Indonesian Insight Kompas
Arsip Kompas Bercerita

Arsip Kompas bercerita. Masa lalu dan masa kini tak pernah benar-benar terputus. Ikhtiar Kompas.com untuk menyongsong masa depan berbekal catatan hingga hari ini, termasuk dari kekayaan Arsip Kompas.

Frasa Belahan Jiwa atau Soul Mate ternyata Tak Melulu Seromantis Pemakaian Sekarang

Kompas.com - 31/07/2021, 16:57 WIB
Ilustrasi mitos soul mate versi Plato dalam Simposium (Symposium), yaitu konsep berdasarkan mitos bahwa manusia semula memiliki empat tangan, empat kaki, dan dua wajah, yang kemudian dibelah oleh Zeus karena dikhawatirkan bakal memberontak. Dua bagian terbelah yang lalu dikutuk saling mencari itulah yang belakangan diasosiasikan sebagai soul mate alias belahan jiwa. SHUTTERSTOCK/DELCARMATIlustrasi mitos soul mate versi Plato dalam Simposium (Symposium), yaitu konsep berdasarkan mitos bahwa manusia semula memiliki empat tangan, empat kaki, dan dua wajah, yang kemudian dibelah oleh Zeus karena dikhawatirkan bakal memberontak. Dua bagian terbelah yang lalu dikutuk saling mencari itulah yang belakangan diasosiasikan sebagai soul mate alias belahan jiwa.

Sejak itulah, konon, dua belahan manusia itu pun dikutuk saling mencari untuk menjadi kembali utuh.

Sebentar, belum selesai. Plato menyematkan pula dalam karyanya yang lain bahwa frasa soul mate sebagai gagasan yang tak matang ketika dikaitkan dengan relasi apalagi rasa hati.

Menurut Plato dalam versi ini, relasi yang matang atau dewasa haruslah dimulai dari kesadaran bahwa setiap kita yang terlibat dalam relasi itu adalah individu yang sepenuhnya mandiri, yang kita mampu merawat kemandirian itu, dan karenanya pun tidak terlalu lekat satu sama lain.

Bagi Ryan Chistensen, yang pada 2014 adalah asisten profesor filsafat di Brigham Young University, Amerika Serikat, pendapat Plato terasa lebih relevan belakangan ini ketika dikaitkan dengan fenomena kesepian.

Menurut Christensen, yang Plato ingin bilang bahwa semata menemukan belahan jiwa yang terpisah karena kutukan Zeus itu bukan berarti kesepian akan terangkat dari dalam diri manusia.

Karena, sejatinya tak ada pasangan yang benar-benar tepat dan cocok, apalagi bila landasan relasinya rapuh.

Dia mendefinisikan kesepian bukan sekadar rasa sepi dan ingin ada seseorang mendampingi, melainkan sebuah pengalaman serasa menjadi alien dan gagal memahami manusia lain di sekitarnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Di sinilah, kata Christensen, konteks soul mate Plato lebih relevan, yaitu ketika seseorang bertemu orang lain yang benar-benar dapat saling berelasi sempurna seolah-olah mereka memang satu orang.

Ini enggak terasa lagi bahwa frasa belahan jiwa terbatas untuk urusan cinta dan menye-menye lagi ya.... Meskipun, urusannya memang semakin rumit kalau relasinya berbasis rasa hati.

“(Dalam hal cinta), satu orang harus menjadi orang lain (yang dicintainya itu), yang menginginkan orang lain itu laiknya sebagai dirinya sendiri.”

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.