Dimas Oky Nugroho

Pengamat politik ARSC. Founder Kader Bangsa Fellowship Program (KBFP)

Desir Cinta Kartini

Kompas.com - 25/04/2017, 08:20 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
EditorAna Shofiana Syatiri

Khusus pada bagian ini menunjukkan dengan jelas bahwa, bagaimana pun tertarik kepada dunia modern, ia tak akan dapat lepas dari 'kawruh' sebagaimana hanya dapat dihayati oleh bangsanya yang introspektif dan memberikan arti yang dalam pada simbolik.

Banyak orang hanya dapat melihat bagian luar atau kulit dari sesuatu yang simbolik dan tidak dapat menangkap makna yang terkandung di dalamnya. Dengan memahami esensi maka pemikiran, jiwa dan perasaan, serta tindakan menjadi serasi, seimbang dan penuh cinta. Dan kelanjutan keserasian akan mengantarkan kepada kesadaran untuk guyub dalam semangat kebangsaan dan kemanusiaan. Atau dengan kata lain menjadi seorang nasionalis dan humanis.

Apa yang terjadi dengan Kartini sesungguhnya masih relevan dengan kita yang hidup pada hari ini. Globalisasi telah mengantarkan arus besar pertukaran yang massif, tak hanya barang dan manusia, tapi yang terpenting pula adalah pemikiran.

Kita terhimpit di antara dua arus besar, antara apa yang disebut sebagai 'old politics' dan 'new politics'. Kita berada di persimpangan antara yang transnasional dan yang nasional/lokal. Kita berada di tengah pusaran identitas dan energi partikularisme yang begitu provokatif, ekstrem dan konfliktual, eksklusif namun rentan termanipulasi, terpolitisasi.

Sebagai bangsa, berbagai pemikiran dan idelogi baru yang datang nyaris tak tercegah harus dapat kita hadapi dengan kejernihan, keluhuran sekaligus kehati-hatian, kecerdasan dan ketegasan karakter. Di atas semuanya, sebagai satu bangsa yang pernah terjajah sekian lama, mustahil kita maju dan kokoh dalam melangkah jika lemah, terpecah dan tak punya pijakan bersama.

Melalui Kartini, kita menyadari bahwa kita haruslah memiliki visi moral dan kemajuan, pandangan hidup dan komitmen pada nilai-nilai sejati, serta kekuatan mental nan kokoh. Bagi seorang yang mengaku dirinya adalah anak bangsa nusantara, jiwanya dipenuhi oleh hikmat kebijaksanaan dan rasa cinta yang berpihak pada kebenaran, kemanusiaan, keadilan dan persamaan.

Sepintar-pintarnya manusia, jika karakternya lemah, ia tak akan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang banyak. Oleh karena itu, wahai para pemimpin, hiduplah bermanfaat, jadilah teladan.

"Aku bangga namaku disebut senafas dengan rakyatku, di sanalah tempatku untuk seterusnya".

Menjadi Indonesia dengan karakter kesejatiannya, itulah desir cinta dari Kartini.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:



Video Pilihan Video Lainnya >

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.