Hanung Bramantyo: Saya Bikin Film Bukan Hanya untuk Dipuji

Kompas.com - 22/03/2017, 09:59 WIB
Hanung Bramantyo menceritakan soal pembuatan film barunya ketika dijumpai usai acara peluncuran trailer dan soundtrack film Kartini di Djakarta Theater XXI, Jakarta Pusat, Selasa (21/3/2017). KOMPAS.com/SINTIA ASTARINAHanung Bramantyo menceritakan soal pembuatan film barunya ketika dijumpai usai acara peluncuran trailer dan soundtrack film Kartini di Djakarta Theater XXI, Jakarta Pusat, Selasa (21/3/2017).
|
EditorKistyarini

JAKARTA, KOMPAS.com – Tak dapat dimungkiri bahwa film-film karya sutradara Hanung Bramantyo (43) banyak menuai pujian publik.

Beberapa filmnya masuk ke dalam daftar Box Office Indonesia. Tiga di antaranya ialah Soekarno (2013), Rudy Habibie (2016), dan Surga yang Tak Dirindukan 2 (2017).

[Baca: Hanung Bramantyo Persembahkan Film "Kartini" untuk Para Lelaki]

Ketika dijumpai usah peluncuran trailer dan soundtrack film Kartini, bertempat di Djakarta Theater XXI, Jakarta Pusat, Selasa (21/3/2017), Hanung mengutarakan alasannya kenapa ia ingin membuat film-film bagus yang bisa masuk ke dertan box office.

“Menurut saya, karya (membuat film) box office itu penting. Apalagi saya enggak hanya sekadar bikin film hanya untuk dipuji atau dibilang bagus saja,” ujar pemilik nama lengkap Setiawan Hanung Bramantyo ini.

[Baca: Hanung Bramantyo Hentikan Riset Film Kartini]

“Saya ingin membuat film box office agar box office Indonesia itu enggak hanya berisi soal komedi, drama-drama yang baper begitu,” lanjut Hanung.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ia merasa film-film Indonesia juga bisa dihiasi dengan tokoh-tokoh nasional, seperti Kartini, Pangerang Diponergoro, dan Sudirman.

“Misal dapat 3 atau 4 juta penonton, wah itu membahagiakan sekali. Itu membuktikan kalau penonton dekat dengan tokoh-tokoh seperti itu,” ucap suami Zaskia Adya Mecca ini menambahkan.

Namun menghasilkan sebuah film juga berbicara soal pendanaan yang tidak sedikit. Contohnya film Kartini, karya Hanung, yang menghabiskan biaya tak kurang dari Rp 12 miliar.

“Kita membuat film bergandengan tangan dengan investor. Investor tertarik tentunya mereka bukan cuma sekadar bikin film Kartini karena ngefans atau apa. Tapi ada value dan komersil yang mereka dapatkan,” tukas pria kelahiran Yogyakarta, 1 Oktober 1975 ini.

“(Tapi) kalau seandainya gak laku di pasaran, ya gak apa-apa. Seenggaknya udah bikin karya yang membanggakan,” imbuhnya.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.