Era Melihat ke Dalam Diri - Kompas.com

Era Melihat ke Dalam Diri

Bambang Asrini Widjanarko
Kompas.com - 23/11/2017, 21:43 WIB
Self Conflict, Veri Apriyatno, Drawings, 2012.Arsip Veri Apriyatno Self Conflict, Veri Apriyatno, Drawings, 2012.

SEJAK berakhirnya abad ke-20 kita, makin santer mendengar tentang era VUCA (volatility, uncertainty, complexity, and ambiguity). Yakni sebuah kondisi zaman yang menghadirkan kejutan perubahan-perubahan masif yang tak alang kepalang membingungkan. Seperti sebuah tsunami psiko-kultural pada masyarakat dunia. 

Sebagai contoh, pelaku-pelaku bisnis multinasional mengalami kebangkrutan dengan adanya revolusi teknologi digital, sampai kegamangan negara-negara adikuasa memahami kebangkitan raksasa ekonomi baru dari teritori Asia.

Datangnya era VUCA ini memicu ketegangan-ketegangan dengan hadirnya nilai-nilai “tradisionalisme anyar”. Yang paling menonjol, dalam konteks budaya, adalah peradaban yang nonmainstream dibawa dari ribuan tahun lewat, kemudian diadaptasi ulang dengan pendekatan yang khas.

Sebuah panggung fenomena hibriditas budaya-budaya seluruh pelosok dunia yang sangat unik ditampilkan secara setara.

Budaya-budaya lama dari peradaban bangsa-bangsa China, Jepang, Korea, India, Timur Tengah-Arab dan sebagian negara-negara Amerika Latin serta Afrika mengisi babak-babak baru abad ini. Yang dulunya mereka, dalam 200 tahun terakhir, menyerahkan sepenuhnya planet Bumi ini pada peradaban unggul yang dikatakan sebagai “Barat”.

VUCA atau akronim dari volatile, uncertainty, complexity, dan ambiguity, adalah senyatanya kondisi yang dikatakan manusia tak mampu mengatasi situasi disruptif, yang bergelombang dengan cepat, tidak pasti, kompleks dan sifatnya yang ambigu.

Tentu saja, jika lebih dipertajam lagi, fenomena ini tak hanya menghantam eksistensial kesadaran manusia-manusia yang tidak siap menghadapi perubahan-perubahan yang tidak hanya menyangkut kondisi geografis saja, yakni antara wilayah Timur dan Barat.

Namun, sejatinya memahami bahwa paradigma lama-lah yang mulai ditanggalkan dan telah melapuk.


Timur dan Interkonektivitas

Kemudian paradigma yang anyar seperti apakah dan bagaimana pula nasib dari nilai-nilai yang dikatakan yang lama itu? Paradigma baru yang menyangkut nilai-nilai ketimuran, eastern values adalah sebuah jawaban alternatif mengisi jiwa individu-individu saat ini.

Charlene Spretnak, yang sempat oleh majalah TIMES dinobatkan sebagai salah satu pemikir dari 100 perempuan yang berpengaruh di dunia modern, tentang kajiannya di sekitar politik, spiritualitas, seni, dan ekologi menawarkan nilai-nilai religiusitas, dengan konsepnya menyoal revivalitas agama-agama Ibrahimi dan keyakinan non-Ibrahimi dengan pendekatan baru.

Ia selalu dalam ceramahnya membawa konsep tentang diri dan konektivitas manusia, nilai-nilai itu itu sejalan dengan prinsip-prinsip komunalitas, keterhubungan dengan segala hal serta manusia dengan lingkungan ekologisnya, yang dalam sejarah panjang umat manusia terlihat jejak-jejaknya pada peradaban-peradaban kuno di Timur.

Buku-buku nya, dari The State of Grace: The Recovery of Meaning in the Postmodern Age (1993) sampai yang terbaru The Spiritual Dynamic in Modern Art: Art History Reconsidered, 1800 to the Present (2014) mengupas justru nilai-nilai spiritualitas yang kokoh dari seniman-seniman dunia pada abad ke-20, yang dianggap sangat sekuler itu di dunia Barat.

Sementara kritikus seni dunia Suzi Gablik, baik dalam ceramah maupun buku-bukunya sejak 80-an, dengan Has Modernism Failed? (1984). Atau, keyakinannya terhadap estetika yang tidak lagi otonom, yang menjaga jarak terhadap individualisme dan semangat modernisme memulai membangun pemahaman baru tentang seni yang terkoneksi terhadap lingkungan sosial dan upaya-upaya melihat penyembuhan ekologi bumi.

Hal tersebut, sangat memprovokasi para sejarawan dan kritikus-kritus seni sejagat hari ini.
Yang kemudian memunculkan berbagai pendekatan yang dikatakan participatory art atau socially engaged art atau yang sudah lama ada dengan pendekatan baru sebagai aktivisme dalam seni dengan visi utama: seni, budaya lokal, kemanusiaan dan isu-isu sosial.

Kembali ke masalah VUCA, dalam konteks kultural, tesis Edward Said dengan bukunya orientalismenya, yang memaparkan sekaligus menggugat tanggung jawab selama ini pada abad-abad yang lalu, bagaimana dunia Barat melihat dunia Timur sebagai objek lambat laun telah terevisi secara alamiah.

Self Eyes, Veri Apriyano, Drawings, 2012Arsip Veri Apriyano Self Eyes, Veri Apriyano, Drawings, 2012
Pembela tergigih Said, cendikia keturunan India, Hommi K Bhaba, menyodorkan pada kita tentang kompleksnya kondisi kemanusiaan dan dunia saat ini dan budaya-budaya asli Timur yang mengalami hibriditas dan ambiguitas dalam masa-masa kolonialisme pada sejarah masa lalunya dan terwarisi hingga saat ini.

Gugatan-gugatan itu terefleksikan dan menampak, yang jika kita memaknainya, terlihat dalam fenomena VUCA sekarang dan kajian-kajian paska kolonialisme.


Orientalisme dan oksidentalisme

Fenomena VUCA secara kultural, jika dilihat dalam perspektif nilai-nilai Timur, adalah sebuah momen yang tepat, untuk semangat bertumbuhnya pencarian ilmu-ilmu pengetahuan lokal yang berakar kuat. Untuk mengkaji segala hal tentang dunia yang dikatakan telah mengglobal.

Atau, itikad melihat sebuah konstruksi realitas dunia Timur dari kacamata “sains” dari dunia Timur sendiri, yakni meminjam paradigma oksidentalisme. Misi utama oksidentalisme adalah membuka dialog yang setara, membawa sebuah jembatan pemahaman yang baru sebuah dunia yang telah berubah.

Pada abad-abad yang lalu, kita mengetahui energi terbaik untuk memahami segala ikhwal tentang Timur adalah hasil dari sains yang dikembangkan secara epistemologi dan ontologi-nya oleh para peneliti, sarjana serta penjelajah Eropa, yakni pendekatan-pendekatan keilmuan yang disebut orientalisme dengan Eurosentrisme tersebut.

Sebaliknya, pemikir paling menonjol oksidentalisme dari Mesir, Hassan Hanafi, membawa ide-idenya tentang oksidentalisme dengan kritiknya terhadap dunia Barat, bahwa sudah selayaknya kita membangun sebuah energi criticism agar terlepas dari dominasi kultural.

Sementara, melucuti aspek superioritas dan imperialisme Barat, sembari mengurangi kekeliruannya dalam mengerdilkan Timur di masa lalu dengan Barat sebagai objek kajian, yang selama ini hanya Timur yang menjadi objek penelitian.

Dengan menempatkan diri bahwaTimur, sesuai kodratnya sejajar di tengah-tengah percaturan dunia global akan membangun keseimbangan antara Barat dan Timur menuju perdamaian.

Dari sana, saat yang tepat, generasi milenial Indonesia kembali menengok diri mereka sendiri. Mempertanyakan akar-akar sejarah dan peradaban mereka dari Timur, yang mencari jejak genuine-nya serta interkonektivitasnya membangun ilmu pengetahuan lokal, dengan dasar -dasar epistimologinya dari khazanah budaya Nusantara ini.

EditorAmir Sodikin
Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM