Alasan Falcon Pictures Berkeberatan Beri Royalti Rp 25 Juta pada Syamsul Fuad

Kompas.com - 20/04/2018, 19:46 WIB
Penulis cerita asli Benyamin Biang Kerok, Syamsul Fuad, sedang menanti sidang kasus dugaan pelanggaran hak cipta terhadap karnyanya di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Kamis (19/4/2018). KOMPAS.com/ANDI MUTTYA KETENGPenulis cerita asli Benyamin Biang Kerok, Syamsul Fuad, sedang menanti sidang kasus dugaan pelanggaran hak cipta terhadap karnyanya di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Kamis (19/4/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Konsultan hukum Falcon Pictures, Lydia Wongso, mengungkap bahwa kliennya berkeberatan memberikan royalti sebesar Rp 25 juta sesuai permintaan Syamsul Fuad karena adanya perbedaan prinsip.

Syamsul Fuad merupakan penulis naskah asli film Benyamin Biang Kerok yang dirilis pada 1972. Sebelum menggugat Falcon dan Max Pictures, Syamsul meminta royalti senilai Rp 25 juta kepada dua rumah produksi itu.

"Jadi Pak Fuad sempat meminta uang Rp 25 juta. Ini bukan masalah uang. Kalau kami memberi uang sama Pak Fuad sebagai tali kasih, kami beri. Tapi kalau meminta uang sebagai yang mengaku pencipta, kami keberatan," kata Lydia di kantor Falcon Pictures, Jalan Duren Tiga, Jakarta Selatan, Jumat (20/4/2018) sore.

Sebab, menurut pihak Falcon, Syamsul bukanlah pemegang hak cipta cerita Benyamin Biang Kerok yang diproduksi ulang ke versi masa kini oleh sutradara Hanung Bramantyo.

"Kami memang tidak memberikan (Rp 25 juta) karena pada saat itu kami tidak sepakat atas permintaan uang itu untuk kepentingan apa. Kalau untuk menghargai dia sebagai senior, insan perfilman, ya kami beri. Tapi bukan meminta hak (royalti) sebagai pencipta," ujar Lydia.

Mengenai pengakuan Syamsul bahwa Max Pictures melalui produser Ody Mulya Hidayat menawarnya menjadi Rp 10 juta, Lydia menegaskan tak tahu menahu.

Baca juga : Penjelasan Falcon Pictures soal Hak Cipta Film Benyamin Biang Kerok

"Kalau itu saya kurang jelas. Pak Fuad meminta secara informal. Yang jelas bagi kami Falcon, itu hanya masalah pemberian itu untuk apa?" katanya.

"Kalau pemberian itu untuk mengakui dia sebagai pencipta, kami waktu itu enggak mau. Tapi kalau kami memberi untuk tali kasih, ya kami beri. Itu poin yang kami tegaskan di sini," ucap Lydia lagi.

Pihaknya khawatir jika mereka semudah itu menyanggupi permintaan Syamsul Fuad, hal itu akan berdampak luas.

"Kalau semua orang, misal kameramen ngomong dia pencipta, mati industri kita. Kalau ini terjadi, perfilman nasional efek akibatnya semua yang buat film nanti ngaku-ngaku. Kami pengin semua dalam koridor yang jelas. Kami keberatan kalau dia mengaku sebagai pencipta," ujarnya.

Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Buku, Film, dan Kecemasan Pembaca

Coming Home with Leila Chudori: Buku, Film, dan Kecemasan Pembaca

Budaya
Coming Home with Leila Chudori-Petty F Fatimah: Membaca Arundhati, Memahami Anjum

Coming Home with Leila Chudori-Petty F Fatimah: Membaca Arundhati, Memahami Anjum

Budaya
Choky Sitohang soal Teori Konspirasi Covid-19: Jangan Ajak Orang Lain Ikut Bingung

Choky Sitohang soal Teori Konspirasi Covid-19: Jangan Ajak Orang Lain Ikut Bingung

Seleb
Coming Home with Leila Chudori: Kesehatan Mental Seniman di Mata Nova Riyanti Yusuf

Coming Home with Leila Chudori: Kesehatan Mental Seniman di Mata Nova Riyanti Yusuf

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dari Generasi Ketiga, Setelah Amy Tan dan Ha Jin

Coming Home with Leila Chudori: Dari Generasi Ketiga, Setelah Amy Tan dan Ha Jin

Musik
Fans Parasite, Ini Karya Lain Bong Joon-ho yang Tak Boleh Terlewatkan

Fans Parasite, Ini Karya Lain Bong Joon-ho yang Tak Boleh Terlewatkan

BrandzView
Profil Han Suk Kyu, Pemeran Teacher Kim di Drama Dr Romantic 2

Profil Han Suk Kyu, Pemeran Teacher Kim di Drama Dr Romantic 2

Seleb
komentar di artikel lainnya
Close Ads X