Kayuh Baimbai, Festival Seni dan Tiga Zonasi di Kalimantan

Kompas.com - 24/05/2019, 20:31 WIB
Logo Pameran Besar Seni Rupa (PBSR) Kayuh Baimbai Panitia PBSR Kemendikbud Direktorat KesenianLogo Pameran Besar Seni Rupa (PBSR) Kayuh Baimbai

SEBUAH acara tahunan yang dihelat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Kesenian Republik Indonesia tahun 2019 ini, dipusatkan kegiatannya di Kalimantan.

Samarinda menjadi pilihan kota tempat penyelenggaraan di provinsi Kalimantan Timur, dalam acara Pameran Besar Seni Rupa 2019 dengan tajuk utama “ Kayuh Baimbai”.

Sesuai dengan tim kurator, tema utama terinspirasi dari pidato Ir Sukarno pada 1 Juni 1945 di sidang BPUPKI yang merupakan intisari ideologi negara, yakni Pancasila dan Gotong-Royong.

Konsep ini sejalan dengan kosa kata lokal masyarakat Banjar di Kalimantan, Kayuh Baimbai, yang bermakna bekerja bersama-sama.

Kehidupan sungai, bagi masyarakat Banjar, adalah entitas materiil sekaligus spiritual, dengan pengertian denotatif Kayuh Baimbai yang artinya mendayung bersama di dalam sampan. Kontekstualnya, sealur dengan makna konotatif-nya yang memberi pengertian sama dengan Gotong Royong.

Festival merupakan selebrasi atau perayaan seni multi-disiplin yang mengundang seniman/perupa, desainer pun arsitek terbaik, yang lahir dan bertumbuh matang dari Kalimantan serta tersebar keseluruh Indonesia.

Seleksi partisipan melewati rekrutmen terbuka (Open Call) yang akan dikategorisasi dengan dua hal: seniman/perupa individual dan kolektif.

Seniman Individual adalah perupa yang merupakan perwakilan cara memproduksi artistik-nya sesuai ekspresi seni modern. Yakni, karakternya sealur dengan konsep individualisme, yakni sebuah artikulasi bahasa artistik yang sangat personal; dengan metoda berkarya melalui pola-pola dengan tata cara sangat eksklusif dan otonom.

Sementara, perupa Kolektif, adalah seniman yang dipengaruhi sifat dan karakter ekspresi seni kontemporer yang telah terbuka, mencair (tidak ekslusif dan meredusir sifat sangat personal) pun merespon kultur lokal yang mengglobal.

Paradigma seni kontemporer memberi peluang pada kemungkinan pemahaman yang berbeda sama sekali dengan seni tradisi atau masa kini (karakter pada seni modern).

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X