Lomba Penulisan Skenario Film 2014 Hasilkan 16 Skenario Terbaik - Kompas.com

Lomba Penulisan Skenario Film 2014 Hasilkan 16 Skenario Terbaik

Kompas.com - 01/10/2014, 15:28 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com -- Untuk memerkaya tema film Indonesia dengan konten kearifan lokal yang ada di negeri ini dan menyiapkan bank naskah film untuk industri film Tanah Air, Lomba Penulisan Skenario Film 2014 telah diadakan dengan tema kearifan lokal dan baru saja selesai diselenggarakan dengan mengumumkan para pemenang kompetisi tersebut.

"Untuk tahun ini, kami mengambil tema mengenai kearifan lokal. Kegiatan ini kami laksanakan dilatarbelakangi oleh makin meningkatnya produksi film yang temanya beragam dan sekaligus mengangkat isu kearifan lokal dari setiap daerah, juga untuk menciptakan bank skenario," ujar Nurwan Hadiyono selaku Ketua Pelaksana Lomba Penulisan Skenario Film 2014 dalam pengumuman para pemenang, penyerahan piala, dan pembagian hadiah kompetisi itu di Gedung Film, Jakarta, Kamis minggu lalu (25/9/2014).

Awalnya, pendaftaran naskah peserta lomba itu diadakan pada 2 Mei hingga 30 Juli 2014. Banyaknya naskah yang masuk membuat penyelenggara kemudian mengambil kebijakan memerpanjang waktu penerimaan naskah.

"Kami mulai pendaftaran 2 Mei dan diakhiri 30 Juli 2014. Tapi, mengingat antusiasme peserta mengikuti lomba ini, kami memberikan penerimaan peserta hingga 15 Agustus 2014 hingga pada akhir pendaftaran dicapailah 74 naskah skenario dari berbagai daerah mulai dari Aceh, Riau, Padang, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan, hingga Jabodetabek," jelas Nurwan.

Pertama, 74 naskah yang masuk disaring menjadi 40 naskah. Selanjutnya, 40 naskah tersebut diseleksi menjadi 20 naskah.

Lalu, Alex Komang, aktor kawakan sekaligus Ketua Badan Perfilman Indonesia, yang menjadi Ketua Dewan Juri Lomba Penulisan Skenario Film 2014, bersama penulis skenario Titien Wattimena dan produser film Edwin Nazir, selaku dewan juri memilih 16 naskah terbaik dan menentukan para juara, yaitu enam penulis naskah terbaik dan 10 naskah terbaik.

"Dalam penjurian pun ada silang pendapat, ada drama dalam penjurian," imbuh Alex.

Sebagai dewan juri mereka juga mencatat hal-hal penting yang perlu diperhatikan oleh para peserta lomba itu dan menyarankan format lomba yang lebih memungkinkan untuk diselenggarakan.

"Dalam membaca skenario yang masuk, khususnya 20 skenario terakhir, kami mencatat setiap peserta sudah memahami tema persyaratan kearifan lokal dengan keberagaman ide, cerita, dan rasa. Tapi, yang menjadi catatan khusus adalah masih banyak yang tidak menggunakan format penulisan skenario standar, format skenario yang biasa dipakai dalam industri film," terang Titien.

"Untuk penyelenggaraan kompetisi tahun berikutnya, lomba ini lebih baik jika menjadi lomba penulisan treatment film atau pun sinopsis film terlebih dulu, sebelum memasuki tahapan penulisan skenario yang kemudian nantinya bisa dikembangkan dalam pelatihan oleh penulis profesional," lanjutnya.

Enam belas skenario menjadi yang terbaik dalam lomba itu. Enam darinya merupakan para pemenangnya. Pemenang I: Anak Cindaku Ditikam Rindu karya Azwar Sutan Malaka; Pemenang II: Shinden Demam Panggung karya Muhammad Abiyoso; Pemenang III: Senandung Saat Hujan karya Reki Jayusman; Pemenang Harapan I: Dian yang Kian Benderang karya Iqbal Afajri; Pemenang Harapan II: Dadak Merak karya Ambhita Dhyaningrum; dan Pemenang Harapan III: Sayap dalam Air karya Randi Ashari.

Sepuluh skenario lainnya adalah Akulah Penari karya Sri Hartatik; Bongaja 1667 karya Yudianto Suroso; Curigo karya Tri Wuri Handayani; Di Bawah Langit karya Rizki Sulaiman Salim; Junko dan Harry karya Hadi Artomo (Ki Sasmiko Aji); Kaki Palsu untuk Meiyin karya Khodijah; Negeri Tawa karya Hendra Mustaqim; Pari’in karya Ilham Vahlefi; Sagu karya Yudianto Suroso; dan Tjahaya Asia karya Handry TM. (Benedictus Gemilang Adinda)


EditorAti Kamil

Close Ads X