Joko Anwar Stimulasi Otaknya dengan Nonton di Bioskop

Kompas.com - 19/09/2018, 19:11 WIB
Joko Anwar berpose di sela kesempatan makan siang bersama yang diadakan rumah produksi Base Entertainment di Basic Instinct Culinary, Lot 22 Sudirman Central Business District, Jakarta Selatan, Selasa (18/8/2018). KOMPAS.com/IRFAN MAULLANAJoko Anwar berpose di sela kesempatan makan siang bersama yang diadakan rumah produksi Base Entertainment di Basic Instinct Culinary, Lot 22 Sudirman Central Business District, Jakarta Selatan, Selasa (18/8/2018).


JAKARTA, KOMPAS.com - Sutradara Joko Anwar terbiasa meluangkan waktunya untuk menonton film di bioskop. Menurut dia, kegiatan ini bisa menstimulasi otaknya.

"Ketika gua stuck nulis skenario, gue nonton. Pergi aja ke bioskop, nonton apa aja. Itu kalau aku, dan ini bukan jawaban yang ngasal, karena gua percaya otak kita ini banyak pintunya, apalagi creative brain," kata Joko dalam kesempatan makan siang bersama yang diadakan Base Entertainment di Basic Instinct Culinary, Lot 22 Sudirman Central Business District, Jakarta Selatan, Selasa (18/8/2018).

Sutradara film horor Pengabdi Setan itu bisa banyak mendapatkan imajinasi begitu dia keluar dari gedung bioskop.

"Begitu kita nonton film yang enggak ada hubungannya dengan cerita kita, karena kita berimajinasi, terus ada stimulan dari film itu maka akan kebuka pintu-pintu itu," kata Joko.

Baca juga: Joko Anwar Abadikan Tiga Judul Film Ini sebagai Tato di Tubuhnya

Sedikitnya ada tiga film terbaik sepanjang masa versi Joko yang melekat di memori kepalanya, yakni Punch Drunk Love, Lost Highway, dan True Romance. Film-film itu Joko saksikan di bioskop.

"Punch Drunk Love, waktu sebelum aku nonton film ini sudah kayak kehilangan kenikmatan nonton film, tapi setelah nonton film ini seperti balik lagi. Oh enak banget," kata Joko tentang film drama komedi-romantis arahan sutradara Paul Thomas Anderson serta dibintangi oleh Adam Sandler dan Emily Watson itu.

Yang kedua Lost Highway, film kriminal yang disutradarai David Lynch ini mencuri perhatian Joko pada 1997 lalu.

Sementara yang terakhir, Joko mengaku menyukai True Romance. American romantic black comedy crime film arahan sutradara Tony Scott ini disebut Joko sebagai film romantis terbaik yang pernah dibuat manusia hingga saat ini.

"Itu film romantis terbaik yang pernah dibikin manusia. Aku kalau nonton trailer-nya itu aaarrgghh... romantis banget. Aku dulu tahun 1993 nonton sampai tiga kali berturut-turut, kalau enggak salah jam satu, jam tiga, jam lima," tutur Joko.

"Punch Drunk Love, waktu sebelum aku nonton film ini sudah kayak kehilangan kenikmatan nonton film, tapi setelah nonton film ini seperti balik lagi. Oh enak banget," kata Joko

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Joko Anwar Abadikan Tiga Judul Film Ini sebagai Tato di Tubuhnya", https://entertainment.kompas.com/read/2018/09/19/171226110/joko-anwar-abadikan-tiga-judul-film-ini-sebagai-tato-di-tubuhnya.
Penulis : Irfan Maullana
Editor : Irfan Maullana



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X