Lentera Batukaru, Tutup Agenda Mei 2019 Bentara Budaya Bali

Kompas.com - 28/05/2019, 14:46 WIB
Novel memoar Lentera Batukaru karya Putu Setia Dok Kepustakaan Populer GramediaNovel memoar Lentera Batukaru karya Putu Setia
Penulis Ati Kamil
|
Editor Ati Kamil

JAKARTA, KOMPAS.com -- Sebelum musim liburan dalam rangka Idul Fitri 1440 Hijriah, Bentara Budaya Bali masih mengadakan satu kegiatan, Pustaka Bentara, pada Rabu, 29 Mei 2019, dari pukul 19.00 WITA sampai selesai.

Pustaka Bentara kali ini akan membahas novel memoar Lentera Batukaru karya Putu Setia (Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda), yang diterbitkan oleh KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) pada April 2019.

Lentera Batukaru berkisah tentang keluarga-keluarga sederhana di lereng Gunung Batukaru, Bali, yang berpemandangan indah dan berudara sejuk.

Terkait situasi 1960-an, keluarga-keluarga tanpa pendidikan memadai itu terbawa arus sejarah, dari apa yang disebut Tragedi G 30 S/PKI hingga Pemilihan Umum 1971 atau pemilu pertama Orde Baru.

Ketika itu banyak kisah kemanusiaan yang sedih. Putu Setia, yang pernah menjadi jurnalis pada sejumlah media, menuliskannya dengan pendekatan jurnalistik.

Ia tak sepenuhnya menggunakan bahasa sastra. Ia juga tidak menuangkan kemarahan dan kebencian.

Baca juga: Datang ke Bentara Budaya Bali, Belajar Manajemen Produksi Pertunjukan

Melalui novel memoar tersebut, Putu Setia menyampaikan pesan tentang bagaimana seseorang pasrah menerima takdir sekaligus tetap berusaha memerbaiki diri dengan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Ia mengajak orang-orang untuk menempuh jalan damai, jalan spritual, dengan menyalakan lentera di lereng Gunung Batukaru.

Putu Setia juga menceritakan perjuangan panjangnya, dari menekuni profesinya sebagai jurnalis hingga menetapkan diri membuat pasraman Manikgeni di Pujungan, Tabanan, dan menjadi Pendeta Nabe pada 3 Juli 2012.

Baca juga: Film Si Mamad Karya Sjuman Djaja Akan Diputar di Bentara Budaya Bali

Pustaka Bentara menghadirkan tiga orang sebagai pembahas Lentera Batukaru: Widminarko (77), Wayan Westa (54), dan Putu Setia (78).

Widminarko, yang lahir di Banyuwangi, Jawa Timur, dan menetap di Bali sejak 1962, merupakan pelaku sejarah era 1960-an.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X