Resensi: Rindu Dendam Cinta Transgenik - Kompas.com

Resensi: Rindu Dendam Cinta Transgenik

Kompas.com - 20/08/2008, 00:47 WIB

Oleh : ilenk rembulan

Judul Buku  : LANANG
Penulis  : YONATHAN RAHARDJO
Editor  : A. Fathoni
Cetakan : I, Mei 2008
Penerbit : PUSTAKA ALVABET
Harga  : Rp. 55.000,-
Tebal  : 440 halamanan

Novel Lanang pemenang harapan II Sayembara Novel DKJ tahun 2006 ini, menceritakan salah satunya adalah penelitian dan pembuatan pakan ternak yang dihasilkan dengan rekayasa genetika atau yang disebut transgenik. Tema yang menarik yang digarap pengarangnya yang seorang dokter hewan, dengan beragam istilah ilmiah pada bidangnya ini, menambah wawasan tentang apa sebenarnya hasil penemuan transgenik itu sebenarnya, yang sekarang sebagian telah menjadikan buah bibir masyarakat tidak saja peternak maupun petani namun juga orang awam.

Dimulai pada suatu malam, seorang dokter hewan bernama Lanang menolong persalinan induk sapi perah yang melahirkan di lembah pegunungan jauh dari keramaian kota, tempat bermukim puluhan peternak sapi perah.

Lahirnya anak sapi yang ternyata jantan tersebut disambut gembira peternak bernama Sukarya dengan harapan anak sapi tersebut menjadi besar dan bisa meneruskan membantu menopang kehidupan Sukarya sekeluarga.

Namun sayangnya kegembiraan tersebut tidak berlangsung lama, karena kemudian anak sapi perah yang baru lahir tersebut kemudian terserang penyakit yang misterius dengan perut berbintik-bintik merah di depannya, giginya kotor, lidah biru, gusi busuk berbuih putih keruh, perutnya membesar dengan cepat kemudian pecah dengan isi yang terburai dengan dinding-dinding organ dalam terbelah kemudin muncul bisul merah, biru, hijau, hitam keruh.

Dokter hewan Lanang yang berkerja di koperasi susu di daerah pegunungan tersebut tempat para peternak menggantungkan kepercayaan bila sapi-sapi perahnya bermasalah menjadi kalut, bingung, geram dan hampir putus asa tidak dapat menjawab gerangan penyakit apa yang kemudian secara luas menyerang sapi-sapi perah milih peternak sapi perah. Anehnya hanya sapi perah yang diserang tidak dengan sapi potong, walaupun sama-sama jenisnya sapi tetapi antara sapi perah dan sapi potong berbeda variannya.

Bersamaan dengan kematian anak sapi pada waktu kelahirannya tersebut, pada malam setelah Lanang membantu persalinan, dia dikejutkan dengan datangnya makhluk aneh yang mirip burung tetapi bentuk tubuhnya seperti babi hutan yang masuk menyeruduk ke dalam rumahnya. Istri yang baru dinikahinya sempat shock dan menjerit ketakutan, setelah diusir sepertinya mahluk terebut cepat hilang dan tak berbekas.

Antara percaya dan tidak Dokter Lanang mencari tahu tentang penyakit tersebut dan apa hubungannya dengan kemunculan hewan yang dirasakan aneh. Antara ilusi dan kenyataan sepertinya tidak bisa terlepas di alam pikiran Lanang.

Penelusurannya tentang penyakit yang telah membuat heboh pemerintah dan para ahli dibuat pusing tentang penyebabnya, munculah seorang dukun hewan yang bernama Rajikun yang mengatakan bahwa penyakir tersebut disebabkan oleh burung babi hutan. Pada awalnya Lanang masih tidak berani untuk bercerita bahwa dia dengan mata kepala sendiri telah bertemu dengan makhluk tersebut yang dikiranya mahkluk jadi-jadian, namun dengan penjelasan dari Dukun Rajikun maka makin kuatnya tuduhan bahwa penyakit yang menyerah seluruh sapi perah sehingga mati tersebut adalah burung babi hutan yang menjadi hewan perantara penyebaran kuman.

Para ahli yang ditugasi untuk meneliti penyebab dari penyakit tersebut merasa terkalahkan hanya oleh seorang dukun hewan yang memaparkan penyebab kematian yang sebagian menyisakan tanda-tanya, seperti apakah bentuk burung babi hutan tersebut. Mereka mentertawakan cerita dukun tersebut karena cerita yang berbau klenik tidak dilandasi ilmiah sama sekali, namun tidak dengan Dokter Lanang yang pernah bertemu dengan makhluk. Apa yang dipaparkan oleh Rajikun tersebut membuat pencarian Lanang tidak terus berhenti, bahkan dia ingin menghabisi binatang tersebut apabila bertemu lagi, senapan dan pisau belati telah menjadi kawan akrabnya selama perjalanan pencarian  tersebut.

Dalam pencarian binatang tersebut dia mendapatkan telepon dari seorang dokter hewan juga bernama Doktor Dewi seorang ahli bioteknologi lulusan universitas luar negeri yang ternyata adalah bekas pacarnya dahulu semasa kuliah. Doktor Dewi ini bekerja pada sebuah Lembaga Penelitian milik asing yang memperoduksi hasil penemuan untuk meningkatkan produksi ternak dalam pakan ternak melalui pemakaian produksi transgenik.

Lanang tidak mengetahui apa yang telah dibuat oleh Dewi mantan pacarnya itu yang ternyata masih menyimpan cinta yang membara terhadap Lanang, begitu juga dengan Lanang walau sudah beristrikan Putri, ternyata cinta lama kembali bersemi ketika bertemu dengan Dewi.

Di lain pihak Rajikun ternyata bersengkokol dengan Doktor Dewi dan mempengaruhi Sukirno kepala koperasi tempat Dokter Lanang bernaung untuk kerjasama dalam penjualan pakan ternak yang dihasilkan oleh lembaga milik Dewi.

Dokter Lanang pada akhirnya dapat membunuh burung babi hutan tersebut, dan sampel darah dari binatang tersebut telah dikirim pada Pusat Penelitian di ibukota untuk bahan penelitian lebih lanjut. Kebehasilan Dokter Lanang membasmi binatang perantara penyebab kematian sapi-sapi perah tersebut telah melambungkan namanya menjadi orang terkenal. Namun di dalam alam pikirannya hewan aneh tersebut selalu membayangi baik di antara istirahat sejenak ataupun datang dalam mimpi-mimpi tidur malamnya.

Di lain pihak keberhasilan Dokter Lanang membasmi hewan tersebut harus ditebus dengan kehilangan istrinya yang ternyata berselingkuh dengan dukun Rajikun yang sebelumnya dukun tersebut telah menuduh Lanang menjadi pencipta binatang tersebut pada suatu seminar yang dihadiri para pakar dokter hewan, juga pengkhianatan pimpinan Koperasi Sukirno,  yang kemudian ternyata mereka itu bagian dari konspirasi Doktor Dewi.

Doktor Dewi dengan lembaganya tersebut berhasil menguasai produk pakan ternak secara monopoli dengan adanya penunjukan dari pemerintah. Dia berhasil menguasai pimpinan tertinggi di Kementrian Kehewanan dan laboratorium miliknya semakin berkembang dan dengan leluasa dengan kepandaiannya dia menghasilkan makhluk-makhluk aneh hasil rekayasa transgenic tersebut untuk memenuhi kebutuhan pelanggannya.

Lanang dengan kesendirian tersebut masih menyimpan pikiran positif terhadap Dewi dan cintanya yang telah tumbuh kembali terus mencarinya, sampai pada akhirnya dia bertemu dengan Dewi namun tidak di ruang waktu seperti biasanya, tetapi Lanang telah dijadikan obyek rekayasa genetika berikutnya oleh kegilaan dan kebengisan Doktor Dewi.

Penuh Bahasa Ilmiah

"Harap segera dikirim hormon transgenik untuk meningkatkan produksi susu, sejumlah Bovine Somatotropin Hormon yang dapat meningkatkan produksi susu dua puluh persen serta memperpanjang masa menyusui".

"Harap segera kirim Porcine Somatoropin Hormon yang dapat meningkatkan produksi babi sebesar dua puluh persen dan mengurangi kadar lemak, dan kadar protein bisa meningkat."

"Selain bermanfaat, produk transgenik untuk meningkatkan produksi susu dan daging merangsang terjadinya penyakit. Hormon Recombinan Bovine Somatotropine pada sapi memang dapat merangsang sel penghasil susu, sehingga meningkatkan produksi. Namun penyakit mastitis atau radang kelenjar susu meningkat sangat tinggi. Imbasnya, pemakaian antibiotika sebagai obat penyakit ini menjadi meningkat, residu antibiotika juga sangat tinggi. Residu di atas ambang batas menyebabkan bakeri kebal terhadap antibiotika."

Penggalan dialog di atas ini terdapat dalam novel tersebut, bagaimana penemuan ilmiah telah membuat pikiran kita menjadi tahu, bahwa hasil rekayasa genetika ternyata sangat berbahaya. Dikatakan dalam buku tersebut bahwa Hormon Recombinan Bovine Somatotropine pada sapi akan memberikan risiko tinggi mempercepat masa berkembangnya penyakit sapi gila yang disebabkan oleh prion yaitu protein yang terdapat dalam inti sel setiap makhluk hidup, yang menyimpang dari keadaan normal, tidak punya asam nukleat, serta berkembang biak tanpa menyusun kehidupan dasar makhluk hidup berupa DNA dan RNA. Prion ini akan membahayakan kesehatan manusia yang memakan daging sapi, karena sapi yang disuntik hormon ini, akan meningkatkan kadar prion.

Kemudian dijelaskan juga adanya penggunaan transgenik susu sapi yang dihasilkan dengan penyuntikan hormon itu kepada kambing, pada sapi akan meningkatkan serangan penyakit Caparine Althritis Encephalitis karena virus retro yang biasa menyerang kambing. Jenis virus ini indentik dengan virus HIV1 dan HIV2 atau Human Immunodeficiency virus, yang menyebabkan penyakit hancurnya ketahanan tubuh bermanifestasi berbagai penyakit pada manusia, yang juga termasuk golongan retrovirus.

Di sini diceritakan bahwa perusahaan pakan ternak mempergunakan produk transgenik untuk menghasilkan pakan ternak yang mudah dicerna dan harganyapun relatif lebih murah. Bahwa sebenarnya perusahaan tersebut juga sudah tahu dampak negatif penggunaan hasil transgenik tersebut pada pakan ternak bila dibandingkan dengan penggunaan transgenik dalam pengobatan bidang kedokteran hewan. Karena pakan ternak diberikan pada hewan tidak mempunyai nilai ambang batas penggunaan.

Dijelaskan juga bahwa kebiasaan hewan yang merumput secara alamiah berpeluang memakan produk tanaman transgenik juga, mengingat kebiasaan peternak suka memberikan makan ternaknya dari sisa hasil pertanian.

Menyelusuri bait-bait kata pada susunan kalimat dalam novel tersebut yang walaupun hanya sebuah novel fiksi namun tentunya pengarang tidak gegabah memasukan istilah ilmiah yang sudah familiar terdengar pada khalayak ramai bahwa produk transgenik semakin berkembang dan sudah tersebar di bumi ini. Di negara maju banyak telah dihasilkan produk tersebut, yang pada akhirnya malah sekarang sudah mulai menimbulkan keresahan dengan mulai banyaknya masyarakat yang sudah melek pengetahuan bahwa dampak negatif bagi kesehatan lebih banyak daripada positifnya, namun pemberitahuan itu tenggelam dengan iklan besar-besaran produk pertanian maupun peternakan yang sudah mengglobal.

Apabila di negara maju di mana masyarakatnya sudah melek pengetahuan, maka produsen ternak ataupun pertanian tidak langsung berkecil hati, mereka dapat juga melempar hasil produksinya pada negara berkembang, apakah kemungkinan Indonesia telah menjadi pasar bagi produk rekayasa transgenik tersebut? Tidak muskil hal ini bisa terjadi, lihat saja membanjirnya produk pertanian maupun daging impor, ayam impor yang relatif terjangkau harganya itu merupakan hasil rekayasa transgenik?
Dampak negatif yang berkepanjang dari penggunaannya, sudah terbayang di depan mata. Apakah tak ada ruang lagi untuk menikmati benar produk yang terbebas dari hasil rekayasa demi kesehatan? Ataukah kita-kita ini sudah terbelenggu dengan perangkap hormon yang menguasai tubuh dengan serapan yang semakin melilit karena pola makan kita yang sudah teracuni hormon itu semakin jauh, sehingga kita sendiripun sudah tercemari sifat-sifat trasgenik, sehingga menjadi acuh tak acuh?

Dengan membaca novel ini, jadi selama ini apakah kita semua telah memakan hasil sebuah rekayasa transgenik? Bagaimana kita akan tahu? Apakah menunggu penyakit dari dampak produk tersebut muncul? Terlalu mahal harga yang harus dibayar untuk mengetahuinya. Novel ini membuat penyadaran pembaca untuk mulai berhati-hati terhadap makanan yang akan dikonsumsi.

Moral, Religi dan Klenik

Sisi lain dari novel ini adalah bagaimana kita diperlihatkan pada moral sang pelaku dalam keseharian. Di satu sisi Dokter Lanang sebagai seorang lelaki dengan leluasa mengumbar nafsu sexnya begitu gampang diumbar, dia begitu gampangnya meniduri seorang pelacur yang dia sayangi tapi di satu sisi dia sudah beristri. Di lain pihak, dia pun menjadi begitu religius digambarkan ketika belum dapat memecahkan teka-teki penyebab penyakit yang menyerang sapi-sapi perah tersebut.

Dengan meninggalkan istrinya tanpa perasaan ketakutan terjadi apa-apa, dia mencari jawaban dengan berdoa di tempat ibadah dilakukan sendiri. Di sini pengarang seperti membiarkan tokoh Lanang ini berjalan sendiri tanpa diceritakan mengapa itu bisa terjadi. Apakah tidak bisa menjalani beribadah dengan mengajak istrinya? Tentunya akan lebih bijak bila dalam pencarian penyebab itu, dia lebih membagi untuk istrinya dan bersama-sama pergi, daripada membiarkan istrinya di rumah sendiri yang pada akhirnya didatangi binatang tersebut yang kemudian menjelma sebagai dukun Rajikun.

Sepertinya sifat keliaran Dokter Hewan Lanang ini identik dengan hewan yang begitu gampang berganti-ganti pasangan tanpa adanya rasa bersalah.

Beberapa adegan persetubuhan walau digambarkan dengan halus namun terjadi beberapa kali dengan tidak hanya dengan istrinya tapi dengan mantan pacarnya Dokter Hewan Dewi. Perasaan bersalah telah berselingkuh tidak digambarkan kuat, hanya datang sesaat, seperti sesuatu pekerjaan yang biasa saja.

Untuk hal ini novel ini hanya patut dibaca oleh orang dewasa, karena penggambaran tokoh-tokohnya lebih banyak bersifat amoral menurut pandangan umum masyarakat kita yang masih religius. Ada pesan yang ingin disampaikan oleh pengarangnya bahwa keadaan demikian di jaman sekarang kelihatannya sudah mulai lazim. Di satu sisi orang berteriak soal kekeringan adanya dahaga degadrasi moral dalam kehidupan masyarakat, tapi di sisi lainnya kehidupan bebas terpampang jelas di depan mata. Terjadinya kasus-kasus yang menimpa tokoh agama yang seharusnya menjadikan panutan tetapi berbelok melakukan hal-hal yang tak senonoh tergambar dalam tokoh yang bernama Rajikun. Dia ini sebenarnya dulunya bekas imam tempat ibadah Dokter Lanang ketika muda, karena melakukan perbuatan aib dengan salah satu jemaatnya yang seharusnya dia lindungi, tetapi malah “dimakannya” telah tercampakkan keluar dari tampat ibadah di mana dia bernaung. Sampai kemudian tibalah dia bertemu kembali dengan Lanang sebagai dukun hewan dan berkolaborasi dengan Dewi menciptakan hasil rekayasa transgenik.

Dalam kehidupan sehari-hari banyak tokoh-tokohpun mempunyai muka dua, di satu sisi meneriakkan slogan moral dan mencontohkan kehidupan yang religi namun disisi lain dia juga melakukan perbuatan melanggar norma-norma dan apabila ketahuan merasa tidak bersalah malah menjadikan dirinya orang teraniaya, seperti memberikan pembenaran dia hanya khilaf atau menjadi umpan dari sebuah konspirasi pihak lain (mencari kambing hitam untuk menutupi aib yang telah diperbuatnya).

Yang menarik dalam novel ini adalah tidak menyebutkan gereja atau masjid tetapi dengan pengungkapan kata tempat ibadah. Pengarang bermain metafora dalam penyajian ungkapan benda sehingga menimbulkan hal hal baru dalam menikmati suasana baca,  kaya istilah seperti diungkapkan Medy Loekito seorang penyair yang menulis di pembuka novel ini, bahwa membaca Lanang serasa membaca puisi panjang.

Kemudian juga dibahas munculnya tokoh dukun hewan. Tokoh ini dimunculkan berimbang dengan munculnya para ahli yang mewakili dunia ilmiah. Namun dalam perjalanannya dunia ilmiah dikalahkan dengan tokoh dari dunia klenik, dunia dukun.

Pengarang sepertinya menyindir juga, bahwa keseharian kehidupan di masyarakat banyak yang sudah makan bangku sekolahan sampai tinggi di mana pikiran rasionalnya lebih bicara, kadang dalam urusan rejeki, jodoh bahkan sampai kenaikan pangkat, jabatan masih lari pada dukun, pada urusan dunia klenik, yang sebenarnya bertolak belakang dengan akal sehat manusia.

Cinta dan Dendam

Intrik yang dibangun pada cerita yang membuatnya menjadi pemenang harapan kedua Sayembara Novel DKJ 2006 ini juga kekuatan dalam penyajikan tentang cinta dan dendam.

Orang bilang antara cinta dan dendam terpisah oleh dinding yang sangat tipis bahkan mungkin bisa menyatu dalam dua kata itu sendiri.

Lanang yang pada awalnya menjalin percintaan dengan Dewi yang berlainan keyakinan tetapi dalam perjalanannya akhirnya memilih menikah dengan Putri yang sama-sama satu agama.

Namun cinta pada Dewi tidak serta merta menjadi padam, tetap ada dan semakin membara kala waktu mempertemukan mereka kembali, bahkan Lanang bisa begitu mudah melupakan Putri istri sahnya yang telah dipilihnya untuk mendampingi hidupnya.

Begitu juga dengan Dewi, rupanya menyimpan rasa cinta terhadap Lanang yang tidak begitu saja gampang ditundukkan dan merasa dikhianati dengan menikahi teman sekelasnya waktu kuliah. Walau pada akhirnya mereka berdua membuat konspirasi untuk menundukkan Lanang yang pada akhirnya tetap tidak dapat ditundukkan.

Yang aneh adalah bagaimana Putri bisa begitu gampang mencintai Lanang tetapi kemudian mengkhianatinya dengan berselingkuh dengan dukun Rajikun, yang pada akhirnya juga disesalinya. Dan mereka berdua bisa bersama-sama membagi perasaan cinta pada Lanang tanpa cemburu di satu pihak dan malah rasa cinta yang dimiliki mereka berdua itu menimbulkan kebencian terutama Dewi dengan ingin melenyapkan sifat Lanang sebagai manusia diganti dengan rekayasa genetika hewan babi dan burung yang dipersiapkan dalam operasi dan kemudian berhasil menjadikan Lanang menjadi makhluk baru hasil ciptaan rasa cinta Dewi yang telah berkembang menjadi dendam yang membara.

Catatan akhir

Novel ini di awalnya ditulis dengan penggambaran cukup rumit,  namun kemudian mengalir cair semakin dalam, dengan penjelasan satu persatu runtutan kejadian, ditambah dengan imajinasi pengarang mengingatkan penulis pada novel Abdulah Harahap yang suka menulis tema mistik dengan hewan jadi-jadian, tetapi yang membedakan bahwa Yonathan Rahardjo berhasil menceritakan bahwa itu bukan hewan jadi-jadian tetapi adalah benar hasil rekayasa genetika dengan tidak lupa menyisipkan istilah ilmiah menjadikan tema yang diambil dapat menarik dan menjadikan satu pilihan dari banyak pilihan tema novel pada umumnya, dibumbui dengan kisah cinta dan intrik serta kepentingan di dalamnya dan dibiarkan menggantung pada akhir cerita, membuat novel ini bisa menjadikan pilihan menarik pembaca untuk menikmatinya.

Dengan cover menarik, dan font yang tidak melelahkan mata, ditambah garis cetakan di atas dan bawah setiap halaman, menjadikan nilai tambah novel ini, walaupun penyajian beberapa catatan dari juri dan kolega pengarang cukup menyita halaman dan sempat mengganggu pemandangan.


Editor

Close Ads X