Kulfest 2017 Satukan Beragam Tari dari Indonesia hingga Mancanegara Halaman 1 - Kompas.com

Kulfest 2017 Satukan Beragam Tari dari Indonesia hingga Mancanegara

Andi Muttya Keteng Pangerang
Kompas.com - 26/11/2017, 09:42 WIB
Penari Jepang tampil di panggung Amarta di Kulon Progo Festival 2017 yang digelar di Bendung Khayangan, Kulon Progo, Sabtu (25/11/2017).kis Penari Jepang tampil di panggung Amarta di Kulon Progo Festival 2017 yang digelar di Bendung Khayangan, Kulon Progo, Sabtu (25/11/2017).

KULON PROGO, KOMPAS.com -- Kulon Progo Festival (Kulfest) 2017 bukan melulu tentang musik seperti umumnya festival-festival kekinian. Kulfest yang digelar di area Bendung Khayangan, DI Yogyakarta, adalah sebuah perayaan seni dan budaya, termasuk seni tari.

Acara yang digagas oleh maestro tari Indonesia, Didik Nini Thowok, mengumpulkan berbagai jenis tarian dari Tanah Air hingga mancanegara.

Sebagai penampil pertama ada penari tradisional asal Jepang, Hasuda Ai, yang menyuguhkan tarian Miyako di panggung Amarta, area Bendung Khayangan, DI Yogyakarta, Sabtu (25/11/2017) malam.

Hasuda mengenakan kimono yang indah dengan tata rias yang mewah. Daya tarik utamanya adalah kipas yang ia gerak-gerakkan lemah lembut penuh keanggunan mengikuti irama musik tradisional Jepang.

[Baca juga : Didik Nini Thowok Persembahkan Tari Beskalan Putri di Kulfest 2017 ]

Komunitas Bisu dari Sulawesi Selatan menjadi salah satu penampil pada Kulon Progo Festival yang digelar di Bendung Khayangan, Kulon Progo, Sabtu (25/11/2017).KOMPAS.COM/KISTYARINI Komunitas Bisu dari Sulawesi Selatan menjadi salah satu penampil pada Kulon Progo Festival yang digelar di Bendung Khayangan, Kulon Progo, Sabtu (25/11/2017).
Selanjutmya, Komunitas Bissu dari Sulawesi Selatan. Bissu dikenal sebagai pendeta agama Bugis kuno pra Islam. Mereka tak memiliki golongan gender atau mewakili sisi feminin dan maskulin serta dianggap suci.

Mereka mempertunjukkan sebuah tarian ritual yang berdaya magis yang disebut Mabissu atau Maggiri.

Diawali dengan alunan mantra dalam bahasa Bugis kuno, empat Bissu mengitari Arajangge (benda keramat yang diyakini sebagai tempat ruh leluhur) sambil membawa keris.

Ketika bunyi gendang semakin cepat, para Bissu tadi tiba-tiba seperti kehilangan kesadaran. Mereka lalu memeragakan gerakan Maggiri, melepas keris dari sarungnya lalu menusukkan ke tubuh masing-masing.

Jika mereka terluka, dipercaya ruh leluhur yang merasuki para Bissu lemah. Namun jika tubuh mereka kebal, maka ruhnya kuat dan diyakini dapat memberi berkat.

Usai aksi para Bissu, giliran penari tradisional Thailand, Thummanit Nikomrat, beraksi di panggung. Tarian yang ia bawakan bernama Nora Klong Hong yang menceritakan tentang angsa.

Thummanit berperan sebagai Hong, makhluk setengah manusia dan setengah burung. Ia menari dengan tangan yang melengkung. Hiasan kuku panjang seperti cakar yang lentik membuat gerakan jemarinya sangat menarik.

Ia memadukannya dengan tarian Nora Pratom, di mana gerakan tangan, lengan dan bahu diselaraskan dengan gerakan kepala. Di tengah-tengah datang seorang penari bertopeng yang mewakili tokoh Pran Boon, seorang pemburu.

Lalu pada akhir tarian, Pran Boon menabuh gendang dan Thummanit dalam wujud Hong melantunkan nyanyian.

[Baca juga : Didik Nini Thowok: Kulfest 2017 Juga Merangkul Millennials]

Page:
PenulisAndi Muttya Keteng Pangerang
EditorBestari Kumala Dewi
Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM