Majelis Hakim "Semprot" JPU Kasus Senpi Gatot Brajamusti

Kompas.com - 27/03/2018, 17:26 WIB
Persidangan Gatot Brajamusti dalam kasus kepemilikan senjata api dan hewan yang dilindungi di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (27/3/2018). KOMPAS.com/DIAN REINIS KUMAMPUNGPersidangan Gatot Brajamusti dalam kasus kepemilikan senjata api dan hewan yang dilindungi di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (27/3/2018).


JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Majelis Hakim Achmad Guntur mengungkap kekecewaannya kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU) Sarwoto.

Achmad Guntur menganggap bahwa Jaksa Sarwoto bertele-tele dalam menyelesaikan kasus kepemilikan senjata api dan hewan dilindungi dengan terdakwa Gatot Brajamusti.

Selain itu pada sidang kali ini, JPU juga tak mampu menghadirkan Gatot ke ruang persidangan.

"Saudara harus tanggung jawab jadi harus masuk akal. Kenapa? Kalau terus ditunda, diketawain orang ya kan? Orang menunggu semua, orang di sini menunggu, seluruh Indonesia, bahkan dunia," ujar Achmad Guntur dalam persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (27/3/2018).

Dengan nada tinggi, Achmad Guntur meminta Jaksa Sarwoto untuk segera menyelesaikan perkara ini.

"Saya kebetulan humas, saya yang selalu mendapatkan pertanyaan-pertanyaan tapi saya enggak bisa jawab karena itu kewenangan kejaksaan dan kewajiban Jaksa. Gimana ini? Kebetulan saya humas. Perhatikan itu," katanya.

"Saya enggak pernah pakai nada tinggi, bahasa saya itu enggak pernah nada tinggi. Maksud saya tinggi itu supaya lebih bisa diperhatikan. Biar gerakannya tuh biar cepat, gitu ya," imbuh Achmad Guntur.

Baca juga : JPU Tak Hadirkan Gatot Brajamusti, Hakim Tunda Pembacaan Tuntutan

Sidang pun terpaksa ditunda hingga 3 April 2018 mendatang.

"Jadi sidang saya tunda nomor 994 ini perkara dengan alasan jaksa penuntut umum tidak dapat menghadirkan terdakwa di muka persidangan. Hari Selasa, tanggal 3 April 2018 (kembali digelar). Sidang selesai di tutup," tukas Achmad Guntur sembari mengetuk palu.

Sebelumnya, JPU Hadiman membacakan dua dakwaan primer dan satu subsider. Dalam dakwaan primer pertama, Gatot didakwa melanggar Pasal 21 Ayat 2 huruf b jo Pasal 40 Ayat 2 Undang Undang RI Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem. Dengan ancaman hukuman lima tahun penjara.

Dakwaan primer selanjutnya adalah Gatot didakwa telah melanggar pidana berdasarkan Pasal 1 Ayat 1 Undang Undang nomor 12/Drt/1951 karena memiliki beberapa senjata api beragam jenis beserta amunisinya.

Lalu Gatot juga dianggap tanpa hak menguasai, membawa, menyimpan, menyembunyikan senjata penikam, senjata pemukul, senjata penusuk. Sehingga ia juga didakwa oleh dakwaan subsider yakni diancam dengan pidana berdasarkan Pasal 2 Ayat 1 Undang Undang nomor 12/Drt/1951.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X