Mencari Ruang Ketiga Perempuan

Kompas.com - 11/03/2019, 17:44 WIB
Self Portrait (Triptych), 90 x 60 cm x 3,  C-print, 2016.
Melati Suryodarmo Self Portrait (Triptych), 90 x 60 cm x 3, C-print, 2016.

PADA Maret ini, ada pameran cukup menarik untuk ditelaah. Perhelatan ini ingin mengeksplorasi eksistensi Eve, sebagai semacam metafora energi feminitas.

Perempuan (Eve), sepanjang peradaban, acapkali keberadaanya dipertentangkan dengan oposisi binernya: laki-laki (Adam). Sementara perempuan, terus-menerus ditantang beban kebimbangan identitas kultural-spiritualnya. 

Peneguhan-peneguhan yang silam, seperti klaim kesetaraan atas peran tradisionalnya sebagai “makhluk privat” disandingkan dengan “makhluk sosial” senyatanya dari hari ke hari nyaris terwujud.

Tapi kegelisahan belumlah usai. Tatkala hidup berlanjut, menawarkan kompleksitas dan kemungkinan-kemungkinan. Ruang-ruang kosong di batin meminta diisi, realitas-realitas alternatif yang baru hadir dan menuntut diberi makna dan pengertian.

Kajian ilmu-ilmu budaya dan seni memberi sinyal, upaya memeriksa kembali jalannya pemahaman tentang eksistensi ekspresi artistik perempuan di era modern.

Dari pengalaman-pengalaman personal yang paling subtil, yang diperkaya dengan aspek moralitas, kesadaran kerapuhan atas tubuh dan ingatan-ingatan kolektif yang mengeras atau mencair, persilangan – persilangan kultural, kecemasan – kecemasan yang bersua realitas psiko-geografik di era cyber connectivity.

Selalu menarik membincangkan ulang, melihat para seniman perempuan ini berupaya menemukan ruang-ruang barunya dengan pernyataan isu-isu tentang teritori yang kadang kala kontradiktif. Tak ada pengentalan ekspresi identitas seperti masa lalu. 

Pengkaji kutural seperti Hommi Bhaba menyebutnya sebagai Ruang Ketiga (Third Space). Memahami fenomena Hibriditas, tak ada yang benar-benar utuh dan tunggal.

Menerima ambang warisan kultural yang meluas-menyempit, mencampurkan praktik dan diskursus dalam teka-teki, mencari-cari energi spiritualitas tatkala dalam kondisi in between.

Kita bisa menguji sekaligus menikmatinya bersama dalam pameran berjuluk: Reinventing Eve yang dihelat pada 13-17 Maret 2018 ini di Park 1 Avenue, Function Hall, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Pameran ini diselenggarakan dan dikurasi ISA Art Advisory.

Arahmaiani, sebagai orang Jawa-Sunda yang Muslim, mengeksplorasi proyek seninya dengan lukisan-lukisan, obyek, instalasi dan performans dengan teks-teks Arab-Melayu (Jawi atau Pegon).

Upaya mentransformasi kegelisahan dan pencarian tak henti akan akar kultural leluhurnya sekaligus energi spiritual membawa bahasa lokal yang mewarisi ratusan tahun perjumpaan budaya Muslim di Tanah Air dan kepercayaan Budhis di Tibet.

Ella Wijt melihat “Bumi dan Dunia” dalam imaji personalnya. Ia menafsirkan ulang tentang cerita mistis setempat, lokasi di mana ia tinggal dan berkarya tentang legenda perempuan menangis dan ular yang dikaitkan dengan mitologi Yahudi.

Kisah ini yang pada akhirnya mengubah cara ia memahami objek, alam, dan keyakinan-keyakinan tertentu dengan lukisan-lukisannya.

Ines Katamso, yang menyajikan kanvasnya dengan bentuk-bentuk geometris, garis, dan pola-pola organik adalah manifestasi refleksi diri bahwa ia mencoba memahami makna kerapuhan.

Manusia, katanya mengalami momen-momen keterpisahan antara dunia dan realitas yang acap kali membuat gamang memahami visi kita masing-masing dalam kehidupan.

Inge Rijanto dengan karya tiga dimensinya memanggungkan figur-figur manusia. Ia menelaah gestur-gestur orang-orang biasa dalam keseharian, yang memperkaya batinnya tentang ekspresi, tubuh-tubuh survival yang mewakili dunia riil. Itu semua, dapat kita lihat dan rasakan dalam karya-karyanya.

Lindy Lee, seorang seniman Australia membawa kultur leluhurnya dengan filosofi Taoism dan Ch’an (Zen) Buddhism melalui meditasi, yang menghubungkan manusia dan semesta.

Lee menerjemahkan simbol-simbol secara intim, memeriksa ulang, tentang teknik wax splatters dan ink spills warisan lukisan China, yang dikembangkan dalam bentuk skulptural bermateri cetak bronze.

Ia menguji konsep kekuatan atas kehadiran, tentang makna keabadian untuk saat ini, yang dipercayai sebagai keyakinan teguh Budhism.

Marissa Ng adalah seniman Malaysia yang gaya abstraknya dengan teknik brush stroke secara spontan terekspresikan dari ruang-ruang subtil personalnya.

Ia tumbuh dewasa tatkala masa-masa kesakitan neneknya saat terkena penyakit kanker, yang mendorongnya membuat lukisan akan memori neneknya sedang memasak di dapur. Lukisan abstraknya adalah paparan rasa duka dan emosi yang mendalam.

Mary Lou Pavlovic adalah seniman Australia yang tinggal di Bali, yang terpikat bunga dalam konsep kecantikan feminin ala Barat dalam arti: kelembutan.

Ia secara mendalam segera menyadari, kecantikan religi dalam konsep bunga di Hinduism ternyata tak hanya simbol feminitas.

Karya skluptural bunganya membuka dialog, dengan materi resin yang secara praktik dalam tradisi seni rupa Barat ditegangkan dengan gaya mematung ala Bali.

Karyanya mengalami keterbelahan, menanggalkan klasifikasi yang tegas dengan simbol-simbol yang lebih kompleks tentang bunga dan alam.

Melati Suryodarmo menguji tradisi potret ala Barat dengan Tari Butoh, yang memanggungkan potret dirinya sendiri. Ia meleburkan genre seni performans-nya sembari membebaskan dirinya menelusuri pengertian-pengertian anyar dari riset terbarunya tentang elemen puitis yang dihadirkan seiring aksi performans-nya.

Melati mengakui, bahwa seniman performans, seperti seorang penulis, meletakkan kata-kata sekuen demi sekuen layaknya membuat puisi, sementara fotografi membekukan gerakan-gerakan tubuh.

Melissa Tan adalah seniman Singapura yang mengeksplorasi proses pembentukan alamiah dalam kerapuhan-kerapuhan yang cepat terjadi di alam. Ketertarikannya dengan ilmu geografi mendorongnya memahami tentang bebatuan.

Ia menghubungkan asteroid dan mitos dewa Yunani dan Roma yang mengungkap transisi antara hidup dan mati. Karya skulpturalnya menyatakan simbol peran perempuan pada ambang narasi-narasi yang selalu diciptakan ulang, didefinisikan kembali di abad modern ini.

Mella Jaarsma adalah seniman Belanda yang telah lama mengenal Indonesia dan bertempat tinggal di Yogjakarta. Ia dikenal dengan proyek-proyek instalasinya yang membincangkan keberagaman ras dan kultur yang didekatkan pada pakaian, tubuh, dan makanan lokal.

Dalam karyanya kali ini, ia kembali mengeksplorasi, mempertanyakan dan menyelidiki, memori-memori keberadaan tumbuhan-tumbuhan/makanan lokal, seperti kelapa dan kultur kebinekaan yang ada di sini.

Natisa Jones selalu tertarik dengan bahasa dialog-privatnya yang khas, sebagai upaya membincangkan “the self”, pengalaman-pengalaman sangat individual, antara proses kreatif, relasi yang membentuk imej dan teks.

Seperti katanya, “Ini adalah jalan untuk memahami dan berefleksi yang merupakan proses membangun diri, menyimbolkan friksi antara identitas dan harapan, di mana kita hidup dalam kondisi ketidakjelasan ruang privat/komunal”.

Rega Ayundya Putri mendedah energi ambang bawah sadarnya, yang melahirkan kosa kata visual dengan pesan-pesan cenderung berpola surreal. Seperti pesan yang tak langsung, yang memberi kesempatan apresiannya menafsirkan sebebasnya, terutama kondisi perasaan tertentu.

Rega seringkali dalam psikologis yang murung, tatkala membuat karya, dan inilah yang selalu ingin ia bagi dengan pemirsanya. Di karyanya ia acapkali memproyeksikan makna dualitas dalam rasa.

Sally Smart adalah seniman Australia, yang berkarya dengan teknik collage, instalasi assemblage yang menggali tema-tema tentang identitas politik, tubuh, dan sejarah.

Belakangan ini Smart dengan teknik-teknik elemen assemblage-nya hadir dengan proyek yang disebut The Choreography of Cutting. Ia menelusuri jejak rekonstruski sejarah Teater dan Performans juga Tari. Ia dalam pameran ini mempresentasikan kompleksitas identitas manusia, tubuh dan gerak Tari.

Sinta Tantra menggali konsep drawing dan warna, yang mampu membangun imaji antara dua dan tiga dimensi yang bisa saling tarik-menarik dalam bidang-bidang tak terbatas.

Lukisan-lukisannya, menguji disiplin kreatif dalam dua hal: arsitektur sekaligus lukisan. Sinta mempertanyakan bahwa bisakah lukisan menjadi arsitektur dan sebaliknya?

Hal ini semacam orkestrasi, antara ritem dan melodi akan warna, yang bisa diartikan juga dikotomi maskulin/feminin yang abstraktif. Tantra percaya bahwa seni senyatanya mendukung esensi dasar nilai-nilai kita sebagai manusia.

Ke-14 perupa perempuan yang berpameran, dengan risiko yang datang dari berbagai teritori, baik dalam latar belakang studi, memiliki keluarga “campuran dengan domisili di kedua lokasi: western-eastern”, ekspresi-ekspresi artistiknya benar-benar menjadi demikian majemuk, memicu krisis akar-akar kultural, menghadirkan wacana yang disebut Glocal (global sekaligus lokal).

Pada titik ini, seniman-seniman perempuan bertaruh untuk menjajal ulang identitas teritorinya, baik secara psikologis, spiritual, kultural maupun geografis untuk mencari makna tentang bahasa visual yang dianggap terkini dan nyaman bagi mereka.

Hibriditas Estetika (meminjam konsep cair dari The Third Space), telah meniadakan oposisi biner selamanya.

Pada satu hal kita temui yang “authentic” dari lokalitas budaya, pada hal lain ternyata hal tersebut bertemu “nothing authentic” lagi.

Maka, perupa-perupa perempuan, secara global maupun lokal berupaya terus-menerus mencari, menelisik sembari berharap menemukan kembali apa yang disebut dengan eksistensi kaum Hawa hari ini dalam karya-karya mereka. (Bambang Asrini Widjanarko)

 

 



Close Ads X