Diiringi Debur Ombak Senggigi, Indra Lesmana dan Eva Celia Berkolaborasi

Kompas.com - 10/12/2018, 09:06 WIB
Penyanyi Eva Celia tampil di Senggigi Sunset Jazz 2018 di Pantai Senggigi, Lombok Barat, Minggu (9/12/2018). KOMPAS.com/FITRI RPenyanyi Eva Celia tampil di Senggigi Sunset Jazz 2018 di Pantai Senggigi, Lombok Barat, Minggu (9/12/2018).

SENGGIGI, KOMPAS.com - Salah satu musisi yang paling ditunggu di perhelatan Senggigi Sunset Jazz 2018 di Pantai Senggigi, Lombok Barat, Minggu (9/12/2018), adalah Indra Lesmana.

"Ini dia yang saya tunggu," kata beberapa penonton saat Indra menapaki panggung.

"Jazz yang sesungguhnya ada pada permainan Indra Lesmana malam ini," kata penonton lainnya.

Malam tadi, Indra tidak sendirian. Ia tampil ditemani putri sulungnya, Eva Celia. Kolaborasi ayah dan anak itu menghasilkan musik indah ditambah iringan debur ombak Senggigi.

"Saya baru pertama kali ke Lombok. Wow... ombak. Kalian kena ombak ya? Aku baru pertama kali ke Lombok ini,  Ayah juga pertama kali," Eva menyapa ribuan penonton di depan panggung.

Di panggung Senggigi Sunset Jazz 2018, Eva membawakan lagu-lagu yang sudah akrab di telinga publik Indonesia. Salah satunya adalah "Tak Akan Ada Cinta yang Lain" milik Dewa 19.

"Hmmm... Pernahkah terbersit olehmu.. aku pun takut kehilangan...," Eva Celia menyanyi dengan tangan menunjuk ke arah penonton.

"Dirimu...," para penonton pun urun suara.

Selain Eva Celia dan Indra Lesmana, Senggigi Sunset Jazz 2018 juga menampilkan antara lain Andien, Pusakata, RAN, dan Vina Panduwinata.

Ribuan orang menonton Senggigi Sunset Jazz 2018 yang digelar di Pantai Senggigi, Lombok Barat, Minggu (9/12/2018).KOMPAS.com/FITRI R Ribuan orang menonton Senggigi Sunset Jazz 2018 yang digelar di Pantai Senggigi, Lombok Barat, Minggu (9/12/2018).
Senggigi Sunset Jazz 2018 merupakan salah satu upaya pemerintah Kabupaten Lombok Barat untuk membangkitkan kembali pariwisata daerah yang dua kali diguncang gempa dalam pada 2018.

Pada kesempatan sebelumnya, Bupati Lombok Barat Fauzan Khalid mengatakan konsep Senggigi Sunset Jazz 2018 mengutamakan gerakan Lombok bangkit, bahkan Lombok yang telah bergerak lebih cepat atau berlari.

"Konsep psikoterapi yang ditawarkan dalam event jazz kali ini adalah untuk kepentingan masyarakat Lombok," kata Fauzan.

Fauzan menyadari genre musik jazz tidak ditujukan kepada semua kalangan masyarakat, melainkan kepada wisatawan dan generasi milenial.

"Tetapi masyarakat sebenarnya bisa menikmati musik ini, karena musik itu sifatnya universal dan cara menghilangkan trauma pascagempa adalah bahagia dengan musik," lanjut Fauzan.

Baca juga: Vina Panduwinata Terjebak Macet Sebelum Tampil di Senggigi Sunset Jazz



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X