Buku Garin Nugroho Diluncurkan, Lagu Mandi Madu Pun Didendangkan

Kompas.com - 19/03/2019, 15:19 WIB
Negara Melodrama, buku karya Garin Nugroho, diluncurkan dalam acara Dongeng Nuswantara, Selasa (19/3/2019) malam di Bentara Budaya Jakarta. Dok Bentara Budaya JakartaNegara Melodrama, buku karya Garin Nugroho, diluncurkan dalam acara Dongeng Nuswantara, Selasa (19/3/2019) malam di Bentara Budaya Jakarta.
Penulis Ati Kamil
|
Editor Ati Kamil

JAKARTA, KOMPAS.com -- Buku Negara Melodrama, karya Garin Nugroho, akan diluncurkan pada Selasa (19/3/2019) malam ini di Bentara Budaya Jakarta.

Buku itu terdiri dari esai-esai populer Garin yang telah dipublikasi melalui kolom Udar Rasa pada Harian Kompas.

Buku terbitan Ganding Pustaka pada 2019 tersebut akan diluncurkan dalam acara berjudul Dongeng Nuswantara, yang akan dilangsungkan mulai pukul 19.00 WIB.

Baca juga: Agenda Seminggu Bentara Budaya: Dari Garin Nugroho hingga Mendiang Benyamin Sueb

Dongeng Nuswantara merupakan dongeng kebangsaan yang merangkum berbagai kegiatan kebudayaan untuk membagi pesan-pesan edukasi atas situasi kebangsaan Indonesia kini.

Untuk acara itu, Garin Nugroho, yang juga dikenal sebagai sineas, akan melibatkan Tommy F Awuy, Erwin Harahap, Joko Gombloh, Mia Biola, Paul Agusta, dan beberapa kawan lain.

Mereka akan membagi pesan kebersamaan dalam merawat kebangsaan serta keragaman persaudaraan Nusantara.

Baca juga: Strategi Garin Nugroho Hadapi Perubahan Zaman

Dalam Dongeng Nuswantara, peluncuran buku Negara Melodrama akan dirangkai dengan diskusi mengenai buku tersebut serta sajian lagu dan puisi.

Sejumlah lagu lama yang terkenal, dengan iringan musik, telah disiapkan untuk disuguhkan oleh para penampil.

Lagu-lagu itu adalah "Seroja", "Fatwa Pujangga", "Ke Bioskop", "Bis Sekolah", "Badai Pasti Berlalu", "Kidung", "Mandi Madu", "Panggung Sandiwara", "Burung Camar", "Melayang", "Kangen", "Bulan Sabit", dan "Santai".

Selain itu ada sajian puisi oleh sutradara dan artis peran Paul Agusta.

Baca juga: Garin Nugroho: Ruang Tumbuh Kreativitas Masih Minim

Garin Nugroho, yang lahir di Yogyakarta pada 6 Juni 1952, merupakan sineas yang telah menggenggam sejumlah penghargaan dalam dan negeri berkat film-filmnya.

Film-filmnya, antara lain, Soegija (2012), Mata Tertutup (2012), The Mirror Never Lies (2011), dan Generasi Biru (2009).

Film-filmnya dikenal berciri memiliki nuansa keindonesiaan yang kaya, dengan latar budaya berbagai suku-bangsa di Indonesia, dengan tuturan visual yang apik dan puitik.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Goenawan Mohamad tentang Gandari, 'Tempo', dan Don Quixote

Goenawan Mohamad tentang Gandari, "Tempo", dan Don Quixote

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Coming Home with Leila Chudori: Dokter Aru tentang Maharaja Segala Penyakit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Coming Home with Leila Chudori: Menjadi Penyair, Membaca Syair Warih Wisatsana

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Coming Home with Leila Chudori: Seno Gumira Ajidarma Membahas Raka Ibrahim

Budaya
Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Coming Home with Leila Chudori Feat. Petty Fatimah: Seorang Sherlock Holmes dari Hong Kong

Budaya
In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

In Memoriam Sapardi Djoko Damono: Sihir Hujan Kata-kata

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Coming Home with Leila Chudori: Robertus Robet, Orwellian dan Kerapuhan dalam Demokrasi

Budaya
Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

Waiting for the Barbarians Rilis: Tak Perlu ke Bioskop, Sekarang Zamannya Nonton Streaming

BrandzView
Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

Musikal di Rumah Aja, Ketika Cerita Rakyat, Musik, dan Film Jadi Satu dalam Panggung Virtual

BrandzView
Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Basri Menyapa Seri 4: Dialog Diri-Lukisan Alfi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Coming Home with Leila Chudori: Menyusuri Pelosok Dunia Bersama Famega dan Sigit

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Coming Home with Leila Chudori: Rocky Gerung Mengupas Gabo

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam 'Sang Keris'

Coming Home with Leila Chudori: Adinia Wirasti Menggenggam "Sang Keris"

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Coming Home with Leila Chudori: Budiman Sudjatmiko, Gwang Ju dan Anak-anak Revolusi

Budaya
Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Coming Home with Leila Chudori: Mira Lesmana dan Budiman Sudjatmiko Berkata tentang Arief Budiman

Budaya
komentar di artikel lainnya
Close Ads X