warisan budaya asli diberi ruang lebih, yang tak hanya muncul dari kalangan seni.

Kali ini, pentas ketoprak jenaka dihelat oleh Perhimpunan Ikatan Alumni Perguruan Tinggi Negeri ( Himpuni) yang peduli. Pergelaran itu, di sana-sini, tertata lemah. Tapi, di situ pula terhampar harap di benak.

Jumat, 23 Februari 2018 lalu di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, sekumpulan pejabat, petinggi negeri, tokoh publik, pengusaha, sampai mantan aktivis tampil satu panggung.

Lakon ketoprak canda-nya berjuluk “Geger Batavia”. Digelar dan direspons beraneka. Sebagian pewarta yang hadir mengatakan ketoprak rasa Pilkada, sementara yang lainnya menyindir sebagai ajang silaturahmi keluarga.

Pihak yang lainnya menimpali, peristiwa seni tradisi itu hanya jeda lucu-lucuan belaka. Hiburan biasa, tak usah terlalu diberi makna.

Baca juga : Pejabat DKI Persembahkan Ketoprak Membangun Kota Raja untuk Djarot

Sementara, penyelenggara (Himpuni) bersikukuh bahwa narasi ketoprak adalah mengingatkan kondisi saat ini. Katanya, ada ancaman dari luar, dari kekuatan asing yang berpotensi merusak persatuan NKRI. 

Lakon “Geger Batavia” memang bertutur sejarah Sultan Agung Mataram yang ingin mengusir VOC dari bumi Nusantara. Hal itu karena mereka (VOC) memonopoli perdagangan.

Maka, terjadi intrik-intrik politik, pengkhianatan para Dipati sampai pertempuran tentara-tentara asing dan pemberontakan di daerah-daerah.

Cukup heroik penjelasannya di naskah. Meski, tak cukup tercerna dengan baik oleh penonton, karena terlalu banyak canda daripada pesan serius yang disampaikan di pentas.

Pokja (kelompok-kerja) seni budaya Himpuni, yang didirikan sekitar dua tahun lalu, dibentuk bersamaan pokja-pokja lain. Seperti pokja penelitian dan akademi, ekonomi, olah raga, dll.

Terdiri dari elemen 32 organisasi ikatan atau keluarga alumni. Semisal dari ITS, ITB, UI, UGM, Unair, Undip, Unej, Unibraw, dan lain-lain berupaya total berekspresi.

Dipandu sanggar seni ketoprak Adhi Budaya, sejak beberapa tahun lalu, dengan instruktur utama serta pemain lakon yang kuat. Semacam Kies Slamet, ternyata berjalan terengah-engah.

Para pemain yang sebagian besar anggota Himpuni, salah dialog, gagal fokus di panggung, kedodoran dalam penokohan, sampai gaya bicara sekenanya yang memicu gelak tawa.

Memang namanya Ketoprak Guyonan, menghibur tapi pada akhirnya membuat nalar kita berpikir kritis: apakah hanya sampai di situ energi seni Himpuni?

Apakah sia-sia pergelaran mereka, sementara infrastruktur seni kita memang sejak lama lemah, pemerintah seakan berjarak; dan pentas seni sangat perlu dukungan dari berbagai pihak?


Seni tradisi, suara dari bawah

Tak ada yang mubazir, demikian pula upaya Himpuni. Seni ketoprak adalah seni rakyat. Mereka adalah suara-suara masyarakat bawah yang tersumbat.

Dulunya, ekspresi seni ini bercita rasa hiburan sarat makna, bercermin pada peristiwa-peristiwa yang monumental di masa silam. Kaca Benggala, refleksi kronik dialog penguasa negeri dan rakyatnya pada masa-masa krisis sebagai pengingat.

Anggota Himpuni berakting dalam pergelaran ketoprak guyonan di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki Jakarta, Jumat (23/2/2018).Abdillah M Anggota Himpuni berakting dalam pergelaran ketoprak guyonan di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki Jakarta, Jumat (23/2/2018).
Tradisi itu bertransformasi menjadi sekadar peristiwa canda-hiburan, minus penghayatan dan tampilan berkarakter. Dipentaskan dengan hura-hura, dipoles di sana-sini untuk mendulang empati, menggiring kelas menengah-atas menghampirinya.

Tidak salah mutlak meskipun tak sepenuhnya tidak benar. Namun, sangat ideal jika seni tradisi selayaknya dikembalikan pada habitatnya: dinikmati semua orang.

Samar-samar pelaku seni tradisi terlihat, meski kabur, di antara hingar-bingar generasi milenial yang memaknai “animasi wayang kultur pop” dengan caranya sendiri lewat Youtube.

Di saat sama, Ketoprak Tobong tradisional nyaris punah, mereka yang benar-benar serius memanggungkan lakon, sampai kisah kesehariannya yang terlunta-lunta segera menyeruak ke dalam benak.

Minim sekali regenerasi, dan masalah klasik kekurangan dana, serta penampilan yang jauh dari memikat pirsawan muda.

Srimulat, kelompok sandiwara rakyat, berasosiasi dengan ciri Ludruk Jawa Timur, yang tumbuh di THR, Surabaya, yang dibalut komedi kental selalu terbawa-bawa ingatan pada era 80-an.

Bintang mereka dulu berbinar-binar. Layak dipoles kembali, dikangeni, dicoba ditampilkan ulang via pentas Himpuni ini.

Kadir, Tessy, dan Polo sebagai bagian dari kelompok Srimulat entah sudah berapa kali dalam setahun bisa tampil karena tergerus stand-up comedy. Mereka pada acara ketoprak humor ini akhirnya manggung.

Mungkinkah, seperti era Markeso, pentas monolog tradisional (ludruk garingan) yang dulu tenar, pentas dari kampung ke kampung (dari pangggung ke panggung) kemudian segera sirna ditelan zaman?

Era pentas di televisi meredup, demikian pula makin jarang ada tawaran pentas. Srimulat maupun perkumpulan Wayang Orang (WO) merana.

Sejak awal, Himpuni memang nampaknya tak berharap menyandingkannya dengan pentas pertunjukan serius, semacam teater modern dan penuh kekuatan improvisasi keaktoran yang andal.

Kemudian, narasi yang memunculkan kejutan-kejutan di tangan sutradara bertalenta pun piawai membuat konsep acara, memilih tema atau malahan menerobos dengan ide gila menyambangi medium digital?

Selayaknya, itu semua dicoba oleh Himpuni. Berkolaborasi dengan teater-teater modern yang mapan. Taruhlah, semacam Teater Koma yang legendaris itu, yang menyedot penonton kalangan menengah-atas tanpa meninggalkan kualitas.

Atau, dengan teater Gandrik, yang lucu, yang tentunya dinikmati tak hanya keluarga dan kolega terdekat penyelenggara. Tapi masyarakat umum yang mencintai tontonan bermutu.

Seterusnya, serahkan saja pada ahlinya, anggota Himpuni tak perlu jadi aktor dadakan. Himpuni bisa menginisiasi ingatan pada tampilan teater-komedi satir serius ala Moliere dari Perancis sana, yang diadopsi dengan cita-rasa lokal.

Membangun apresiasi, dengan mendukung dari belakang komunitas-komunitas teater yang berkualitas, siapa tahu bisa terealisasi?


Harapan dari pendidikan

Realitasnya, cita-cita Nawacita penyelenggara negara ini, agar bangsa kita berdaulat di wilayah budaya nampaknya makin samar. Undang-Undang Kemajuan Budaya boleh saja diluncurkan, namun implementasinya yang belum beranak-pinak.

Teater rakyat di Jawa, dalam bentuknya seperti ludruk, ketoprak, wayang orang, wayang kulit di beberapa daerah, hanya sesekali tampil “meraksasa” di Taman Budaya.

Sementara itu, festival kesenian rakyat dan ajang seni tradisi atau seni panggung kontemporer yang berskala global mewakili seniman Indonesia, sepertinya belum cukup maksimal dihelat.

Sayup-sayup pertunjukan akbar di manca negara tahun lalu itu terdengar lirih di dalam negeri. Ada banyak yang digelar, ada sebagian yang layak dihargai.

Tapi, semakin meluber pula yang luput dari radar amatan dari persebaran kesempatan komunitas-komunitas seni yang berderak tumbuh setiap saat. Mereka sejatinya berbakat, bisa tampil mencerahkan, tak terserap, yang kemudian melambat oleh berbagai sebab.

Akar dari semuanya adalah belum cukup tersedianya sistem pengembangan dan pertumbuhan melalui pendidikan seni tradisi yang baik, menggalinya sebagai potensi kekayaan adab dan pengetahuan.

Kita masih lengah, tak memberi penghargaan yang pantas bagi seniman maupun calon seniman itu.

Lagi-lagi, kita tak punya banyak role model, yang sesekali saja mendengar kabar untuk rujukan dan menjadi tauladan semangat.

Seperti aktor, sutradara, yang juga penulis, Putu Wijaya, yang tahun ini baru saja mendapat gelar kehormatan akademik, Doctor Honoraris Causa (HC) dari Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta, untuk seniman teater berprestasi dalam pengembangan ilmu seni teater modern.

Putu berpidato, dalam pengukuhan gelarnya bahwa akar-akar seni tradisilah yang menjadi kunci untuk memenangkan seni Indonesia di forum-forum seni teater global.

Pada akhirnya, kita kemudian, lagi-lagi bersandar pada Ki Hajar Dewantara, siapa lagi kalau bukan dia, yang ia seakan bersuara kencang: Sistem pendidikan dan pengajaran di Indonesia, harus disesuaikan dengan kepentingan rakyat, nusa dan bangsa, kepentingan hidup kebudayaan dan hidup kemasyarakatan dalam arti yang seluas-luasnya (Pusara, Januari 1955).

Senyatanya, kehadiran Himpuni sebuah alternatif. Sebuah kekuatan, bertemunya banyak orang berpotensi, yang masih peduli dengan cara menabur jejaring, membuka akses, yang seperti kata-kata Ki Hajar Dewantara bisa membantu “kepentingan hidup kebudayaan dan hidup kemasyarakatan”.

Mereka (Himpuni) aset yang perlu dieksplorasi meski pergelarannya kali ini minim apresiasi. Maka, sepatutnyalah diberi wadah lebih luas berkreasi.

Mungkin saja mereka kelak bisa berkontribusi di sistem produksi peristiwa atau wacana seni yang berbobot? Dibutuhkan namun perlu dikawal ketat, dibuntuti sekaligus didampingi. Agar energinya tak habis dan semoga tak pernah henti memberi.

 

 

 


Komentar
Close Ads X