Wartawan yang Menyebalkan - Kompas.com

Wartawan yang Menyebalkan

Jodhi Yudono
Kompas.com - 21/06/2017, 00:56 WIB
istimewa WartawanLembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara, Ricky Prayoga, akhirnya berdamai dengan pihak Brimob Polda Metro Jaya usai insiden intimidasi di JCC. Mediasi dilakukan di Kantor Berita Antara, Jakarta Pusat, Senin (19/6/2017).


Sejak dikasih amanah sebagai Ketua Umum Ikatan Wartawan Online tiga bulan lalu, nyaris setiap minggu saya menerima laporan adanya tindak kekerasan yang dialami oleh kawan-kawan wartawan. Di luar urusan siapa yang salah, melakukan tindak kekerasan--apalagi kepada wartawan yang sedang melakukan tugas peliputan--adalah tidak dibenarkan secara hukum.

Bagi mereka yang kurang paham dengan tugas-tugas wartawan yang selalu ingin tahu, ceriwis dalam bertanya, membuka aib pejabat; memang menjadi profesi yang menyebalkan. Tapi begitulah suratannya, jika seseorang mau jadi wartawan yang baik, yang hebat, dan dikenang sejarah, memang harus menjadi wartawan yang menyebalkan.

Wartawan yang membuat narasumbernya kehabisan kata-kata karena semua data yang dia punya dikuras habis oleh sang wartawan.

Wartawan yang menyebalkan adalah yang membuat muka narasumbernya merah padam lantaran tak bisa mengelak untuk bicara terbuka soal-soal yang ditanyakan sang wartawan.

Wartawan yang menyebalkan adalah yang mampu membuat narasumbernya tersipu malu lantaran dirinya tak bisa bersembunyi oleh cecaran pertanyaan sang wartawan yang memiliki data lengkap tentang masalah yang ditanyakan.

Wartawan yang menyebalkan adalah yang membuatmu merasa semua dosa-dosamu kepada rakyat ditulis secara rinci dengan data yang akurat.

Wartawan yang menyebalkan adalah yang membuatmu keder saat bertatapan mata dengannya dan lantas membuatmu murka dan mengajak teman-temanmu mengeroyoknya.

Wartawan yang mengebalkan adalah dia yang tak bisa kau beli dan kuasai meski engkau memiliki banyak uang dan kekuasaan.

Wartawan yang menyebalkan adalah anjing yang menggonggongmu jika engkau berniat busuk dan mau bertindak jahat.

Menjadi wartawan yang "menyebalkan" memang pilihan. Sebab, banyak pula wartawan yang menyenangkan bagi narasumbernya.Sebab semua yang ditanyakan, semua yang digali dari narasumber hanya yang baik-baik saja.

Itulah sebabnya, wartawan yang menyebalkan cuma sedikit jumlahnya. Sebab, selain kudu terus belajar, juga memiliki risiko besar untuk disakiti oleh pihak-pihak yang tak menyukai tulisannya.

Maka tak heran kiranya, banyak wartawan yang menyebalkan menjadi korban kekerasan pihak yang berkuasa tapi  bertelinga tipis dan tak dapat menahan amarah.

Sepanjang tahun 2016 saja, tak kurang dari 78 kasus kekerasan dan satu kasus pembunuhan terjadi. Berdasarkan, kategori pelaku kekerasan tertinggi dilakukan oleh warga dengan 26 kasus, diikuti oleh polisi 13 kasus, pejabat pemerintah (eksekutif) 7 kasus, dan TNI, orang tidak dikenal, aparat pemerintah daerah (Satpol PP) masing-masing 6 Kasus.

Belum lagi kasus2 kekeraaan yang menyebabkan hilangnya nyawa para wartawan yang hingga kini belum menemukan titik terang. Aliansi Jurnalis Indpenden mencatat, ada delapan jurnalis yang tewas karena pemberitaan. Mereka adalah Muhammad Fuad Syahfrudin alias Udin (jurnalis Harian bernas Yogyakarta tewas tahun 1996), Naimullah (jurnalis Harian Sinar Pagi, Kalimantan Barat tewas 25 Juli 1997), Agus Mulyawan (jurnalis Asia Press tewas di Timor-Timur, 25 September 1999), Muhammad Jamaludin (jurnalis TVRI di Aceh, tewas 17 Juni 2003), Ersa Siregara (jurnalis RCTI tewas 29 Desember 2003), Herliyanto (jurnalis tabloid Delta Pos, tewas 29 April 2006), Adriansyah Matra’is Wibisono (jurnalis TV lokal Merauke, tewas 29 Juli 2010), dan Alfred Mirulewan (jurnalis tabloid Pelangi, Maluku, ditemukan tewas 18 Desember 2010).

Ya ya... Wartawan memang mahluk yang menyebalkan bagi mereka yang takut belangnya ketahuan, mereka yang menguntit uang rakyat, mereka yang berbuat aniaya terhadap sesama, dan juga pejabat yang korup.

Tapi saya pun tahu persis, tak semua wartawan yang menyebalkan itu adalah wartawan yang baik, wartawan yang terbebas dari kesalahan. Bisa jadi yang telah membuat murka narasumber adalah wartawan yang telah melewati batas-batas kepatutan dan melanggar kode etik jurnalistik. Misalnya, sang wartawan tidak bekerja secara independen, beritanya tidak akurat dan tidak berimbang, serta beritikad buruk.

Tentu saja, makna menyebalkan yang saya maksud adalah wartawan yang memiliki kepekaan terhadap sekitarnya dan berpihak kepada kepentingan masyarakat. Wartawan yang memiliki semangat untuk menggali dan menimba data hingga tuntas serta menyajikannya ke dalam karya jurnalistik dengan baik dan lengkap.

Seperti yang diungkap oleh Wartawan dan diplomat Amerika Henry Anatole Grunwald yang permah jadi pemimpin redaksi majalah Time, "Jurnalisme tidak pernah bisa diam: itulah kebajikan terbesar dan kesalahan terbesarnya. Ia harus berbicara, dan segera berbicara, meski kekuatan dan ancaman serta tanda-tanda horor masih ada di udara."

@JodhiY

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorJodhi Yudono
Close Ads X