Mitos Wong Kalang di Kendal Diangkat ke Layar Lebar

Kompas.com - 14/10/2019, 08:01 WIB
Senior Vice Presiden Marketing Viu, Myra Suraryo . KOMPAS.COM/SLAMET PRIYATIN KOMPAS.COM/SLAMET PRIYATINSenior Vice Presiden Marketing Viu, Myra Suraryo . KOMPAS.COM/SLAMET PRIYATIN

KENDAL, KOMPAS.com - Mitos Wong Kalang di Kendal Jawa Tengah diangkat menjadi tema film pendek karya sineas Kendal. Pembuatan film ini, bekerja sama dengan layanan streaming Viu.

Rencananya, film yang berjudul Kalang Obong yang sudah selesai penggarapannya tersebut ditayangkan di 17 negara dan diikutkan dalam sejumlah festival film bertaraf international.

Senior Vice Presiden Marketing Viu, Myra Suraryo, mengatakan penggarapan film ini dilakukan untuk memberikan wadah bagi sineas Kendal dan komunitas film serta seni budaya di Kendal.

Baca juga: Cinta Laura Sebut Industri Film Indonesia Berkembang Pesat

Ia menjelaskan, pihaknya tidak ingin mengubah paradigma konsumtif masyarakat yang hanya bisa menonton.  Viu Short ini, lanjut Myra, berkontribusi dengan karya anak-anak muda Kendal.

“Mereka kami beri pelatihan dan workshop pembuatan film, diberi ruang membuat ide cerita dan dituangkan melalui film pendek,” ujarnya dalam konferensi pers di Kendal, Minggu (13/10/2019).

Program Viu Short ini, menurut Myra, sudah berjalan di 17 kota pada musim pertama tahun 2018-2019. Pada musim kedua ini, Kendal menjadi salah satu kota yang dituju. 

“Untuk proyek pembuatan film Viu mengangkat mitos, budaya yang melekat di masyarakat. Apa yang menjadi keunikan dari kota yang kami singgahi diangkat menjadi karya film yang nantinya bersaing dengan karya negara di Asia maupun Eropa," ujarnya.

“Kami ingin mengangkat keunikan Indonesia yang menjadi daya tarik internasional. Banyak  mitos atau sejarah nyata, tetapi tidak terdokumentassikan dengan baik,”  imbuh Myra.

Baca juga: Jokowi Sebut Film Indonesia Sudah Jadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri

Sementara itu, Ketua Tim Inisiasi Komisi Film Daerah Kendal, Ardian Joeniarko, mengatakan bahwa tema yang diangkat dalam film Kalang Obong adalah konflik rasional dan budaya.

Film itu, mmenceritakan seorang perempuan dari keturunan suku kalang, menjalin hubungan dengan laki-laki milenial.

Suatu saat, laki-laki tersebut melihat ritual kalang obong dan kemudian menendang sajen yang digunakan untuk ritual.

“Ada konflik serta cinta di dalam perjalanan film tersebut,” ujar Adrian.

Rencananya film ini akan tayang pada Mei 2020 di 17 negara, termasuk Indonesia.

Baca juga: Ernest Prakasa Anggap Film Indonesia Lebih Kaya Genre



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X