Arc of Bali Awali Kegiatan Bentara Budaya Bali Sesudah Lebaran

Kompas.com - 07/06/2019, 16:53 WIB
Salah satu karya yang dipamerkan dalam Arc of Bali: Reloaded Project #2019 X-tion di Bentara Budaya Bali pada 9-18 Juni 2019. Dok Bentara Budaya BaliSalah satu karya yang dipamerkan dalam Arc of Bali: Reloaded Project #2019 X-tion di Bentara Budaya Bali pada 9-18 Juni 2019.
Penulis Ati Kamil
|
Editor Ati Kamil

JAKARTA, KOMPAS.com -- Bentara Budaya Bali, di Ketewel, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar akan segera dibuka kembali untuk masyarakat, setelah liburan Lebaran.

Bentara Budaya Bali pada Sabtu (8/6/2019) mulai pukul 18.30 WITA akan mengadakan acara pembukaan pameran seni rupa Arc of Bali: Reloaded Project #2019 "X"-tion.

Pameran itu akan dilangsungkan pada 9-18 Juni 2019, tiap pukul 10.00-18.00 WITA.

Baca juga: Lentera Batukaru, Tutup Agenda Mei 2019 Bentara Budaya Bali

Pameran yang merupakan kerja sama Bentara Budaya Bali dengan Gurat Institute dan didukung Richstone Art & Design itu akan diikuti oleh 20 perupa muda dari Bali.

Mereka adalah Ida Bagus Gde Adi Jaya Artha, Agus Ramantha, I Made Budiyasa, Luh Gede Gita Sangita Yasa, Ngakan Putu Agus Arta Wijaya, Ni Nengah Mega Risna Dewi, I Kadek Suardana, I Ketut Suryawan, I Wayan Suwarita, Tri Akta Bagus Prasetya, I Made Marthana Yusa, Putu Suhartawan, Putu Dudik Ariawan, I Nyoman Kariasa, I Made Jendra, I Nyoman Suarnata "Rako", I Gede Jaya Putra "Dekde", I Ketut Kerta Yoga, Luh De Widya, dan Ketut Gede Susana.

Wayan Seriyoga Parta dan Made Susanta Dwitanaya dari Gurat Institute menjadi para kurator untuk pameran tersebut.

Baca juga: Film Si Mamad Karya Sjuman Djaja Akan Diputar di Bentara Budaya Bali

Arc of Bali: Reloaded Project #2019 "X"-tion mengedepankan potensi dari para seniman baru yang dinilai memiliki capaian stilistik dan tema yang otentik itu.

Para perupa muda tersebut merespons tema "X"-tion dalam judul pameran itu.  

Pihak penyelenggara pameran itu menyebut bahwa kita kini berada pada era lintas batas. Kecanggihan teknologi informasi merupakan keniscayaan yang mendorong kita untuk melihat secara kritis berbagai hal yang baku.

"X"-tion selaras dengan kenyataan tersebut.

Mengacu ke catatan pengantar pameran-pameran di Bentara Budaya Bali selama ini serta menyimak dinamika berkesenian di Bali khususnya dan Indonesia umumnya dan karya-karya dalam pameran itu, menurut pihak Bentara Budaya Bali tak berlebihan jika kita meyakini bahwa pada masa tertentu kelak, sebagaimana telah ditunjukkan melalui karya-karya masterpiece, apa yang disebut tradisional, modern, dan kontemporer boleh jadi bukan lagi bersifat dikotomis dan problematis, apalagi untuk dipertentangkan sebagai melulu yang lampau dan yang kini.

Diharapkan, para perupa muda akan terpicu juga melahirkan karya-karya masterpiece, yang mampu melampaui hal-hal yang bersifat dikotomis dan problematis.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X