Penjelasan Falcon Pictures soal Hak Cipta Film Benyamin Biang Kerok

Kompas.com - 20/04/2018, 18:36 WIB
Benyamin Biang Kerok Falcon PicturesBenyamin Biang Kerok

JAKARTA, KOMPAS.com - Falcon Pictures, rumah produksi yang membuat film Benyamin Biang Kerok versi baru, akhirnya buka suara tentang kisruh hak cipta film tersebut.

Melalui konsultan hukumnya, Lydia Wongso, Falcon Pictures mengaku sudah membeli hak cipta Benyamin Biang Kerok. Bahkan, telah mendaftarkannya ke Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (HaKI).

"Kami sudah membeli dari sekian orang, kami pembeli terakhir. Kami mencatatkan hal tersebut di HaKI. Tiba-tiba Pak Syamsul Fuad mengaku mengklaim dirinya sebagai pencipta," kata Lydia dalam konferensi pers di Kantor Falcon Pictures, Jalan Duren Tiga, Jakarta Selatan, Jumat (20/4/2018) sore.

[Baca juga : Jawaban Rumah Produksi Benyamin Biang Kerok terhadap Gugatan Syamsul Fuad ]

Pada 5 Maret 2018 lalu, penulis cerita asli Benyamin Biang Kerok (1972), Syamsul Fuad, mengajukan gugatan ke PN Jakarta Pusat terhadap Falcon Pictures dan Max Pictures.

Tak hanya itu, bos Falcon Picture HB Naveen dan produser film tersebut juga menjadi pihak tergugat.

Dalam gugatannya, Syamsul menuding tergugat telah melakukan pelanggaran hak cipta atas cerita Benyamin Biang Kerok dan Biang Kerok Beruntung yang ia tulis.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Pak Fuad mengaku dirinya seolah-olah pencipta. Dia penulis script (untuk film Benyamin Biang Kerok) tahun 1972, belum tentu pencipta, karena menjadi satu kesatuan dengan produser (production house)," ucap Lydia.

[Baca juga : Kuasa Hukum Tolak Berkomentar soal Gugat Balik Penulis Benyamin Biang Kerok ]

Menurut dia, hak cipta cerita film tersebut secara legal dipegang oleh produser atau rumah produksi yang membuat Benyamin Biang Kerok pada 1972, atau siapa pun pihak yang mempekerjakan Syamsul Fuad sebagai penulis naskah ketika itu.

"Kalau Pak Fuad merasa memiliki rights, ya dia cari dong siapa yang bayar dia dulu. Ya dia bekerja sama siapa saat itu. Kan yang punya hak cipta produser lama," kata Lydia.

"Jadi gini loh, kalau dia kerja sama orang, dia kerja dibayar, yang bayar dia itu yang punya haknya. Seperti misalkan saya membeli suatu cerita, apa dulu perjanjiannya. Kalau perjanjian hak cipta tetap ada pada dia, ya sudah selesai," sambungnya.

[Baca juga : Penulis Benyamin Biang Kerok: Digugat Rp 50 Miliar? Saya Tambah Pakaian Dalam! ]

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X