Agenda Seminggu Bentara Budaya: Dari Garin Nugroho hingga Mendiang Benyamin Sueb

Kompas.com - 18/03/2019, 08:00 WIB
Museum Taman Benyamin Sueb, di Jalan Jatinegara Timur, Jakarta Timur, diresmikan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada Sabtu (22/9/2018).KOMPAS.com/RYANA ARYADITA UMASUGI Museum Taman Benyamin Sueb, di Jalan Jatinegara Timur, Jakarta Timur, diresmikan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada Sabtu (22/9/2018).

KOMPAS.com -- Dari 18 Maret 2019 hingga 25 Maret 2019 di empat Bentara Budaya, yaitu di Jakarta, Solo, Yogyakarta, dan Bali, akan ada sejumlah sajian seni yang menarik untuk dinikmati.

Termasuk sineas ternama Garin Nugroho hingga film-film mendiang aktor legendaris Benyamin Sueb akan dihadirkan.

Bentara Budaya Jakarta

1. Dongeng Nuswantara
Selasa, 19 Maret 2019, mulai pukul 19.30 WIB

Dongeng Nuswantara merupakan acara peluncuran buku dan diskusi serta penyajian lagu-lagu kebangsaan bersama Garin Nugroho, Tommy F Awuy, Erwin Harahap, Joko Gombloh, Mia Biola, dan kawan-kawan.

Dongeng Nuswantara merupakan dongeng kebangsaan yang di dalamnya merangkum berbagai kegiatan kebudayaan untuk membagi pesan-pesan edukasi atas situasi kebangsaan Indonesia kini.

Peluncuran buku dan diskusi itu pun menjadi bagian untuk memerkaya wawasan mengenai keindonesiaan.

Buku yang dilucurkan adalah Negara Melodrama karya Garin Nugroho. Buku tersebut terdiri dari esai-esai populer Garin yang dipublikasi di kolom Udar Rasa Harian Kompas.

Berangkat dari buku itu, gagasan Dongeng Nuswantara bergulir dan mewujud menjadi sebuah pementasan kolaborasi yang merefleksikan situasi sosial, budaya, dan politik negeri ini.

Selain peluncuran dan diskusi mengenai buku tersebut, akan tampil para seniman pendukung, yaitu Tommy F Awuy, Erwin Harahap, Joko Gombloh, Mia Biola, dan kawan-kawan.

Mereka akan membagi pesan kebersamaan dalam merawat kebangsaan serta keragaman persaudaraan Nusantara.

Garin Nugroho, yang lahir di Yogyakarta pada 6 Juni 1952, merupakan sineas yang telah menggenggam sejumlah penghargaan dalam dan negeri berkat film-filmnya.

Film-filmnya, antara lain, Soegija (2012), Mata Tertutup (2012), The Mirror Never Lies (2011), dan Generasi Biru (2009).

Film-filmnya dikenal berciri memiliki nuansa keindonesiaan yang kaya, dengan latar budaya berbagai suku-bangsa di Indonesia, dengan tuturan visual yang apik dan puitik.

2. Obrolan Sukab
Rabu, 20 Maret 2019, pukul 14.00-17.00 WIB

Ini diskusi mengenai buku Obrolan Sukab, karya Seno Gumira Ajidarma, yang diterbitkan pada 2018 oleh Penerbit Buku Kompas.

Ini juga diskusi tentang berbagai hal yang berkait dengan situasi sosial budaya kontemporer di Indonesia, khususnya di Jakarta.

Dalam diskusi tersebut akan berbicara tiga narasumber, yaitu Zen Hae, JJ Rizal, dan Seno Gumira Ajidarma. Yahya Andi Saputra menjadi moderatornya.

Obrolan Sukab memuat esai-esai populer Seno Gumira Ajidarma yang sebagian telah dipublikasi dalam kolom Udar Rasa Harian Kompas serta laman PanaJournal.com.

Esai-esai itu berisi obrolan Sukab bersama konco-konco-nya sesama warga negara kelas bawah: manusia-manusia merdeka yang merasa nyaman dalam keseharian mereka, sebab mereka lebih baik memiliki diri sendiri daripada memiliki semuanya, kecuali diri sendiri.

Seno dan tokoh rekaannya, Sukab, memang ibarat dua sosok yang sulit dipisahkan.

Karakter Sukab juga telah muncul dalam beberapa seri bukunya terdahulu, antara lain Sukab Intel Melayu: Misteri Harta Centini (2002) serta Dunia Sukab: Sejumlah Cerita (2001).

Dalam buku Obrolan Sukab, Seno menarasikan keseharian warga kelas bawah yang acap mengobrol di warung pinggir jalan milik Mang Ayat.

Di sela wangi kopi, jagung rebus, sajian tempe mendoan, sayur bening, sayur asem, cumi asin, sambel korek, sayur toge, dan pepes jamur, Sukab dan teman-temannya sesama kuli dan buruh biasa mengobrol tentang topik-topik kelas atas. Contohnya,  korupsi, tahun baru, politik, nasionalisme, pulang kampung, teroris, intoleransi, dan hak asasi manusia.

- Seno Gumira Ajidarma dilahirkan di Boston, Massachusetts, AS, pada 19 Juni 1958.

Ia bekerja sebagai wartawan sejak 1977.

Dalam kolom-kolomnya ia berbicara tentang kehidupan urban dan dunia politik terkumpul dalam Surat dari Palmerah (2002), Affair (2004), Kentut Kosmopolitan (2008), Tidak Ada Ojek di Paris (2015), Jokowi, Sangkuni, Machiavelli (2016), dan Obrolan Sukab (2018).

Ia menulis secara regular untuk Koran Tempo dan PanaJournal.com, sambil tetap menulis fiksi.

Cerpennya yang dimuat sepanjang 1978-2013 di Harian Kompas terbit sebagai Senja dan Cinta yang Berdarah (2014).

Ia telah menerima sejumlah penghargaan sastra, mengajar kajian budaya kontemporer di berbagai perguruan tinggi, dan masih menyambung cerita silat Nagabumi.

- Zen Hae, yang lahir di Jakarta pada 12 April 1970, aktif sebagai penyair, penulis cerpen, dan penelaah sastra setelah sebelumnya menjadi penulis naskah di Bintang Grup.

Lulusan Jurusan Bahasa dan Sastra IKIP Jakarta (kini Universitas Negeri Jakarta) ini pernah menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta (2006-2012).

Buku-buku yang telah ditulis oleh Zen Hae adalah, antara lain, Rumah Kawin (kumpulan cerpen, 2004) dan Paus Merah Jambu (kumpulan puisi, 2007).

Yang disebut terakhir telah memenangi Karya Sastra Terbaik 2007 dari Majalah Tempo.

- JJ Rizal, yang lahir di Jakarta pada 12 Februari 1975, menyelesaikan kuliah di Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada 1998.

Ia mendirikan Penerbit Komunitas Bambu (Kobam), yang secara khusus menggarap buku-buku ilmu pengetahuan budaya dan humaniora.

Selain menjadi editor buku, ia juga membuat tulisan-tulisan sejarah di berbagai media massa.

Pada 2009, ia mendapat Anugerah Budaya Gubernur DKI Jakarta.

Beberapa karyanya telah dibukukan, antara lain, Politik Kota Kita (2006); Onze Ong: Onghokham dalam Kenangan (2007); Sejarah yang Memihak: Mengenang Sartono Kartodirdjo (2008); dan Raden Saleh: Anak Belanda, Mooi Indie, dan Nasionalisme.

- Yahya Andi Saputra lahir di Jakarta, 5 Desember 1961 dan menamatkan studi sejarah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada 1988.

Ia bergabung dalam Forum Pengkajian Betawi dan Ketua Bidang Pelestarian Batik Betawi.

Sekarang ia juga menjadi anggota Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta.

Mulai menulis puisi, cerpen, resensi, dan ketika SMA, kemudian banyak karyanya dimuat di berbagai media.

Ia juga menulis skenario flm dokumenter khusus tentang budaya Betawi, antara lain Ngelamar Care Betawi, Perkawinan Adat Betawi, Pergi Haji Care Betawi, Silat Beksi, dan Nisfu Sya'ban Betawi, selain beberapa naskah sandiwara Betawi.

3. Sinema Bentara: Betawinya Benyamin Sueb
Jumat-Minggu, 22-24 Maret 2019 mulai pukul 19.00 WIB

Dalam rangka Hari Film Nasional, yang diperingati setiap tahun pada 30 Maret, pada 22-24 Maret 2019 Sinema Bentara dari Bentara Budaya Jakarta kali ini akan memutar sejumlah film yang dibintangi dan disutradarai oleh Benyamin Sueb.

Benyamin, yang lahir di Batavia pada 5 Maret 1939 dan meninggal dunia di Jakarta pada 5 September 1995, merupakan aktor, pelawak, sutradara, dan penyanyi legendaris berdarah Betawi.

Tercatat, sepanjang kariernya, 1950-1995, ia telah mengeluarkan 70-an album musik, lima album lawak, 50-an film layar lebar, dan dua sinetron seri di layar kaca, yaitu Mat Beken dan Si Doel Anak Sekolahan.

Ia juga berbisnis dengan mendirikan radio, Bens Radio.

Sinema Bentara berkonsep misbar alias gerimis bubar, pun juga dipadukan dengan pameran poster film-film Indonesia lawas berikut diskusi mengenai perkembangan film Indonesia dekade 70-80an.

Balai Soedjatmoko Solo

1. Keroncong Bale: Orkes Keroncong Mekar Arum
Jumat, 22 Maret 2019 mulai pukul 19.30 WIB

Orkes Kerocong (OK) Mekar Arum, yang lahir di Kampung Mutihan, Sondakan, Laweyan, Solo, Jawa Tengah, mendapat kesempatan menghibur di Balai Soedjatmoko, Solo.

OK Mekar Arum dibentuk berawal dari kesukaan sejumlah warga muda Kampung Mutihan berkumpul, mengudap, mengobrol, serta menyanyi dan memainkan musik dengan gitar dan cuk di wedangan atau angkringan alias hik (hidangan istimewa kampung).

OK Mekar Arum, yang diresmikan pada 9 September 2009, dihuni oleh sejumlah pemain musik, yaitu Larno (bas), Pithut (celo), Santoso (cak), Ary (cuk), Heru (biola), Kecik (flute), dan Giono (gitar melodi).

Mereka didampingi oleh sejumlah penyanyi, yaitu Sari, Ellyzabeth, Unik, Etty Iswara, Cinta, Giyarto, Suparto, dan Basuki.

Didukung oleh pihak-pihak RT, RW, dan kelurahan, OK Mekar Sari, di bawah asuhan Joko Mono dan Ratno, ditujukan untuk ikut mengembangkan musik keroncong di dalam dan luar Solo.

Bentara Budaya Yogyakarta

1. Jazz Mben Senen: Hyndia
18 Maret 2019 mulai pukul 20.00 WIB

Acara Jazz Mben Senen, yang merupakan buah kerja sama Komunitas Jazz Jogja dengan Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) kali ini akan menghadirkan Hyndia dari Purwokerto, Jawa Tengah.

Band folk-rock itu memiliki enam personel, yaitu Ingtise (vokal), Aga (gitar), Dwcky (gitar), Teponk (gitar), Ijez (keyboard), dan Andunk (drum).

Band tersebut lahir pada 2007. Album pertama mereka, Pagi Berlabuh, dirilis pada 2016. Singel yang sudah dikenal dari album itu juga berjudul "Pagi Berlabuh".

Tahun ini, 2019, Hyndia mengeluarkan album kedua mereka, Winter Song. Sebelumnya, pada 2018, mereka merilis singel "Satu Notasi" dari album itu.

Acara Jazz Mben Senen sudah sampai ke tahun kesembilan penyelenggaraannya pada 2019.

Acara tersebut memberi kesempatan bagi mereka yang terlibat, dengan latar belakang berbeda, untuk membawa budaya masing-masing dan berproses bersama.

Keberadaan Jazz Mben Senen tak lepas dari peran orang-orang muda yang silih berganti ambil bagian sepanjang perjalanan Komunitas Jazz Jogja.

Sejak tahun 2000-an, mereka berkumpul untuk berproses bersama dengan bermusik, tak terkecuali ber-jam session, berpindah-pindah tempat.

Kemudian, pada akhir 2009, kegiatan tersebut mendapat tempat tetapnya di BBY dan dinamakan Jazz Mben Senen.

2. Peluncuran dan diskusi buku Before Too Late
Rabu, 20 Maret 2019 mulai pukul 19.00 WIB

Buku Before Too Late berisi kisah perjalanan Regina Safri selama tiga tahun lebih di hutan Sumatera.

Ada kisah pilu tentang satwa-satwa dilindungi yang hampir punah, kisah suku pedalaman, kisah tentang berbagai kejahatan hutan, dan kebakaran hutan yang menghanguskan beribu-ribu pohon.

Sebagian dari hasil penjualan buku Before Too Late akan disumbangkan ke bayi gajah Erin, yang buntung belalainya karena perilaku biadab para pemburu jahat.

Regina Safri berharap bukunya itu bisa menjadi alat penyebar virus peduli terhadap alam dan masa depan hutan Indonesia.

Dalam diskusi tersebut, bersama Regina, akan hadir Andi Ari dari Gueari Gallery sebagai narasumber. Untuk diskusi itu, Taufan Wijaya akan menjadi moderator.

3. Pameran Memedi Sawah
Sabtu, 23 Maret 2019 mulai pukul 19.30 WIB

Pameran seni rupa Memedi Sawah karya Hari Budiono akan dibuka di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) pada Sabtu, 23  Maret 2019 mulai pukul 19.30 WIB.

Pameran tersebut akan berlangsung pada 24–30 Maret 2019.

Perupa Hari Budiono akan memamerkan 11 karya terbarunya. Sepuluh karyanya berupa lukisan dan satu lagi berupa instalasi.

Semua karyanya itu merespons situasi kini negeri ini.

Hari Budiono menempatkan memedi sawah sebagai simbol teror dalam kondisi kontemporer negeri ini.

Orang-orangan sawah, yang mulanya berfungsi sebagai penghalau hewan hama yang mengganggu tanaman, lalu malah menjadi pengganggu.

"Memedi sawah menjadikan kita saling curiga, saling membenci, saling tak menghargai, selalu merasa menang dan benar sendiri, sehingga kita menjadi manusia intoleran," ujar Hari.

Setelah dipamerkan di Bentara Budaya Jakarta pada 14–23 Februari 2019, Memedi Sawah juga dihadirkan di Bentara Budaya Bali (2-9 Maret 2019), Solo (14-20 Maret 2019), dan terakhir di BBY (23-30 Maret 2019).  
 
Hari Budiono merupakan lulusan Sekolah Tinggi Seni Rupa ASRI Yogyakarta pada 1985.

Ketika pada1982 Jakob Oetama mendirikan Bentara Budaya di Yogyakarta, bersama Sindhunata, GM Sudarta, JB Kristanto, Hajar Satoto, dan Ardus M Sawega, Hari menjadi pelaksana angkatan pertama.

Ia pernah menjadi Wartawan Majalah Bergambar Jakarta-Jakarta (1986-1989 dan 1993-1994), serta menjadi Redaktur Foto Harian Bernas Yogyakarta (1990-1993).

Ia juga menulis feature dan liputan budaya untuk Tabloid Citra, Majalah Intisari, The Jakarta Post, dan Harian Kompas.

Sekarang ia menjadi kurator Bentara Budaya.

Bentara Budaya Bali

1. Sinema Bentara: Kisah Sutradara dan Film Anti Korupsi

Minggu-Senin, 24-25 Maret 2019 mulai pukul 18.00 WITA

Juga dalam rangka Hari Film Nasional, yang diperingati setiap 30 Maret, Sinema Bentara dari Bentara Budaya Bali (BBB) kali ini menyajikan dua kelompok film.

Kelompok pertama berisi tiga film yang tertaut dengan memoar atau kisah mereka yang tumbuh menjadi sutradara.

Asrul Sani dengan Pagar Kawat Berduri (1961), Teguh Karya dengan Di Balik Kelambu (1983), dan Giuseppe Tornatore dari Italia dengan Nuovo Cinema Paradiso (1988), yang merupakan refleksi perjalanan hidup Tornatore sendiri.

Kelompok kedua berisi dua film pendek yang mengandung pesan anti-korupsi, dari Anti Corruption Film Festival (ACFFEST) 2018, yang diselenggarakan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI.

Film-film itu adalah Sekeping Tanggung Jawab (2018, durasi tujuh menit lima detik, sutradara Fitto E Arunfieldo) dan Jimpitan (2018, durasi 12 menit 49 detik, sutradara Wiwid Septiyardi), bekerja sama dengan KPK RI.

Film-film bertema anti korupsi sudah menjadi gagasan dan perhatian para pelopor perfilman Indonesia.

Contohnya, Si Mamad  (Sumandjaja, 1973), Lewat Djam Malam (Usmar Ismail, 1954). Kedua film tersebut telah ditayangkan dalam Sinema Bentara terdahulu.

Jadwal pemutaran:
Minggu, 24 Maret 2019:
- Pagar Kawat Berduri - mulai pukul 16.00 WITA (didukung oleh Pusat Perfilman Sinematek Indonesia)  
- Di Balik Kelambu - mulai pukul 18.30 WITA (didukung oleh  Pusat Perfilman Sinematek Indonesia)
 
Senin, 25 Maret 2019:
1. Nuovo Cinema Paradiso - mulai pukul 19.30 WITA (didukung oleh Konsulat Kehormatan Italia di Denpasar)

2. Film-film ACFFEST 2018:
Sekeping Tanggung Jawab - mulai pukul 19.00 WITA (didukung oleh KPK RI)

Jimpitan - mulai pukul 19.00 WITA (didukung oleh KPK RI)



Close Ads X