Simpul Literasi Media, Maecenas, dan Orang-orang di Panggung Kesunyian Halaman 1 - Kompas.com

Simpul Literasi Media, Maecenas, dan Orang-orang di Panggung Kesunyian

Mulia Nasution
Kompas.com - 19/09/2017, 07:05 WIB
Dokumentasi pementasan Sampek Engtay dari Teater Koma di Societet Yogyakarta tahun 2004 oleh Giras Basuwondo dan tim. Produksi Teater Koma ini mendapat rekor MURI karena dipanggungkan 80 kali (dalam kurun waktu 1988-2004) dengan memakai 7 pemain dan 4 pemusik yang sama. Bidik layar Youtube/Teater Koma Dokumentasi pementasan Sampek Engtay dari Teater Koma di Societet Yogyakarta tahun 2004 oleh Giras Basuwondo dan tim. Produksi Teater Koma ini mendapat rekor MURI karena dipanggungkan 80 kali (dalam kurun waktu 1988-2004) dengan memakai 7 pemain dan 4 pemusik yang sama.

KECERAHAN warna-warni kostum aktor maupun aktris panggung teater berubah muram. Wajah kecewa, perasaan hampa, dan jiwa pemberontakan dahsyat, bergelora pada orang-orang yang bersiap “orgasme” di panggung pertunjukan.

Tapi…, sebuah keputusan ditentukan oleh instansi pemerintah dan aparat keamanan justru usai pentas gladi resik. Tentara dan polisi berpakaian preman berjaga-jaga di sekeling Tiara Convention Centre (TCC), Medan.

Wajah kecewa bukan hanya milik aktor, aktris, sutradara, art director, penata cahaya. Tapi juga penonton yang membeli tiket, dan ingin mendapat pencerahan (enlightenment) dari lakon Sampek Engtay oleh Teater Koma.

Sebagai jurnalis, yang juga bergiat melakoni teater dan aktivitas sastra, pelarangan pada 20 Mei 1989 itu membuat hampa dan dada terasa sesak. Esok pagi, pelarangan pentas ini terpajang sebagai headline.

Melalui ‘kaki-tangannya’ di militer, Orde Baru sedang merapikan masa-masa kejayaannya, dan hanya segelintir tokoh yang berani “melawan” secara terbuka.

Baca juga: Teater Koma Lakonkan "Sampek Engtay" pada Pementasan ke-101

Di antara orang-orang kecewa dan “melawan” penguasa melalui pentas teater, terdapat Nano Riantiarno. Ia tertegun dalam kebisuan. Riantiarno seperti menyimpan kemarahan dahsyat di dadanya.

Ia paham betapa ini wujud kezaliman penguasa masa itu. Tapi apa mau dikata, ibarat pepatah ‘nasi sudah jadi bubur’.

Semua risiko harus dihadapi, apalagi bila hanya perasaan kecewa. Risiko yang menyebalkan, termasuk harus berurusan dengan aparat keamanan setempat.

Sesungguhnya, di balik kekecewaan aktor Teater Koma maupun penonton, ada sosok yang paling kecewa, dirugikan secara bisnis, bahkan entrepreunership-nya “dibunuh” secara paksa oleh sebuah rezim yang ‘emoh’ dibantah—sekalipun ini hanya tontonan panggung.

Sosok bertubuh bongsor, cermat dalam ide bisnis maupun promosi kesenian yang ia cintai. Sebagai maecenas, ia memahami ‘uang hanya sebagai alat tukar’, namun ia ‘berkelas’ secara pemikiran maupun performance sehari-hari.

Meski kalkulator telah menghitung angka-angka kerugian finansial, ia berupaya cooling down, tawadu, dan memahami kekecewaan motor komunitas Teater Koma maupun penonton setianya di Pulau Sumatera.

Saat itu, Medan adalah kota terbesar ketiga di Indonesia. Sedangkan tempat pentas adalah hotel termegah di Pulau Sumatera, pulau kedua terbesar di Tanah Air. 

Tak ada guna bersitegang urat leher dengan sejumlah aparat di sekitar panggung sebab mereka bukanlah pembuat keputusan agar pentas bisa berlangsung. Di tengah isak tangis yang tertahan, handy talky aparat bersiliweran, memekik di balik semua perasaan kecewa orang-orang yang hadir.

”Laporan Komandan, semua tugas sudah kami rapikan. Sampek Engtay tidak jadi pentas, rekomendasi dari Kanwil Depdikbud dibatalkan. Kami juga sudah berbicara dengan promotor pentas Ali Djauhari, dan ia dapat memahami keputusan Komandan mencabut izin,” terdengar sayup-sayup suara seseorang berbicara setelah “roger”….”roger”.

Ia mungkin berbicara dengan staf senior intelejen di Kodam Bukit Barisan, atau mungkin dengan dengan Kadit Intelkam Polda Sumatera Utara. Bagi saya itu tidak penting, sebab perasaan kecewa yang dilalui Teater Koma, penonton, Ali Djauhari selaku maecenas, adalah juga kekecewaan saya juga terhadap rezim demagog ini.

Jauh sebelum kegagalan pentas Teater Koma, AJP (Ali Djauhari Production) lebih awal menghadirkan Arifin C Noer dalam dramatic reading di TCC. Penyair WS Rendra pun pernah membaca puisi di hotel tersebut atas sponsor AJP. Karya lain yaitu Teater Kartupat menampilkan Perempuan Perkasa dan Nomensen Koor Mesiah.

Bahkan AJP pula yang ikut membantu Iwan Fals keliling pulau Sumatera, “membumikan” lagu-lagu balada dahsyat bernada protes terhadap kekuasan yang jumawa. Lagu Iwan Fals seperti Bento yang legendaris pasti membuat ‘kuping panas’ orang-orang di lingkar satu kekuasaan.


Kantong kesenian

Masa itu, tahun 1980-an, pergerakan aktivitas kantong-kantong kesenian di Medan berbuah seperti kebun sawit tumbuh secara subur di Tanah Sumatera. TBM atau Taman Budaya Medan (kini Taman Budaya Sumatera Utara), selalu ramai oleh kelompok-kelompok teater seperti Teater Nasional, Teater Imago, Teater Que, Teater D’lick, Teater Merdeka.

Masih ada kantong kesenian lain yaitu Teater Propesi, Teater Kartupat, Teater Nuansa, serta di daerah seperti Lubuk Pakam, Kisaran, Tanjung Balai, Padang Sidempuan.

Di luar TBM, ada pusat kesenian Tapian Daya. Di Bidang lukisan ada Simpassri (simpaian seniman senirupa Indonesia) yang punya gedung pameran dan workshop di tengah kota.

Dinamika kesenian kota ini menggeliat melalui upaya masing-masing, tidak terlalu mengandalkan project pemerintah. Keterpanggilan sebagai pelakon aktivitas kesenian jauh lebih berharga dibanding kesudian ‘berselingkuh’ dengan oknum birokrasi.

Urun rembug dari kantong pribadi, atau bantuan donatur, simpatisan, relasi, jauh lebih berharga ketimbang ‘menghamba’ kepada juragan di kantor-kantor megah, apalagi kepada Wali Kota maupun Gubernur.

Page:
EditorAmir Sodikin
Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM