Leila S Chudori
Penulis & Wartawan

Penulis, Wartawan, Host Podcast "Coming Home with Leila Chudori"

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Kompas.com - 03/06/2020, 07:04 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

SETIAP generasi, setiap mahasiswa, setiap anak muda mempunyai kenangan tersendiri terhadap pemikiran, buku dan sosok Arief Budiman.

Ketika Arief wafat sebulan silam, otomatis tiga generasi sekaligus, dari sahabat segenerasi seperti Goenawan Mohamad yang bersama-sama menandatangani Manifes Kebudayaan menulis sebuah obituari melalui Catatan Pinggir majalah Tempo, hingga yang lebih muda seperti Budiman Sudjatmiko atau produser Mira Lesmana.

Atau yang jauh lebih muda lagi, yakni generasi masa kini yang mengenalnya melalui buku-bukunya menceritakan pengalamannya masing-masing.

Podcast "Coming Home with Leila Chudori", Rabu (3/6/2020), sengaja memilih dua tokoh "muda"--karena mereka jauh lebih muda daripada Arief Budiman--yang semula lebih mengenal Arief Budiman sebagai intelektual, dosen Universitas Kristen Satyawacana.

Saya sendiri termasuk generasi yang sempat hanya mengenal sosoknya selintas pada diskusi-diskusi yang cukup kerap diselenggarakan di Taman Ismail Marzuki pada 1980-an.

Seingat saya, perkenalan pertama saya dengan Arief terjadi pada 1986 di Teater Tertutup Taman Ismail Marzuki dalam sebuah acara diskusi yang ramai dan heboh.

Acara itu melibatkan begitu banyak tokoh, dari yang sepuh macam Sutan Takdir Alisyahbana--yang jengkel dengan penggunaan kata "pantau"--hingga Emha Ainun Nadjib mengejek DPR di masa itu yang tak banyak bergerak.

Karena pengunjung Teater Tertutup begitu luber, saya duduk di pinggir panggung karena kehabisan kursi.

Arief Budiman duduk bersama kami yang "muda-muda" dan tertawa kecil ketika saya menyampaikan bahwa saya memperoleh beberapa surat "nyasar" karena orang sering sekali tertukar-tukar antara saya dan Leila Ch Budiman, istri Arief.

Saya juga ingat pertanyaan saya padanya tentang sastra kontekstual yang menjadi perdebatan pada 1984.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

 

Konten pilihan untukmu

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.