Hanung Bramantyo: Tujuan Film “Seteru” Bukan Tayang di Bioskop

Kompas.com - 29/04/2017, 19:34 WIB
Sutradara film Seteru, Hanung Bramantyo. KOMPAS.com/Reni Susanti Sutradara film Seteru, Hanung Bramantyo.
Penulis Reni Susanti
|
EditorKistyarini

BANDUNG, KOMPAS.com – Film  Seteru mulai ditayangkan di beberapa bioskop Tanah Air. Namun tujuan film yang dibiayai Kementerian Pertahanan ini bukan untuk tampil di bioskop.

“Bioskop itu etalase kapital , sehingga orang harus bayar. Tapi negara tidak boleh menjadi bisnis,” ujar sutradara Hanung Bramantyo kepada Kompas.com, Sabtu (29/4/2017).

Karena itu Seteru hanya diputar di beberapa bioskop untuk etalase. Tujuan utamanya, Seteru akan tayang di sekolah-sekolah di Indonesia.

Menurut Hanung, bila tidak tayang di bioskop lebih dulu, banyak anak muda yang akan bertanya ini film apa, kenapa tidak tayang di bioskop.

[Baca juga: Garap Film dari Kemenhan, Hanung Bramantyo Mendapat Amanah]

“Kalau tayang dulu, mereka akan berkata, oh ini yang kemarin tayang di bioskop ya. Yang penting tayang di bioskop, ada woro-woronya,” tuturnya.

Suami Zaskia Adya Mecca itu menambahkan, pemutaran di sekolah akan dilakukan setelah penayangan di bioskop.

Film Seteru menceritakan tentang tawuran dua sekolah yang terjadi turun temurun.

Sampai akhirnya pimpinan kedua sekolah sepakat menyerahkan pentolan tawuran di antaranya Martin Tan (Bio One) dan Ridwan (Yusuf Mahardika) ke Letkol Rahmat (Mathias Muchus) untuk dibina.

Kedua kelompok yang kerap berseteru ini pun akhirnya dimasukkan ke Batalyon Infantri 403 Wirasada Pratista di Kentungan, Yogyakarta. Mereka mendapatkan berbagai pembinaan terkait bela negara.

“Biar menarik pengemasan se-ABG mungkin, seseru, sepop mungkin. karena itu saya libatkan dua orang itu (Bio One dan Yusuf Mahardika),” tuturnya.

Proses pembuatan film menghabiskan waktu 6 bulan. Kesulitan film ini adalah menentukan angle apa yang akan difokuskan.

“Ketahanan nasional kan banyak sekali. Kita bisa buat film soal teroris, narkoba, apapun. Segala sesuatu yang membuat ketahanan nasional kita rapuh,” terangnya.

Akhirnya diputuskan mengambil cerita tentang tawuran SMA. Karena kasus tawuran antarsekolah, antarras, geng motor, berada di sekeliling kita.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X