Leila S Chudori
Penulis & Wartawan

Penulis, Wartawan, Host Podcast "Coming Home with Leila Chudori"

Novel Sylvia Plath di Mata Dian Sastrowardoyo

Kompas.com - 10/02/2021, 07:00 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Cabang-cabang yang dia bayangkan: dunia akademis, dunia sastra, dunia domestik adalah berbagai cabang hidup yang dialami Sylvia Plath.

Ada keputusasaan nada tokoh Esther karena dia merasa Buddy Willard, lelaki yang sejak lama sudah digadang-gadang orangtuanya bakal menjadi suaminya ternyata lelaki konservatif yang menganggap bahwa "jika kamu sudah mempunyai anak, kau tak akan mau menulis puisi lagi."

Dan, itu pula yang menyebabkan Esther sudah menyimpulkan, "I hated the idea of serving men in any way" (hal. 76).

Kita harus melihat konteks tuntutan terhadap perempuan di negara Barat pada 1950-an: menikah, lalu menjadi istri dan ibu yang baik. Ini pula yang menjadi salah satu penyebab ledakan feminisme dan gerakan 1960-an.

Bagian ini sesungguhnya, menurut Dian, sebuah persoalan ini masih beresonansi di Indonesia sampai sekarang.

Sayang sekali jika para kritikus sastra terlalu asyik menghubungkan karya-karya dan kehidupan nyata Sylvia Plath--bersuamikan penyair Ted Hughes dan beranak dua orang--yang pada akhirnya menghabiskan nyawa sendiri beberapa lama setelah novel ini terbit.

Bukan saja novelnya yang dia akui sebagai Roman a clef--sebuah karya yang ditulis berdasarkan kisah nyata dan orang-orang nyata dengan perubahan nama dan tempat-–tetapi puisi-puisinya juga menampilkan kegelapan dan kekelaman jiwanya.

Padahal semua kumpulan puisi dan novelnya sangat berhak untuk dikritik sebagai karya yang berdiri sendiri di luar kehidupan nyata penulisnya.

"The Bell Jar", seperti diutarakan Dian Sastrowardoyo seperti sebuah metafora situasi depresi Esther yang diungkapkan dengan jenius.

Menurut Dian, "Esther menggambarkan dirinya terisolasi dari dunia sehingga mendistorsi pandangannya terhadap dunia". Salah satu contoh ungkapan itu adalah, "Stewing in my own sour air under the jar".

Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.