Leila S Chudori
Penulis & Wartawan

Penulis, Wartawan, Host Podcast "Coming Home with Leila Chudori"

Novel Sylvia Plath di Mata Dian Sastrowardoyo

Kompas.com - 10/02/2021, 07:00 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Greenwood , si gadis cantik, cerdas langganan penerima penghargaan dan pemenang lomba adalah gadis yang luar biasa berbakat.

Lihatlah cara dia berekspresi dalam tulisannya, "I felt sorry when I came the last page. I wanted to crawl in between those black lines of print the way you crawl through a fence, and go to sleep under that beautiful big green fig tree."

Bukankah ini juga perasaan kita setiap kali kita membaca sebuah novel yang bagus? Keinginan untuk "mencemplungkan" diri di antara kalimat-kalimat yang menciptakan jagat rekaan sang penulis?

Tak heran jika kali ini tokoh Esther Greenwood adalah salah satu dari 12 gadis yang berhasil memenangkan lomba menulis dan hadiahnya adalah memperoleh kesempatan magang di sebuah majalah mode besar di New York.

Selain mereka memiliki kesempatan belajar bagaimana cara kerja redaksi majalah, Greenwood dan segenap gadis-gadis terpilih ini juga memiliki kesempatan untuk mengembangkan jaringan, makan malam bersama orang-orang penting di industri pers sekaligus juga bersenang-senang.

Di antara jadwal padat mengikuti acara-acara pesta, minum, menebar jaringan, mengalami kerja redaksional seperti menulis dan wawancara, terlihat bagaimana Esther yang menjalin perkawanan sesama peserta seperti Doreen--yang bebas lepas--dan Betsy.

Dia tetap hanya bisa berbagi cerita sekelumit tentang dirinya pada mereka.

Sesekali kita akan melihat betapa cerdas dan cerkasnya Esther, tetapi kali lain kita menyaksikan Esther terus menerus mengeluh dan merasa dirinya selalu saja ada kekurangan hingga jiwanya seolah bernaung dalam kegelapan.

Pada satu saat Esther Greenwood mengucapkan sesuatu yang sangat mewakili banyak perempuan di dunia, "I saw my life branching out before me like the green fig tree in the story. From the tip of every branch, like a fat purple fig, a wonderful future beckoned and winked. One fig was a husband and a happy home and children, and another fig was a famous poet another fig was a brilliant professor..."

Cabang-cabang pohon itu masih diteruskan pada kalimat berikutnya. Esther Greenwood pada satu saat, seperti yang banyak dialami anak-anak muda pada usianya, tak selalu yakin apa yang ingin (dan bisa) dilakukan selanjutnya.

Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.