Tahun yang Semarak Sayembara Seni Rupa - Kompas.com

Tahun yang Semarak Sayembara Seni Rupa

Kompas.com - 03/04/2018, 19:31 WIB
Gatot Indrajati, Pemenang UOB Southeast Asian Painting of The Year 2016,  Right or Wrong My Home.  Dok uobpoy.com Gatot Indrajati, Pemenang UOB Southeast Asian Painting of The Year 2016, Right or Wrong My Home.

TAHUN ini saat yang tepat membincangkan sayembara seni. Ajang kompetisi yang digelar semarak tiap tahun atau beberapa tahun sekali yang menghadirkan para perupa pemenang dengan karakter ekspresi beragam.

Sejumlah penyelenggara tampil dengan ciri khasnya tersendiri dalam mengelola kompetisi tersebut.

Sebenarnya, tak terelakkan jika perbincangan tentang sayembara seni bertaut pula dengan sejarah seni rupa dan sejarah besar bangsa ini pada masa-masa revolusi fisik.

Tatkala keindonesiaan di kancah internasional menjadi hal yang sangat layak diperjuangkan. Mempertahankan eksistensi Republik yang masih muda itu. Sementara, sayembara seni menjadi satu penanda ingatan tentangnya.

Pada 19 Desember 1948, Agresi Militer Belanda II atau Operatie Kraai (Operasi Gagak) membumihanguskan Yogyakarta via lapangan terbang Maguwo. Yogyakarta saat itu menjadi Ibu Kota Indonesia.

Baca juga : Dwi Rupa Bumi, Pameran Nasirun dan Trie Utami

 

Selanjutnya, seperti yang dicatat sejarah bahwa Soekarno, Mohammad Hatta, Sjahrir dan beberapa tokoh nasional lain ditangkap, yang membuat terbentuknya Pemerintah Darurat Republik Indonesia di Sumatera Barat dipimpin oleh Sjafruddin Prawiranegara.

Beberapa bulan sebelumnya, pada tanggal 6 September 1948, di Niew Kerk, Amsterdam, pelukis kita R Basoeki Abdullah berhasil memenangkan sayembara melukis yang diselenggarakan dalam rangka penobatan Ratu Juliana, dengan mengalahkan sejumlah pelukis Eropa ternama.

Kemenangan inilah yang sempat membuat marah Raja Keraton Yogyakarta, Hamengku Buwono IX, yang menuduh Basoeki sebagai pelukis yang tidak nasionalis. Karena rekan-rekan seniman dan seperjuangan lainnya bertempur antara hidup dan mati di Yogyakarta, sementara Basoeki ada di Amsterdam bersama sang Ratu.

Polemik negatif tentang sayembara ini, kemudian dibantah oleh Basoeki dalam wawancaranya dengan saksi-saksi sejarah dan justru merupakan fakta yang beraura sebaliknya. 

“Saya waktu itu berhasil mengalahkan para pelukis-pelukis sohor Eropa, dan mampu melukis poret diri Ratu Juliana tepat di singgasananya. Seringkali saya hanya berdua dengan Ratu di kamarnya. Bisa saja saya membunuhnya. Tapi tidak saya lakukan. Justru dengan seni, saya ingin tunjukkan bahwa seorang bumiputera mampu sederajat adab-nya dengan bangsa Eropa. Ini adalah kemenangan bagi bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda,” ujar Basoseki Abdullah dalam sebuah kesempatan.

Sejak saat itu, sebagian orang Eropa mengenal sosok Basoeki Abdullah, putera Indonesia yang menunjukan pada dunia bahwa bangsa Indonesia bukanlah bangsa terperdaya. Namun memiliki nilai-nilai kemanusiaan yang sejajar dengan bangsa-bangsa lain karena seni budayanya.

Peran sayembara seni kemudian berlanjut makin terang benderang pun amat dinamis. Berbagai kompetisi seni dihelat dalam upaya mencari bakat-bakat baru para pelukis serta memunculkan karya-karya yang lebih progresif sesuai semangat zaman (zeit geist

Pameran Besar Seni Lukis Indonesia I (PBSLI I) oleh Dewan Kesenian Jakarta pada 1974, dengan pilihan-pilihan yang dianggap pemenang pada pameran seni lukis yang kontroversial oleh Dewan Juri akhirnya malahan mencipta fenomena “Black Desember”.

Peristiwa itu melahirkan Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB) dan hadirnya para jawara seni kontemporer generasi awal di Indonesia. Meskipun kompetisi PBSL I diitikadkan sebagai pameran yang lebih baik oleh Dewan Juri, namun secara berseberangan memunculkan gejala baru yang unik dalam sejarah seni kita dengan GSRB.  

Selanjutnya pada 90-an, kita mengenal Yayasan Seni Rupa Indonesia (YASRI) dengan dukungan korporasi internasional Phillip Morris yang giat menyelenggarakan kompetisi seni sejak 1993 dengan beragam kontroversinya. Memunculkan nama-nama perupa muda yang kuat pada zamannya seperti Nasirun, Ay Tjoe Christine, Hanafi, S Teddy D, Galam Zulkifli sampai Mangu Putra.

Kita mengenal mereka berpameran dan mewakili Indonesia dalam ekshibisi-ekshibisi penting nasional dan sebagian malahan mewakili Indonesia ke seluruh penjuru dunia dengan pameran penting kelompok, seperti di event “Awas, Recent Art from Indonesia” tahun 2001.

Dalam catatan lain, mereka yang berhasil menang dalam sayembara seni juga berpameran di Davos (1997), Moscow (2000), Madrid (2001), Berlin (2005) dan tentunya di IAA (Indonesia Art Award) untuk konteksnya merebut ASEAN Art Award.

Yayasan seni ini kembali hadir tahun ini dengan sodoran karya-karya yang dipresentasikan oleh partisipan kompetisi lokal dengan medium komik dan akan digelar di Galeri Nasional Indonesia.  

Sepuluh tahun terakhir, sayembara seni rupa benar-benar menjadi “ajang pencarian bakat” besar-besaran yang menarik perhatian publik seni rupa dengan beragam metode dan gaya penyelenggaraan.

Ada BaCCA (Bandung Contemporary Art Award) yang mengkhususkan diri pada seniman-seniman muda yang dianggap memiliki karya seni kontemporer dengan medium seni termutakhir: instalasi-video sampai digital art. Kompetisi ini telah memasuki tahun ke-6 digelar di artspace Lawangwangi, Bandung.

Sementara itu, wakil dari institusi pemerintah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan Museum Basoeki Abdullah-nya hadir dengan ajang sayembara bernama Basoeki Abdullah Art Award (BAAA) yang menuju ke tahun ke-4 pada 2018.

Kompetisi BAAA digelar secara rutin di akhir tahun tiap tiga tahun sekali; untuk menyeleksi perupa-perupa muda potensial dengan mengkhususkan pada medium lukisan. Tentunya dengan pertimbangan menauladani jejak warisan pelukis Basoeki Abdullah.

Jika kita tengok di pusat budaya Bentara Budaya, Jakarta, kita juga akan menjumpai tahun ini ada perhelatan besar Triennale Seni Grafis Internasional 2018, di mana event terdahulu terselenggara sejak 2003. Tepatnya, dihelat tiap tiga tahun sekali, yang tahun ini memasuki tahun ke VI.  

Dari juri dan kuratornya, kita mendapatkan informasi adanya komitmen utama lembaga seni dan budaya itu untuk kembali mengajak para perupa mencintai dan mengapresiasi karya-karya seni grafis yang telah demikian maju.

Potensi para perupa seni grafis Indonesia dan daya ungkapnya yang kaya serta paling penting ini: kompetisi ini telah diikuti berbagai partisipan mewakili 21 negara pada 2015 lalu dari berbagai belahan dunia.

Kegiatan lainnya, sangat disayangkan tak serutin pergelaran sayembara yang disebut sebelumnya, karena berbagai sebab, dengan juri-juri terpilih, penyelenggara yang berpengalaman dan partisipan yang membludak sebagai contoh: Indofood Art Award, Nokia Art Award, Total Indonesie dll. Ada pula yang bahkan mewakili institusi BUMN kita, Mandiri Art Award, dengan didukung penuh Bank Mandiri hanya sekali digelar, kemudian menjadi “almarhum” sampai saat ini.

Muhlis Lugis, Pemenang ke III, Internasional Seni Grafis V 2015, Bentara Budaya, Pencitraan, Woodcut on Paper, 35x30cm, 2018.Dok bentarabudaya.com Muhlis Lugis, Pemenang ke III, Internasional Seni Grafis V 2015, Bentara Budaya, Pencitraan, Woodcut on Paper, 35x30cm, 2018.

Kehadiran UOB Painting of The Year

Semenjak 8 tahun lalu publik seni kita juga mengenal ajang sayembara UOB Painting of The Year untuk seni lukis yang digelar tiap tahun. Sepertinya, pihak penyelenggaranya tak mengenal lelah dan gigih memperjuangkan seniman lokal kita di tingkat ASEAN.

Bank UOB memang berniat menjalankan program CSR (Corporate Social Responsibility) dengan misinya mengembangkan seni, pendidikan dan kehidupan yang layak bagi anak-anak.

Berbasis di Singapura, Bank UOB yang dikenal seantero Asia ini ingin menampilkan kekuatan seniman-seniman di Asia Tenggara. Dihelat di Singapura UOB Southeast Asian Painting of The Year sejak 1983 dan di Indonesia baru memulainya pada 2011 lalu.

UOB Painting of The Year adalah program unggulan mereka di Indonesia yang secara bertahap para pemenang di tingkat lokal akan berlaga di tingkat regional dan adanya kesempatan pula para pemenang untuk mengajukan program residensi di museum bergengsi di Fukuoka Museum, Jepang.

Dalam tujuh kali penyelenggaraan sampai 2017, UOB Indonesia telah mampu membawa seniman dan perupa Indonesia memenangkan 4 penghargaan pretisius kategori seniman profesional di sayembara UOB tingkat regional ASEAN. Mengalahkan sejawatnya para perupa kuat dari Malaysia, Thailand maupun Singapura.      

Selintas menyebut nama seperti Indra Wahyu, pada 2012 membawa Indonesia mampu bersaing dan memenangkan di tingkat regional karena lukisannya yang ekspresif mempresentasikan gambaran “orkestrasi”permainan piano tentang isu-isu pendidikan.

Ini mengingatkan bahwa bangsa Asia, khususnya Asia Tenggara membutuhkan pendidikan yang terintegrasi, kuat dan saling mendukung dari berbagai pemangku kepentingan layaknya sebuah irama yang harmonis dalam permainan piano, yakni: negara, sekolah dan masyarakatnya. Indra berhasil membawa semangat Asia dengan karyanya The Hymn of School.

Pada 2014, perupa Antonious Subiyanto mengulang kesuksesan Indra dengan ledekannya pada karyanya menyoal isu masyarakat konsumen dan hedonis sejagat. Dengan jeli, Antonious mengulik kembali era dimana hasrat manusia menjadi dominan di abad digital ini.

Lukisannya Old Stock Fresh Menu Antonius mengibaratkan kita sebagai jiwa manusia-manusia yang menghamba barang-barang konsumsi dan dipanaskan dalam penggorengan raksasa, plus tungku yang menyala, serta kayu pembakar juga api. Sementara latar lukisan yang gelap meneguhkan keruhnya ruang batin kita.

Pada 2015, lagi-lagi perupa Indonesia, Anggar Prasetyo berhasil juga menang di tingkat regional ASEAN dengan karya Exploitation of  Fish, yang merupakan penggambaran bahwa negeri kita pun di kawasan Asia Tenggara persoalan dunia maritim menjadi sangat krusial. Hasil produksi lautan, sebagai sumber energi dan hidup ada diambang kerusakan total karena salah kelola.

Anggar dengan cerdas mengingatkan secara puitik dengan ikan-ikan yang tergambar, samar-samar timbul- tenggelam dalam warba abu-abu dan hitam adalah sebuah bencana lebih besar sedang menanti di kawasan ini, jika lengah pada kelangsungan ekosistem di lautan.

Yang terakhir, perupa Gatot Indrajati, sukses juga di tingkat regional. Setelah ia memenangkan di sayembara lokal,  dengan gaya slengekan-nya bertutur bahwa sebuah kota besar yang chaos dalam Right or Wrong My Home pada 2016.

Ia hendak berujar, di kawasan ini, baik di Indonesia pun di Asia Tenggara memiliki keunikan-keunikan tersendiri dalam memahami kehidupan keseharian di kota besar.

Pesan-pesan rasa memiliki, tak pernah terlepas, meski menerima kekalahan dengan tanpa putus asa, meruyaknya tragedi sosial-politik maupun harapan-harapan bertumpuk menjadi satu dikaryanya tersebut.

Gatot hendak meletakkan posisinya dalam ingatan tentang diri dan dimana rasa komunal kita bermukim, mencoba menerima sepenuhnya yang paling baik dan yang paling buruk dari wajah kita.   

Pada akhirnya, sayembara memang bukan lagi sekadar siapa yang menang dan siapa yang kalah. Bagaimana keputusan dewan juri, obyektif atau keniscayaan keputusan-keputusan yang subyektif semata.

Namun, lebih dari itu, sayembara seni senyatanya adalah sebuah ruang bersama untuk berdialog yang terus saja disemarakkan oleh berbagai pihak penyelenggaranya tahun demi tahun yang lewat.

Untuk memahami dan terus mengasah yang terberi, dari bakat-bakat yang terseleksi, sudah sampai sejauh mana dinamika kesenian ini memberi makna bagi bangsa yang katanya berdaulat dalam kebudayaan ini?

Sudah cukup mampukah kita, seniman-seniman mewakili Asia dan berbicara lebih lantang tentang kita dan Indonesia di mata dunia?



Close Ads X