Melalui Film Mencari Keadilan Membangun Budaya Damai - Kompas.com

Melalui Film Mencari Keadilan Membangun Budaya Damai

Kompas.com - 15/10/2018, 11:28 WIB
Para pemenang kategori Film Dokumenter dalam Festival Film Puskat (FFP) Ruedi Hofmann Media Awards 2018 diumumkan di Yogyakarta pada Minggu (14/10/2018) malam. Begitu pula para pemenang kategori Film Cerita Pendek.KOMPAS.com/WIJAYA KUSUMA Para pemenang kategori Film Dokumenter dalam Festival Film Puskat (FFP) Ruedi Hofmann Media Awards 2018 diumumkan di Yogyakarta pada Minggu (14/10/2018) malam. Begitu pula para pemenang kategori Film Cerita Pendek.

YOGYAKARTA, KOMPAS.com -- "Mencari Keadilan Membangun Budaya Damai", itulah tema yang diusung dalam Festival Film Puskat (FFP) Ruedi Hofmann Media Awards 2018.

Pada Minggu (14/10/2018) malam di Yogyakarta, para pemenang FFP Ruedi Hofmann Media Awards 2018 telah diumumkan.

FFP 2018 melombakan dua kategori, yaitu Film Dokumenter dan Film Cerita Pendek. tujuh puluh enam (76) film terdaftar--31 film dokumenter dan 45 film cerita pendek.

Para pesertanya datang, selain dari Yogyakarta, juga dari Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Aceh, Nusa Tenggara Barat, Sumatera Utara, Bangka, Sulawesi, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.

Baca juga: Untuk Buffalo Boys Dibangun Desa-desa Buatan di Yogyakarta

Para juara kategori Film Dokumenter: pertama, film Lewat Lagu Kami Bercerita, yang diproduksi oleh DAAI TV Indonesia, Jakarta, dan disutradarai oleh Donny P Herwanto; kedua,  " Tole Children on the Street, Runggu Films, sutradara Fuad Hilmi Hirnanda; ketga, Bocah Rapa'i Plok, Aceh Documentary, sutradara Nursalliya Ansari B.

Para juara kategori Cerita Pendek: pertama, Dendang Bantilang, Element Creative Tanayyart Production, Makassar, sutradara M Ikhwan Muharram; kedua, Kertas Merah, FFTV IKJ, Jakarta, sutradara Revin Palung; ketiga, 15,7 Km, Becuas Film, Sleman Yogyakarta, sutradara Rian Apriansyah.

Baca juga: Bentara Yogyakarta Gelar Pameran Perupa Perempuan

Tahun ini merupakan kali keempat FFP diselenggarakan oleh Studio Alam Visual (SAV) Puskat Yogyakarta.

"Festival Film Puskat 2018 ini yang keempat, jadi kita sudah memulai sejak empat tahun yang lalu," ujar Ketua Panitia FFP 2018, Romo Murti Hadi Wijayanto SJ, ketika ditemui oleh Kompas.com, Minggu (14/10/2018).

"Yang saya senang, saat ini kualitas skenario, visual, bagus-bagus. Jadi, kedalaman bahasa visual mereka kuat," ujarnya pula.

Baca juga: Ternyata Pembelian Album Sheila on 7 Terbanyak Bukan dari Yogyakarta

SAV Puskat Yogyakarta didirikan oleh Romo Ruedi Hofmann pada 1970. Untuk menghormatinya, penghargaan itu dinamai Ruedi Hofmann Media Awards.

"Romo Ruedi ini bagi kami seniman sekaligus seorang yang visioner. Dia selalu bicara soal kemiskinan, gelisah dengan situasi kemiskinan di mana pun, termasuk di Indonesia. Dia juga terkenal dengan teologi pembebasan," tutur Murti.

Ruedi sangat mencintai nilai-nilai tradisi. Ia mengumpulkan cerita-cerita rakyat dan dilukisnya pada dinding-dinding SAV Puskat Yogyakarta.

"Romo Ruedi ingin supaya orang Indonesia menghidupi nilai-nilainya sendiri, nilai tradisi itu. Romo Ruedi juga inter-religius dan pencinta lingkungan hidup," tutur Murti juga.

Baca juga: Film Salawaku Buka JAFF 2016 di Yogyakarta

FFP, yang diadakan setiap tahun, mengambil tema dari pemikiran-pemikiran Ruedi Hoffman.

FFP pertama mengusung tema "Iman versus Korupsi"; kedua, "Lingkungan Hidup"; ketiga, "Merawat Kebhinekaan"; dan keempat, "Mencari Keadilan Membangun Budaya Damai".

Baca juga: Surga yang (Tak) Dirindukan 2, dari Yogyakarta hingga Budapest

"Jadi, tema dari ide-ide Romo Ruedi yang ingin kami bangkitkan lagi, tetapi sekaligus mengangkat nilai-nilai Pancasila. Ini Pancasila harus kita hidupkan, maka tahun 2018 ini temanya kami ambil dari Pancasila, sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia," ucapnya.



Close Ads X