Asia Tenggara di Gelaran Venice Biennale Ke-57

Kompas.com - 14/06/2017, 14:26 WIB
Karya seniman asal Singapura Zai Kuning ‎di Venice Art Biennale ke-57. Facebook/National Arts Council SingaporeKarya seniman asal Singapura Zai Kuning ‎di Venice Art Biennale ke-57.
EditorAmir Sodikin

SETIAP dua tahun, selama lebih dari seratus tahun, Venesia (yang dijuluki La Serenissima) di Italia, telah menjadi tuan rumah pameran seni terbesar di dunia, Venice Biennale, di Venesia, Italia.

Ini seperti sebuah smorgasbord, hamparan "prasmanan" yang sangat besar dengan karya-karya dari seluruh dunia yang terbagi dalam dua komponen utama.

Pertama, terdapat pameran resmi yang dipilih dan diedit oleh kurator berbeda di setiap kunjungan. Ditampilkan di Arsenale (dulunya adalah pusat pembuatan kapal dan persenjataan di Venesia), pameran tersebut diadakan di atas lahan ratusan hektar dengan latar belakang beton mentah, besi, dan batubata.

Perlu diingat bahwa La Serenissima telah menjadi sebuah kekuatan industri sejak tahun 1100-an dan sebuah kota megah dengan dekorasi istana baroque dan gereja-gereja yang dibangun di atas perekonomian kota yang dinamis.

Kedua, terdapat paviliun nasional, sebuah pameran seni dalam jumlah yang besar yang berada di area Giardini, taman publik yang dibangun Napoleon atau tepatnya di samping Arsenale.

Paviliun ini (itu bukan galeri) sebagian besar didatangi oleh orang-orang Eropa dengan sedikit orang dari negara-negara Amerika Latin, serta terdapat juga orang Jepang, Korea, dan Australia.

Penggunaan kata "paviliun" sangatlah penting karena mengartikan sebuah ruang tiga dimensi yang diisi atau dikurasi.

Pagelaran Venice Biennale bukan tentang meletakkan beberapa lukisan di dinding. Paviliun nasional itu harus spektakuler, immersive , benar-benar merupakan pengalaman yang "Sensurround".

Dalam hal ini, paviliun Jerman merupakan yang paling menonjol dengan menghadirkan sebuah gambaran dystopia yang kelam dalam kehidupan modern.

Seniman Anne Imholtz memasang dinding dan lantai kaca temporer di dalam paviliun: menciptakan sebuah suasana yang tidak biasa dan juga membingungkan dimana terdapat pembatas antara penonton dan para pemain yang beraksi memakai baju olahraga.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X