Indonesia Dinilai sebagai Pasar Film Paling Potensial di Asia Pasifik

Kompas.com - 12/12/2018, 09:20 WIB
Produser Indonesia Sheila Timothy berbicara di depan forum CineAsia 2018 yang digelar di Hongkong, pada 10-13 Desember 2018. Dok. Lifelike PicturesProduser Indonesia Sheila Timothy berbicara di depan forum CineAsia 2018 yang digelar di Hongkong, pada 10-13 Desember 2018.

JAKARTA, KOMPAS.com -- Indonesia dinilai sebagai pasar film paling potensial di kawasan Asia Pasifik dalam konvensi film tahunan terbesar di Asia, CineAsia.

Pada 2017, data yang ada mencatat bahwa Asia Pasifik memberikan sumbangan box office sebanyak 16 miliar dolar AS atau meningkat 44 persen dalam kurun waktu lima tahun.

Indonesia menjadi negara Asia Pasifik yang memiliki perkembangan yang paling signifikan sehingga membuat CineAsia 2018 menyebut Indonesia sebagai The Rise of the Sleeping Giant.

Dalam konvensi yang berlangsung di Hong Kong Convention & Exhibition Centre pada 10-13
Desember 2018 itu, salah satu produser kenamaan Indonesia, Sheila Timothy, menjadi pembicara.

“Industri film Indonesia menunjukkan perkembangan yang signifikan dengan 28 persen peningkatan box office per tahun dalam kurun waktu empat tahun terakhir. Pada 2017 lalu, Indonesia menduduki posisi 16 pasar film terbesar di dunia," kata Sheila dalam keterangan tertulis Lifelike Pictures, Rabu (12/12/2018).

Produser dari film Wiro Sableng itu mengatakan, dengan jumlah penduduk yang besar, pasar yang sangat luas, dan bertumbuhnya kelas menengah membuat Indonesia menjadi pasar film paling potensial di kawasan Asia Pasifik.

Sheila menjadikan kesuksesan Wiro Sableng dalam menggaet 20th Century Fox dan menjadi ko-produksi film pertama Studio Hollywood tersebut di Asia Tenggara sebagai salah sati bukti potensi dari pasar film Indonesia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Selain itu, ada pula Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak yang berjaya di festival film dunia dan diganjar sejumlah penghargaan internasional.

"Dalam skala industri perfilman, Indonesia memang masih memiliki segudang pekerjaan rumah yang harus dibenahi," ucap Sheila.

Beberapa di antaranya, yakni perlunya meningkatkan jumlah pekerja film yang berkualitas, membangun infrastruktur film seperti penambahan layar bioskop, dan mengatur regulasi perfilman misalnya insentif produksi dan sebagainya.

"Namun demikian, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terus menguat dan peningkatan jumlah film Indonesia yang berkualitas, memberikan harapan dan optimisme bahwa industri film Indonesia telah bangkit. Semoga kebangkitan ini dapat terus meningkat dan film Indonesia semakin berjaya," ujar Sheila.

Dalam CineAsia 2018, selain Sheila, hadir pula beberapa pembicara lain. Mereka adalag Mike Ellis, President and Managing Director of the Asia-Pacific Region, MPAA; Gerald Dibbaywan, CEO, Cinemaxx Group; dan John Schreiner, Senior Vice President, Theatre Development, Russia, CIS, Middle East, and India IMAX Corporation.

Baca juga: 30 Bioskop di Kota-kota Utama Malaysia Akan Putar Film Wiro Sableng

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.