Bentara Budaya Bali Kenang Sosok dan Kiprah Penyair Reina Caesilia

Kompas.com - 17/05/2019, 16:44 WIB
Penyair Reina CaesiliaDok Bentara Budaya Penyair Reina Caesilia

JAKARTA, KOMPAS.com -- Bentara Budaya Bali (BBB) mengenang sosok dan kiprah penyair Reina Caesilia, yang meninggal dunia pada 2 April 2019 dalam usia 54 tahun.

Pada Sabtu, 18 Mei 2019, mulai pukul 17.00 WITA, dalam acara Dialog Sastra #65: Obituari Penyair Reina Caesilia, BBB menyajikan pembacaan karya Reina, musikalisasi puisinya, dan bincang-bincang mengenai karyanya.

Reina, yang nama aslinya Caesilia Nina Yanuariani, lahir di Solo, Jawa Tengah, pada 29 Januari 1965. Namun, ia besar di Singaraja, Bali, hingga tamat dari SMAN 1 Singaraja. Ia terbilang produktif menelurkan puisi dan esai sejak SMA.

Baca juga: Karya 43 Pelukis Bali Lintas Generasi Dipamerkan dalam Kawitan

Bakatnya mulai terasah dengan perhatiannya yang lebih sungguh-sungguh setelah karya-karyanya masuk Bali Post.

Mentor Reina sekaligus redaktur di koran tersebut, Umbu Landu Paranggi, memuat di koran itu sejumlah karya Reina yang dianggap Umbu unggulan.

Reina memang sering hadir dalam berbagai pertemuan komunitas sastra, tak terkecuali Jatigagat Kampung Puisi (JKP) Bali, yang diarahkan oleh Umbu.

Baca juga: Kartun Ber(b)isik Dihadirkan di Bentara Budaya Bali

Puisi-puisi Reina kemudian terbit di berbagai media serta terangkum dalam berbagai kumpulan puisi bersama penyair-penyair lain, contohnya "Pedas Lada Pasir Kuarsa" (2009), "Dendang Denpasar Nyiur Sanur" (2013), "Dari Negeri Poci 6: Negeri Laut" (2015), "Klungkung: Tanah Tua Tanah Cinta" (2016), dan "Saron" (2018).

Namun, sampai ia berpulang, buku antologi tunggal puisinya belum sempat diterbitkan.

Banyak puisi Reina yang mencerminkan sikap pro-feminisme. Lewat karya-karyanya itu ia menggugat budaya patriarki yang dirasanya tidak adil dan menghalangi kebebasan berekspresinya sebagai kreator.

Dalam pendidikannya, Reina, yang memilih pindah dari Jurusan Sastra Inggris ke Jurusan Sastra Indonesia, Fakutas Sastra Universitas Udayana, Bali, keluar sebelum tamat dari universitas tersebut.

Ia kemudian meraih gelar Sarjana S1 di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Dwijendra, Bali.

Dalam perjalanan kariernya, Reina juga menggeluti bidang jurnalistik sebagai wartawan hingga redaktur di media cetak dan online di Bali.

Baca juga: Bentara Budaya: Di Jakarta Film Benyamin S, di Bali Film Anti Korupsi

Karya-karya dan sosok Reina Caesilia akan dibahas oleh sastrawan Wayan Jengki Sunarta dalam Dialog Sastra #65.

Sementara itu, kiprah dan pergaulan kreatifnya akan dibahas oleh penulis dan pengamat seni Hartanto Yudho Prastyo.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


PenulisAti Kamil
EditorAti Kamil
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X